• Friday, 11 January 2019
  • Deny Hermawan
  • 0

Eksistensi spiritualitas dan mistisisme Jawa yang masih eksis hingga saat ini sangat dipengaruhi oleh spiritualitas Hindu-Buddha yang datang sebelum Islam. Keberadaan Islam di Indonesia atau yang sering disebut sebagai Islam Nusantara pun tak luput dari itu.

Hal tersebut disampaikan Andrea Acri, seorang Assistant Professor, École Pratique des Hautes Études Perancis. Ia menyampaikannya dalam diskusi publik “Hybrid Identities ini Javanese and Malay Mystical Literature” yang digelar di kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa (8/1/2018).

Dalam sesi diskusi berjudul “The Hindu-Buddhist Legacy of Javanese Mysticism” Andrea menjelaskan, dalam berbagai suluk, karya sastra Islami, bisa dilihat bahwa suluk-suluk tersebut kaya dengan unsur-unsur Hindu-Buddha. Nuansa tantra sangat bisa ditemukan dalam karya sastra Jawa era Islam.

“Ini menunjukkan kontinuitas antara Hindu-Buddha dengan Islam di budaya Jawa,” ujarnya.

Menurutnya, budaya termasuk religi di Jawa sangat pluralistik. Kejawen sendiri menurutnya mencoba menyatukan teologi monisme ala Hindu dengan teologi dualistik ala Islam. Religiusitas Jawa sendiri menurutnya sangat bernuansa tantra, ajaran esoterik yang dapat ditemukan baik dalam Hindui maupun Buddhis. Seperti lazimnya praktik tantra, kejawen mengandung unsur magis, menggunakan mantra-mantra, dan mengandalkan unsur kekuatan Dewata untuk meningkatkan kemampuan spiritualitas.

“Tantra ini sangat kuat, dan bisa ditemukan di Islam di Indonesia,” katanya.

Ia mencontohkan Cantang Balung, sebuah ritual di Kraton Solo yang sudah punah dan hanya tersisa simbol-simbolnya saja saat ini. Ritual ini menurutnya sangat tidak Islami, sebab menghadirkan tari-tarian oleh para wanita, memakai ornamen dari tulang manusia, dan menggunakan minuman keras untuk diminum. Justru ini menurutnya mirip dengan ritual tantra Kapalika, yang ditemukan dalam tradisi Siwaistik, dan dapat dijumpai pula dalam tradisi Buddhis Vajrayana tertentu.

Baca juga: Benarkah Agama Buddha Berakar dari Agama Hindu?

“Cantang Balung sesuai dengan ritual tantra yang memakai tulang-belulang manusia untuk ritual,” ujarnya.

Banyak istilah dalam kejawen menurutnya berasal dari tradisi Hindu-Buddha. Kata kasunyatan yang berasal dari sunyata misalnya, bisa dilacak asalnya dari tradisi Buddhis. Kata santri, yang identik dengan Islam pun menurutnya sebenarnya adalah istilah bagi orang yang belajar sastra (kitab suci) zaman Hindu-Buddha.

“Slametan adalah budaya Islam Nusantara yang meneruskan budaya Hindu-Buddha,” ujar dia.

Terkait suluk, ia mencontohkan Suluk Malang Sumirang karya Sunan Panggung yang merupakan murid Syech Siti Jenar, tentunya memuat berbagai gagasan gurunya. Sama seperti gurunya, Sunan Panggung dihukum mati karena dianggap menyebarkan ajaran Islam yang sesat, yakni tentang bersatunya makhluk dan khalik (pencipta). Sebab dalam Islam sudah jelas bahwa khalik dan makhluk adalah dua dzat yang berbeda yang tidak mungkin bersatu. Ini justru ditemukan dalam ajaran Hindu.

Andrea sendiri menduga, tokoh seperti Siti Jenar bukan figur historis, tapi figur kreasi sebagai simbol matinya perspektif Hindu-Buddha di Jawa. Ia juga berpendapat, ide tentang Wali Sanga adalah kelanjutan ide Dewata Nawa Sanga yang sampai kini masih dipuja di Bali.

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara