• Monday, 10 November 2025
  • Surahman Ana
  • 0

Foto: SS Ana Surahman

Wanita Theravada Indonesia (WANDANI) menggelar kelas Basic Dhamma secara online bertajuk “Dhamma sebagai Sumber Kekuatan dan Kedamaian”, pada Selasa (4/11/2025). Kelas ini mengadirkan narasumber PMd. Ir. Selamat Rojali CHt®️, CPS®️, seorang lulusan bidang Agronomi dengan jurusan teknik kloning.  Selamat juga memperdalam Abhidhamma kepada Pandit Kaharudin, Mrs. Nina van Gorkon dari Belanda dan Khun Sujin Boriharnwanaket dari Thailand. Selama belajar Abhidhamma, Selamat juga mempraktikkannya melalui latihan meditasi dengan metode Mahasi, di bawah bimbingan mendiang YM Bhikkhu Girirakkhito dan YM Bhikkhu Thitaketuko.

Wenny Lo, Ketua Umum WANDANI, menyampaikan tujuan kegiatan ini untuk memperdalam pemahaman dan latihan Dhamma, khususnya bagi ibu-ibu Buddhis sebagai sosok yang mempunyai peran penting dalam membentuk karakter dan juga memperkuat keyakinan anak pada Buddha Dhamma .

“Sebagai seorang ibu, peran kita sungguh istimewa. Sejak anak membuka matanya di pagi hari, sampai ia terlelap di malam hari, yang ia lihat dan dengar adalah kita, kata-kata kita, sikap kita, cara kita menghadapi kehidupan. Semoga kita para ibu mampu menjelaskan Dhamma kepada anak-anak dengan cara yang lembut dan sederhana, lewat cerita sebelum tidur, lewat pelukan, lewat tindakan penuh kesabaran. Karena Dhamma yang hidup bukanlah yang dihafal, melainkan yang dipraktikkan dengan kasih setiap hari,” ungkap Wenny.

Memahami Konsep Ketuhanan dalam Agama Buddha: Lebih dari Sekadar “Tuhan yang Personal”

Konsep Ketuhanan dalam Agama Buddha seringkali dipandang secara unik dan berbeda dengan agama-agama lain. Hal ini diungkapkan secara lugas oleh narasumber Selamat Rodjali, ia menjelaskan perbedaan mendasar konsep ketuhanan ini. Ia mengawali dengan sebuah pernyataan yang merujuk pada kitab suci.

“Tuhan dalam agama Buddha seolah-olah tidak ada. Namun, jika kita mengikuti proses penjelasan Tripitaka secara lengkap, mereka yang memahami ketuhanan akan mengatakan bahwa Buddha justru ‘lebih bertuhan’ daripada mereka yang mengenal Tuhan,” ujar Selamat, mengutip pemahaman mendalam dari ajaran Buddha.

Ia kemudian menganalogikan pemahaman manusia tentang Tuhan seperti kisah orang buta menggambarkan gajah. Masing-masing memegang bagian berbeda—ekor, badan, atau kepala—sehingga melahirkan definisi yang berbeda pula. Menurutnya, setiap agama, termasuk Buddha, memiliki konsep ketuhanannya sendiri, dan perbedaan ini adalah hal yang wajar, bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan.

Dari Tuhan Personal menuju Impersonal

Selamat membagikan perjalanan pemahaman pribadinya. Pada masa kecil, pandangannya tentang Tuhan tidak jauh berbeda dengan kebanyakan agama: sebuah entitas yang suka menghukum, jahat, dan pencemburu. Namun, seiring kedewasaan dan pendalamannya pada Agama Buddha, konsep tersebut bergeser.

“Semakin seseorang matang secara spiritual, pandangannya tentang Tuhan menjadi impersonal. Artinya, Tuhan tidak lagi dibayangkan berbentuk seperti manusia, memiliki sifat-sifat manusiawi seperti maha kasih, cemburu, atau menghukum,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa bagi mereka yang perkembangan batinnya masih pada tahap awal, wajar jika mencocok-cocokkan Tuhan dengan gambaran diri mereka sendiri. Namun, spiritualitas yang luhur, terlepas dari agama apapun, akan membawa seseorang pada titik di mana ia tidak lagi mampu membayangkan bentuk atau membatasi sifat-sifat Tuhan dengan atribut kemanusiaan.

Menggugat Konsep “Maha” dan Menemukan Jawaban dalam Panca Niyama

Selamat kemudian mengajak audiens untuk merefleksikan konsep Tuhan yang Maha Tahu, Maha Adil, Maha Kasih, dan Maha Pencipta. “Dalam Agama Buddha, konsep ‘Maha’ ini menemukan padanannya dalam Panca Niyama, yaitu lima hukum alam yang bekerja secara sistematis,” terang Selamat.

Ia memaparkan kelima Niyama tersebut:

  1. Kamma Niyama: Hukum sebab-akibat perbuatan (padanan ‘Maha Adil’).
  2. Utu Niyama: Hukum fisika dan energi (seperti air yang mendidih jika dipanaskan).
  3. Citta Niyama: Hukum proses pikiran dan kesadaran.
  4. Bīja Niyama: Hukum biologis atau keturunan (seperti biji terong tumbuh menjadi pohon terong, berbuah terong).
  5. Dhamma Niyama: Hukum alam semesta yang mencakup fenomena di luar empat niyama lainnya.

“Di agama lain, Panca Niyama ini sering digabungkan menjadi satu konsep Tuhan Yang Maha. Sedangkan dalam Buddha, hukum-hukum ini dijelaskan secara terpisah namun saling berkolaborasi,” tambahnya.

Dengan memahami Panca Niyama, umat Buddha diajarkan untuk bertanggung jawab penuh atas segala tindakannya sendiri.

“Satu contoh ada kasus perselingkuhan hingga punya anak, yang ‘bekerja’ adalah Panca Niyama ini, utamanya hukum kamma. Jika seseorang menyadari akan kamma atau karma, maka individu tersebut harus bertanggung jawab penuh atas tindakannya, bukan menyalahkan Tuhan,” tegas Selamat.

Pemahaman ini, lanjutnya, justru membuat seseorang menjadi lebih kokoh, termasuk dalam kerja sama. Meskipun setiap individu mewarisi karma (Kamma Niyama) masing-masing, kolaborasi dengan sesama diperlukan untuk menciptakan kondisi bagi berbuahnya karma baik dan mencegah karma buruk.

“Inilah yang disebut kepedulian. Selagi karma buruk belum berbuah, kita perlu berkolaborasi untuk menciptakan karma baik. Kepedulian sangat ditekankan dalam Agama Buddha,” imbuhnya.

Asal-Usul Konsep “Maha” dan Pandangan Keliru dalam Brahmajala Sutta

Menurut Selamat, konsep Tuhan dengan sifat-sifat Maha Tahu, Maha Pencipta, dan Maha Kasih sejatinya tercipta dari harapan dan proyeksi manusia. “Manusia ingin memiliki sosok yang sangat cerdas, maka munculah Maha Tahu. Ingin memiliki sesuatu, maka muncul Maha Pencipta. Ingin punya sosok yang sangat baik, maka muncul Maha Kasih,” paparnya.

Ia mengutip Sutta yang menyebutkan lima harapan dasar manusia: ingin kaya, masuk surga, awet muda, panjang umur, dan bahagia. Untuk memenuhi harapan ini, manusia menciptakan sosok “Yang Maha”. Namun, Sang Buddha menegaskan bahwa semua keinginan itu harus dicapai dengan usaha dan kolaborasi, bukan sekadar doa.

Lebih lanjut, Selamat merujuk pada Brahmajala Sutta—khotbah pertama dalam Digha Nikaya—yang menguraikan 62 pandangan keliru (pandangan spekulatif tentang diri dan dunia). Salah satunya adalah kepercayaan pada satu pencipta (Sang Maha Pencipta), yang telah dianut orang-orang jauh sebelum masa Sang Buddha.

“Kisahnya bermula dari makhluk karena kekuatan meditasinya terlahir di alam brahma yang saat itu masih kosong, dan di sana ia berumur sangat panjang. Karena kesepian, ia berpikir ‘semoga ada teman’. Lalu, muncullah brahma lain. Brahma pertama pun mengira dialah pencipta, dan brahma yang kedua juga percaya dan menganggap bahwa brahma pertama tersebut penciptanya,” jelas Selamat, mengisahkan sudut pandang Buddhis tentang asal-usul kepercayaan penciptaan.

Diceritakan dari salah satu brahma yang di alam tersebut meninggal dan terlahir sebagai manusia. Di alam manusia, dia mahir dalam meditasi hingga bisa mengingat satu kehidupan saat ia sebagai brahma. Dan ia juga mengingat bahwa di alam tersebut ada brahma yang ia anggap sebagai penciptanya. Pandangan ini yang kemudian menyebar kepada para manusia.

“Pandangan ini muncul karena keterbatasan pengetahuan. Sang Buddha, yang mampu mengingat banyak kelahiran lampau, mengetahui bahwa Brahma tersebut bukanlah pencipta kekal, melahirkan pandangan ini sebagai salah satu pandangan keliru yang sayangnya masih dipercaya hingga era modern ini,” tuturnya.

Kasih yang Melampaui Batas

Terakhir, Selamat juga memaparkan perbedaan konsep kasih. Jika agama lain sering menekankan “kasih terhadap sesama”, dalam Buddhis cakupannya lebih luas.

“Kita diajarkan untuk mengasihi semua makhluk. Bahkan entitas yang di agama lain dianggap sumber kejahatan seperti iblis atau setan, dalam Buddhisme justru dipandang sebagai makhluk yang sedang menderita, memetik hasil perbuatan buruknya di masa lampau. Mereka pun patut menerima kasih,” pungkasnya.

Dengan pemaparan yang mendalam ini, kelas WANDANI berhasil mengajak peserta untuk merefleksikan ulang konsep ketuhanan dan spiritualitas dalam Agama Buddha, menekankan pada tanggung jawab individu, pemahaman hukum alam, serta kasih universal yang tanpa batas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *