• Tuesday, 24 January 2023
  • Ngasiran
  • 0

Umat Buddha Gunung Kidul peringati hari lahir Sanga Agung Indonesia (Sagin) di Vihara Jhina Dharma Srada, Desa Siraman, Kec. Wonosari, Gunung Kidul, Senin (23/1). Acara ini dihadiri oleh bhikkhu Sangha dan ratusan umat Buddha Yogyakarta dan sekitar.

Bhikkhu Badrapalo, sekretaris wilayah Sagin sekaligus pimpinan Vihara Jhina Dharma Sradha mengatakan, umat Buddha Gunung Kidul sudah rutin menggelar peringatan berdirinya Sagin di vihara ini.

Pada setiap peringatan, umat Buddha mengenang perjuangan Bhikkhu Ashin Jinarakkhita sebagai pelopor kebangkitan Agama Buddha Nusantara. 

“Bhante Ashin adalah pelopor, sosok yang berjasa dalam perkembangan Buddhadharma di Indonesia. Karena itu, di Gunung Kidul hari lahir Sagin yang ditetapkan berdasarkan tanggal kelahiran Bhante Ashin kami gaungkan sebagai hari Kebangkitan Agama Buddha Indonesia,” kata Bhante Badrapalo. 

Perinatan ini tak lain adalah untuk mewarisi semangat Bhante Ashin dan dalam upaya meneruskan perjuangan beliau. “Tujuan malam ini supaya spirit dari Sukong (sapaan Bhante Ashin) menjadi semangat Bapak-Ibu untuk praktik Buddhadharma” lanjut Bhante Palo. 

Kelahiran

Hal senada juga diungkapka Bhante Sasana Bodhi saat memberikan ceramah Dharma. “Bhikkhu Ashin adalah pelopor Sangha Agung Indonesia. Karena keistimewaan Yogyakarta, di sini hari kelahiran Sagin kita peringati sebagai hari Kebangkitan Agama Buddha Nusantara,” jelas Bhante Bodhi.

Narasi kebangkitan agama Buddha ini dianggap penting untuk mengingatkan pada sejarah perkembangan Buddhadharma di Indonesia.

“Perjalanan sejarah itu akan menbangkitkan spirit kebangkitan keyakinan kita, membangkitkan keyakinan kita kepada Buddhadharma. Karena hidup ini banyak yang dijalani, kadang-kadang kita lupa. Jadi perlu digugah, perlu diingatkan.

Begitu juga dengan keyakinan kita juga perlu di gugah, kita ingatkan. Inilah inti dan tujuan acara malam ini,” jelas Bhante Bodhi. 

Kenangan

Mengenang sosok Bhante Ashin, Bhante Bodhi mengatakan bahwa Bhikkhu Ashin adalah sosok yang waskita. Meskipun pada awal perkembangan Buddhadharma di Nusantara umat Buddha sudah mengalami tidur panjang, ajaran Buddha tidak hilang, tetapi menyatu dengan kearifan lokal. 

“Ada yang bercampur dengan Sunda Wiwitan, ada yang bercampur dengan Kejawen. Jadi awal-awal munculnya kembali agama Buddha, karena akarnya masih kuat, Sukong mengakomodasi adat dan budaya Nusantara,” terang Bhante. 

Hal itu terbukti dengan banyaknya penganut kepercayaan yang masuk dan mempelajari agama Buddha pada awal tahun 60’an. 

“Ada yang dari kelompok kepercayaan, dari kejawen, termasuk dari saudara-saudara kita dari Gunung Kidul ini awalnya juga dari penghayat. Tapi karena ketemu rasa yang cocok jadi ikut mempelajari dan menghayati Buddhadharma.”

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara