• Tuesday, 10 March 2015
  • Sutar Soemitro
  • 0

Manusia modern di megapolitan, seperti Jakarta, kerap diburu waktu. Kecepatan menjadi salah satu ukurannya. Terburu-buru merupakan lelaku yang biasa. Padahal, di dalam ketergesa-gesaan itu, demikian banyak hal dilewatkan. Pikiran bercabang dan berlompatan, serta nyaris tidak ada fokus ditekuni.

Begitulah ironi yang pada Minggu (8/3) coba diatasi dalam rangkaian “Sunrise Peacewalk” di lokasi hari tanpa kendaraan bermotor (car free day), pada salah satu sisi Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta.

Dipimpin Bhante Nyanabhadra, puluhan orang berkumpul di muka gerbang kawasan Gelora Bung Karno sejak sekitar pukul 05.00 dan memulai kegiatan itu dengan 10 gerakan kesadaran, sebelum dilanjutkan dengan meditasi berjalan.

Meditasi berjalan, sesuai namanya, dilakukan dalam keheningan, untuk menurunkan kecepatan “berlari” yang cenderung menjadi semacam kebiasaan. Para peserta, sebagian merupakan anggota Komunitas Hidup Berkesadaran, berjalan dengan gerakan lambat.

Menikmati tatkala tapak-tapak kaki beralas kaki berkali-kali menyentuh paras bumi berbatas aspal. Tua, muda, anak-anak, keluarga, pasangan kekasih, ataupun mereka yang datang sendiri berbaur dalam aktivitas pagi itu.

Penuh Keheningan
Jalan kaki secara berkesadaran. Memasuki dunia pelan serta penuh keheningan.

Di antara sejumlah penikmat momentum hari tanpa kendaraan bermotor yang mengisi pagi itu dengan olahraga, perjalanan tersebut dilakoni sampai halte Transjakarta di kawasan Polda Metro Jaya. Tak ada pembicaraan apa pun di antara peserta, kecuali saling mengingatkan untuk berhati-hati terutama ketika ada bus Transjakarta yang hendak melintas.

Kembali ke muka gerbang kawasan Gelora Bung Karno, berpotong-potong roti dibagikan. Lagi, selama menikmati roti, tidak ada sepatah kata pun diucapkan.

Setelah dimulai dengan pukulan di sebuah wadah logam (gong) yang menghasilkan dentingan panjang, sesi makan pun dimulai. Selama sekitar sepuluh menit berikutnya, yang terdengar hanyalah bunyi plastik pembungkus roti yang dibuka serta sedikit gumam dan suara orang-orang di sekitar peserta yang antusias tersebut.

Joni Coa (50) dan Adelia Rais (46) pagi itu berada di antara puluhan peserta yang antusias. Mereka berangkat sejak pukul 04.15 dari kediaman di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat. Bagi mereka, mengikuti momentum seperti itu merupakan kesempatan mengisi kembali energi. Terutama energi untuk berkonsentrasi terhadap hal-hal khusus yang dirasa penting.

Sebagai usahawan di bidang teknologi informasi, Joni mengatakan kesibukan harian berikut beban pekerjaan menumpuk tak jarang membuatnya terlampau capek. Jika sudah begitu, tak jarang ia kehilangan fokus.

20150310 Memasuki Dunia Pelan dan Hening_2

Relaksasi
Karena itulah, dia merasa relaksasi sangat dibutuhkan agar fokusnya bisa kembali. Mengikuti meditasi berjalan, dengan keheningan dan penuh relaksasi itu dirasa sangat dibutuhkannya.

Bhante Nyanabhadra mengatakan, tujuan digelarnya “Sunrise Peacewalk” itu agar bisa menjadi kebiasaan bagi banyak orang. Kebiasaan untuk memulai pagi hari dengan keheningan; karena pagi akan menentukan.

Salah satu metode yang dengan mudah bisa dilakukan adalah dengan melatih pernapasan. Bernapas dengan kesadaran dan penuh perhatian (awareness and mindfulness breathing) yang pada ujungnya akan membantu pikiran untuk tidak melompat-lompat dari satu perhatian ke perhatian lain.

Pikiran yang cenderung cepat berganti-ganti serta tidak fokus itu disebabkan distraksi pada banyak hal yang dimaknai sebagai tuntutan hidup. Kemacetan, banjir informasi dalam gadget dan komputer, hingga beban pekerjaan yang semuanya memberikan dampak merugikan bagi pikiran serta kesehatan fisik.

Bhante Nyanabhadra menambahkan, akibatnya cenderung banyak orang tersesat dalam kondisi yang tengah dijalaninya. Padahal, untuk menghindarinya, yang diperlukan hanyalah tidak perlu membebani pikiran tentang bermacam-macam hal. Relaksasi adalah hasil yang kemudian bisa diperoleh dengan membatasi beragam pikiran dan fokus pada hal yang benar-benar penting saja. “Tanpa ini kita tidak bisa jernih berpikir,” ujar Bhante Nyanabhadra.

Jadi, selamat datang di dunia pelan nan hening. (kompas)

[youtube url=”https://www.youtube.com/watch?v=9ENIkoVYecE” width=”560″ height=”315″]

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *