• Wednesday, 12 February 2020
  • Ngasiran
  • 0

Minggu (9/2/2020), sebanyak 50 umat Buddha Vihara Indraloka, Dusun Dalangan, Desa Sumogawe, Kec. Getasan, Kab. Semarang melakukan anjangsana ke Dusun Krecek. Ini adalah kunjungan umat tahap pertama dengan peserta semua kaum laki-laki.

“Kami melihat mengamati perkembangan dusun maupun umat Buddha Krecek ini sangat baik. Jadi, inti dari kunjungan kami hari ini adalah untuk belajar banyak hal dari masyarakat Dusun Krecek,” kata Utomo, koordinator rombongan.

Sekitar pukul 10:00 pagi, rombongan sampai di Dusun Krecek. Mereka diterima dengan hangat oleh pengurus vihara dan warga di dhammasala Vihara Dhammasarana, Dusun Krecek, Desa Getas, Kec. Kaloran. Setelah melakukan puja bakti dialog dimulai.

“Sampai hari ini, masyarakat Dusun Krecek memang mayoritas memeluk agama Buddha. Kalau ditanya mengenai program kenapa dusun ini bisa maju, ini tak lepas dari semangat warga dalam membangun dusunnya,” jelas Walmin, perwakilan warga Dusun Krecek, mengawali dialog.

Lebih lanjut Walmin bercerita awal-awal perkembangan agama Buddha di Dusun Krecek. “Di sini hampir sama dengan desa-desa di Kaloran, agama Buddha muncul sekitar tahun 1966. Berawal dari para tokoh seperti Mbah Mangun Sudharmo, Mbah Noro dan lain-lain. Kemudian diperkuat oleh Romo Among dari Jogja. Sejak saat itu, masyarakat Dusun Krecek memeluk agama Buddha hingga hari ini.”

“Kemudian kenaapa bisa bertahan hingga sekarang,” lanjut Walmin. “Memang banyak faktor, tapi saya kira lestarinya budaya yang bisa berjalan seiringan dengan Buddhadharma saya kita ini menjadi salah satu kunci.”

Dalam sesi tanya jawab, salah satu peserta bertanya mengenai altar puja yang dibangun di depan-depan rumah umat. “Saya tadi melihat setiap depan rumah warga kan ada altar puja. Bisa minta diceritakan bagaimana ide awal dan kegunaanya untuk apa?”

“Awalnya sederhana, kami membuat lomba penataan lingkungan. Ada tiga lingkungan (RT) di Dusun Krecek, masing-masing lingkungan kami bebaskan untuk menentukan tema lingkungannya. Nah, awalnya dari lingkungan RT 3 yang merupakan tempat keberadaan vihara memilih membuat altar puja. Dalam perjalanan kemudian diikuti oleh warga lingkungan lain.

“Kemudian terkait dengan kegunaanya, memang kami tidak memberi program khusus atau menganjurkan untuk dibuat sembahyang. Tapi rata-rata itu digunakan untuk puja pribadi, menyalakan dupa setiap pagi dan sore hari,” jelas Walmin.

Dialog berjalan sekitar 1,5 jam di vihara. Selesai itu, dengan dipandu oleh kepala dusun dan warga, para tamu diajak jalan keliling lingkungan dusun. Curug Pertapan sebagai destinasi unggulan wisata Krecek juga tak luput dari perhatian.

“Hari ini merupakan hari yang membahagiakan bagi kami, di awal tahun 2020 umat Buddha Vihara Indraloka Dalangan mendapatkan karma baik berkunjung ke Dusun Krecek tepatnya Vihara Dhammasarana yang merupakan Dusun Buddhis. Kami merasakan benar-benar nyaman di tempat ini, tempatnya sejuk dan indah, bersih. Dan yang sangat mengesankan adalah keramahan dan penyambutan penuh cinta mereka pada kami. Selain itu, banyak ilmu dan saran kegiatan yang berguna bagi kemajuan umat Buddha di Vihara Indraloka Dalangan,” kata Utomo terkesan.

Ajangsana ke Dusun Krecek akan kembali dilaksanakan pada tanggal 23 Februari 2020 dengan peserta sekitar 80 orang. “Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga Dusun Krecek, jangan kapok karena tanggal 23 nanti kami akan kembali ke sini dengan rombongan berbeda,” pinta Utomo. Ia berharap persaudaraan antar umat Buddha dalam melakukan kegiatan anjangsana tetap berlanjut dan saling menguatkan.

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara