• Tuesday, 18 June 2019
  • Deny Hermawan
  • 0

Di Indonesia, Bromo merupakan kawasan wisata yang sangat terkenal. Gunung aktif setinggi 2.392 meter bernuansa sakral yang dikelilingi oleh hamparan “pasir berbisik” ini tentunya memiliki daya tarik tersendiri bagi banyak wisatawan domestik maupun mancanegara.

Tetapi membahas Gunung Bromo tidaklah lengkap tanpa mengenal penduduk asli yang hidup di sekitarnya, yakni Suku Tengger. Berbeda dengan penduduk di Jawa Timur kebanyakan, Suku Tengger memiliki kepercayaan, bahasa, serta kebudayaan yang cukup unik. Tradisi yang berkembang di kalangan Suku Tengger memang berkaitan erat dengan Gunung Bromo.

Ada beberapa opini yang menjelaskan tentang asal-usul dari nama “Tengger”. Pendapat pertama mengatakan bahwa istilah “Tengger” berasal dari kalimat Tenggering Budi Luhur yang artinya budi pekerti yang luhur, menggambarkan watak Suku Tengger yang seyogianya. Pandangan yang populer menyebut bahwa nama “Tengger” merupakan kata gabungan dari nama Roro Anteng dan Joko Seger, nama leluhur Suku Tengger, yang berasal dari Majapahit.

Yang jelas, para leluhur Suku Tengger diakui sebagai pelarian dari Kerajaan Majapahit yang runtuh pasca diserang Demak. Mereka mengungsi dan terisolasi di Pegunungan Tengger, tidak tersentuh oleh peradaban luar selama bertahun-tahun.

Berbeda dengan peradaban Jawa lainnya yang telah didominasi oleh ajaran Islam, Suku Tengger masih mempertahankan kepercayaan para leluhurnya dari Majapahit. Salah satunya dapat dilihat di Desa Ngadas.

Ngadas adalah sebuah desa di wilayah Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Berlokasi 48 km dari Kabupaten Malang, Ngadas merupakan satu-satunya desa Suku Tengger yang berada di Malang. Warga Tengger lain berada di Lumajang, Probolinggo dan Pasuruan. Jika mayoritas warga Tengger yang berada di Lumajang, Pasuruan, dan Probolinggo merupakan umat beragama Hindu, justru di Desa Ngadas mayoritasnya adalah Buddhis. Vihara Paramita di Ngadas adalah tempat berkumpulnya umat Buddha setempat untuk melakukan berbagai aktivitas keagamaan.

Mistono selaku Kepala Vihara Paramita Ngadas menjelaskan, keberadaan umat Buddha dapat dilacak sejak awal mula didirikannya Desa Ngadas pada tahun 1774 oleh sekelompok leluhur yang beragama Buddha. Ajaran para leluhur tersebut, meski berlabel Buddha, menurutnya lebih bersifat tradisi, yang dilestarikan hingga sekarang. Tradisi filosofis dan ritualistik leluhur Tengger tersebut memang memiliki perbedaan dengan Buddhis mainstream, atau pada umumnya.

Hingga pada tahun 90-an, dilakukan pembinaan oleh pemerintah dan lembaga yang berwenang, sehingga tradisi Buddhis mainstream menyatu dengan ajaran leluhur Tengger. Vihara Paramita pun didirikan, di bawah naungan Walubi Malang Raya.

“Ada umat Islam masuk, juga ada umat Hindu masuk pada tahun 1990. Sedangkan pada saat itu para sesepuh berpikir bagaimana caranya umat Buddha ini bisa membentengi diri, terus bisa berkembang, caranya bagaimana. Terus kita ketemu dengan Walubi, dikenalkan sama Pandita Haris dari Kota Malang dan kita umat dari Desa Ngadas ini langsung diketemukan dengan Walubi. Dan akhirnya kita dibina oleh Walubi Malang Raya sampai saat ini,” ungkap Mistono kepada Buddhazine, Minggu (9/6) siang di sekitar viharanya.

“Dan perlu kami sampaikan, apa yang menjadi keyakinan kami umat Buddha Ngadas hingga saat ini kami masih bertahan menjadi umat Buddha. Pada dasarnya ini adalah ajaran dari para leluhur, di mana para leluhur itu sudah mengaku agama Buddha. Makanya sampai saat ini saya dan kami umat Buddha Ngadas sebagai generasi selanjutnya terus mengikuti dan keyakinan sudah melekat pada kami sebagai agama Buddha,” tegas Mistono.

Ajaran leluhur

Ajaran leluhur Jawa yang dilestarikan masyarakat Tengger menurut Mistono selaras dengan ajaran Buddha. Karena itu, wajar saja kalau kemudian lahir suatu label Buddhis hibrida yang disebut sebagai Buddha Jawa Sanyata. Agama Buddha yang selain mempercayai mitologi atau filosofi Jawa, dalam ritualnya juga memakai bahasa dan tradisi Jawa.

Yang unik, umat Buddha di Ngadas sehari-hari melaksanakan puja bakti dua kali, pagi dan petang, menjelang mentari terbit dan sesudah tenggelam, sesuai dalam tradisi leluhur. Bisa dilakukan di vihara, atau di rumah masing-masing. Untuk urutan atau prosedur dalam pujabhakti, di pagi hari diawali dengan membakar dupa, lalu memberi hormat kepada para Buddha dan Bodhisattwa, disambung menghormat juga kepada Sang Hyang Ismaya.

“Setelah kita melakukan penghormatan kita berdoa, memohon agar kita diberi kesehatan, murah rezeki, rezeki berlimpah. Dan setelah itu sebagai rasa syukur kita, kita melakukan pujabhakti,” jelasnya.

Tiap hari Rabu, dilakukan pujabhakti rutin di Vihara Paramita. Namun, ada hari khusus, yakni Rabu legi, yang mana selain diadakan kebaktian rutin, ada juga acara sungkem atau sedekah bumi, yang menggunakan sarana sesaji sekul liwet, sesaji nasi tanak ditambah telur ayam kampung. Ini adalah bentuk rasa syukur kepada Gusti Sang Hyang Wenanging Jagat, Hyang Ibu Bumi yang telah memberi kehidupan.

“Kita harus sungkem pada Bumi, karena Bumi ini sama juga yang memberi segalanya, yang memberi kehidupan semua umat manusia. Bumi tidak pernah mengeluh sama sekali, kita injak, kita membuang kotoran ke Bumi ini, namun Bumi ini tidak pernah sama sekali mengeluh,” tuturnya.

Ada juga Unan-Unan, upacara untuk keselamatan yang digelar tiap lima tahun sekali. Selain itu ada upacara setahun sekali, Karo, yang diadakan untuk mendoakan para leluhur yang sudah meninggal. Tiap Kamis Kliwon umat Buddha Ngadas mengadakan syukuran dengan membuat Jenang Katul Leteng, sebagai perwujudan rasa syukur kepada Dang Hyang Tanah Jawa yaitu Dang Hyang Nungsa Mulya Tiyasa.

“Jadi Dang Hyang Nungsa Mulya Tiyasa inilah Dang Hyang-nya Tanah Jawa yang wajib kita wajib bersyukur dengan membuat Jenang Katul Leteng ini,” jelas dia.

Kitab Adam Makna

Tradisi yang berkembang di masyarakat Buddhis Desa Ngadas memang berdasar kitab kuno menggunakan aksara Jawa hanacaraka yang bernama Adam Makna. ini adalah  kitab yang diyakini diturunkan dari Sang Hyang Ismaya atau Semar, tokoh yang sangat familiar dalam pewayangan Jawa.

Di dalam kitab tersebut dijelaskan kalau Sang Hyang Ismaya atau Sang Hyang Semar menitis ke dunia berkali-kali. Dimulai dari Sang Hyang Ismaya, lalu Semar, Umarmaya, hingga Sabdapalon Nayagenggong di jaman Majapahit.

“Sekarang bereinkarnasi dalam perwujudan wadah sebagai Ki Kere Sabda Gedibal,” papar Mistono. Ki Kere Sabda Gedibal sendiri adalah nama tokoh asal Klaten yang menyebarkan ajaran berdasarkan Kitab Adam Makna ke Ngadas tahun 90-an.

Baca juga: Melihat Umat Buddha Ngadas di Gunung Bromo

Menurut Mistono, Kitab Adam Makna kalau diringkas esensinya sama halnya dengan yang ada di Kitab Suci Tripitaka. “Kalau di Tripitaka kan kita diajarkan untuk tidak berbuat jahat, selalu berbuat kebajikan, sucikan hati dan pikiran, nah ini ajaran Buddha. Nah di dalam Adam Makna juga sama ada pepali atau larangan, jangan mengambil kepunyaan orang lain, jangan mengambil yang bukan milik kita, dan seterusnya itu ada tujuh larangan yang hendaknya tidak kita lakukan,” ungkapnya.

Kitab Adam Makna menurutnya mengajarkan beberapa hal esensial terkait perilaku hidup luhur. Di antaranya adalah ajaran Wediya ing Luput, atau Takutlah kepada Kesalahan. Selanjutnya adalah Senajan Bener Nanging Kudu Pener, meskipun kita benar tapi tidak boleh merasa sangat benar, karena harus menurut kondisi di sekitar kita. Ada juga ajaran Sampurna ing budi, di mana perbuatan manusia harus baik dan sempurna. Sementara ajaran Kudu welas marang sepada-padaning urip dan Kudu tepa marang sepada-padaning urip mengajak semua manusia untuk berwelas asih tidak boleh membuat penderitaan kepada makhluk lain.

Adam Makna menurutnya juga memberikan tuntunan di dalam hatinya untuk menyembah Tuhan, sungkem Bumi, dan hormat terhadap empat penjuru mata angin. “Karena dengan Tuhan Yang Maha Esa disebut Sang Hyang Wenanging Jagat itu adalah yang merupakan pencipta dan yang memberi segala-galanya. Yang memberi kita kebahagiaan, yang memberi kita kehidupan, yang memberi kita kesehatan, itu Gusti Sang Hyang Wenanging Jagat, Tuhan Yang Maha Esa,” kata Mistono.

Kebersamaan dan toleransi

Mistono diwawancarai di sela perayaan Dharma Shanti Waisak 2019 yang digelar di Ngadas. Dibandingkan Waisak di tahun-tahun sebelumnya, menurutnya perayaan Waisak di Ngadas kali ini lebih ramai. Sesajian dan makanan yang dihidangkan dalam acara kali ini cukup melimpah.

“Dalam salah satu pembukaan perayaan ini kami mebuat Tumpeng Kabuli, ini dibuat juga sebagai simbol rasa syukur kita. Jadi makna dari Tumpeng Kabuli ini kita bersyukur karena apa yang menjadi harapan kita sudah terkabulkan,” terang pria berbaju adat hitam-hitam dan memakai udeng ini.

“Jadi dua minggu sebelumnya saya pernah bilang sama umat-umat, ‘kita kan sudah mau mendekati Dharma Shanti Waisak dua minggu yang akan datang, nah marilah Ibu Bapak kita menanam kebajikan di tanah yang subur di vihara ini. Dan bagi siapa saja yang telah menanam kebajikan di tanah yang subur di vihara ini, semoga rejeki lancar dan melimpah.’ Dan setelah saya bilang begitu, banyak umat yang peduli dan akhirnya banyak yang menyumbang atau berdana, baik itu berupa uang, persedian bahan makanan seperti beras dan lain sebagainya, dari umat sangat antusias sekali. Jadi itu dari hasil bumi Ngadas terus kita kumpulkan, akhirnya kita bisa melaksanakan bareng-bareng Dharma Shanti Waisak ini,” ungkapnya.

Dana atau sumbangan yang terkumpul menurutnya bersifat sukarela, tidak ditentukan jumlahnya. Pihak vihara juga mengundang umat dari luar Ngadas untuk makan bersama di sini.

“Ini setiap tahunnya diadakan, karena setiap tahun kita mendapatkan rezeki yang melimpah, makanya dalam pembukaan acara ini kita membuat Tumpeng Kabuli. Dan untuk yang kita undang bukan hanya yang satu golongan kita yaitu Buddha Jawa Sanyata, tapi semua umat Buddha, kita tidak lagi memandang sekte, yang penting umat Buddha. Yang penting umat Buddha bagi kami adalah saudara kita dalam satu wadah Ketuhanan ini,” katanya.

Selain mengikuti rangkaian acara Waisak, setahun sekali, umat Buddha Ngadas juga turut mengikuti Upacara Kasada, yang mungkin lebih identik dengan umat Hindu Tengger. Umat Buddha ikut serta menghaturkan sesajian hingga ke kawah Bromo. Kebersamaan antarumat beragama tampak kental dalam acara Kasada, yang digelar tiap hari ke-14 di Bulan Kasada (Kesepuluh), menurut penanggalan Tengger.

“Selain Waisak bagi umat Buddha, di Ngadas ini secara umum ada satu tradisi Kasada yang menjadi ikon wisata spiritual di Ngadas ini. Ini juga sebagai wujud rasa syukur kita, dengan kita membawa hasil bumi seperti kentang, brambang (bawang merah), dan lain-lain yang langsung diserahkan di puncak Kawah Bromo. Itu menandakan rasa syukur kita kepada Para Dewata yang ada di Bromo. Memang dalam hal ini nampaknya tidak ada perbedaan antara Hindu dan Buddha Jawa Sanyata, namun yang membedakan ya mungkin dari ajaran leluhur yaitu Kitab Adam Makna. Karena bagi kami Kasada ini bukan milik salah satu agama saja, tapi ini adalah tradisi leluhur yang memang sudah dari dulu kala dilakukan oleh masyarakat Tengger dan sudah menjadi adat Suku Tengger ini,” paparnya.

Patut diakui, toleransi adalah angin sejuk yang selalu berembus halus di Ngadas. Meskipun berada di pelosok tinggi, kawasan ini mampu mempraktikkan prinsip kebebasan beragama dengan ideal. Ngadas adalah contoh tentang pengelolaan perbedaan keyakinan dalam masyarakat.

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara