Foto: Ana Surahma dan Ngasiran
Temanggung, Sabtu (27/9/2025) – Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha (Bimas Buddha) Kementerian Agama RI, berkolaborasi dengan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN), menyelenggarakan Bimbingan Teknis Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) berbasis Agama Buddha. Acara yang digelar di Wisma Bhikkhu Jaya Wijaya, Temanggung, Jawa Tengah, ini diikuti ratusan ayah dari berbagai vihara di Kabupaten Temanggung.
Dalam kesempatan tersebut, Direktur Bina Ketahanan Remaja BKKBN, Edi Setiawan, S.Si., M.Sc., MSE., hadir sebagai pemateri utama. Ia memaparkan secara rinci peran sentral seorang ayah dalam tumbuh kembang anak dan mengungkap berbagai dampak mengkhawatirkan dari fenomena fatherless atau ketidakhadiran ayah.
Edi membuka pemaparannya dengan menyoroti maraknya isu perilaku menyimpang di kalangan remaja Indonesia, yang salah satu pemicu utamanya adalah absennya figur ayah dalam pengasuhan.
“GATI ini hadir untuk menjawab isu fatherless atau ketidakhadiran seorang ayah untuk keluarga, terutama bagi anak. Faktanya, satu dari lima anak Indonesia kehilangan figur ayah dalam tumbuh kembangnya, mencapai 20,9 persen,” ungkap Edi dalam materinya yang bertajuk “Konsep dan Implementasi GATI”.
Ia mengutip data survei terhadap 7.000 orang untuk memperkuat pernyataannya. “Dari survei kepada 7.000 orang, ternyata tidak sampai 60 persen ayah yang menemani anak-anak belajar. Yang beribadah bersama anak 70 persen, dan fakta-fakta lainnya,” tambahnya.
Edi menjelaskan bahwa stigma di masyarakat Indonesia yang menempatkan ayah hanya sebagai pencari nafkah masih sangat kuat. Akibatnya, tanggung jawab pengasuhan anak lebih banyak dibebankan kepada ibu. Padahal, ketidakhadiran sosok ayah terbukti berdampak signifikan pada pembentukan karakter anak, bahkan dapat memicu dampak negatif yang membahayakan.
“Pengasuhan oleh ibu menurunkan cinta kasih dan empati, sementara kehadiran ayah adalah fondasi bagi karakter anak yang meliputi kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, dan leadership,” jelas Edi.
Ia menekankan, “Maka kalau hanya ibu yang mengasuh, anak akan kehilangan karakter-karakter itu, leadership-nya jadi kurang. Identitas, kepercayaan diri, rasa aman, itu diturunkan dari ayah. Ini sudah ada penelitian dan bukunya dan bisa dibuktikan secara ilmiah. Karakter-karakter ini menjadi modal bagi anak untuk tumbuh dan berkembang.”
Lebih lanjut, Edi menyampaikan bahwa kehadiran ayah juga berpengaruh pada prestasi akademik anak. Menurutnya, anak yang diasuh dengan keterlibatan ayah cenderung memiliki pencapaian akademik yang lebih tinggi. Tidak hanya itu, masalah kesehatan, termasuk isu stunting, juga dipengaruhi oleh ketidakhadiran ayah.
Persoalan kesehatan mental pun turut menjadi perhatian. “Mungkin pernah kita dengar berita tentang anak-anak SD bunuh diri, kasus pembullyan oleh anak-anak, hingga kasus anak-anak memperkosa temannya. Itu semua bagian dari masalah emosi, masalah kesehatan mental. Dan itu semua disinyalir karena ayahnya tidak hadir dalam pengasuhan, ayah hanya fokus mencari nafkah,” ujarnya.
Edi juga memaparkan korelasi antara fatherless dengan kenakalan remaja. Berdasarkan penelitian yang ia sampaikan, anak tanpa figur ayah cenderung menunjukkan perilaku destruktif dan agresif.
“Faktanya, tujuh dari sepuluh remaja laki-laki pengguna narkoba ternyata remaja yang mempunyai konflik dengan ayahnya. Artinya, dia tidak akur dengan ayahnya, tidak pernah diajak diskusi, ditatap, dipeluk, dipuji oleh ayahnya. Akhirnya, dia meluapkan semua itu di luar rumah, salah satunya dengan narkoba,” paparnya.
Risiko lain yang tidak kalah serius adalah perilaku seksual berisiko. “Dalam sebuah penelitian, keluarga yang ayahnya tidak hadir, anaknya cenderung mempunyai perilaku-perilaku berisiko, melakukan seks pra nikah hingga kasus hamil di luar nikah,” lanjut Edi.
Ia juga menggarisbawahi potensi gangguan orientasi seksual pada anak fatherless. Anak perempuan yang tidak mendapat kasih sayang ayah diduga mudah jatuh cinta pada orang yang lebih tua untuk mencari perhatian dan validasi. Sementara, anak laki-laki dalam kondisi serupa dapat merindukan tatapan dan kasih sayang dari sesama jenis, yang turut memicu maraknya isu LGBT.
Edi menyebut fenomena anak dengan mental lemah dan perilaku berisiko ini sebagai “Generasi Strawberry”—tampak cantik di luar namun lemah secara mental, tidak memiliki daya juang, kurang percaya diri, tidak mandiri, dan leadership-nya rendah.

Merespons kondisi ini, Kementerian Agama RI dan Kemendukbangga/BKKBN merumuskan GATI. “Jadi GATI adalah gerakan perubahan perilaku yang ingin mengembalikan peran ayah dalam keluarga, untuk bisa terlibat dalam pengasuhan. Kami ingin bahwa stigma tugas seorang ayah hanya mencari nafkah sama-sama kita ubah,” tegas Edi.
Secara rinci, Edi memaparkan empat indikator Ayah Teladan:
- Interaksi: bermain, menemani belajar, dan beribadah bersama anak.
- Aksesibilitas: dapat dihubungi kapan pun, misalnya melalui video call jika tidak tinggal serumah.
- Tanggung Jawab: memenuhi kebutuhan dasar keluarga dan anak.
- Keterlibatan Domestik: membantu pekerjaan rumah seperti mencuci piring, menyuapi anak, atau mencuci baju.
Untuk mensosialisasikan GATI, Kementerian Agama menggunakan pendekatan melalui tokoh agama, yang dinilai sangat efektif. Materi GATI telah disusun berbasis enam agama.
“Harapan kami, para tokoh dan penyuluh agama bisa membantu mensosialisasikan gerakan ini kepada para umatnya,” ucap Edi.
Ia juga menjelaskan berbagai layanan dan program GATI, seperti:
- Bilik Konsultasi Ayah (Halo GATI): Layanan bercerita dan berkeluh kesah melalui WhatsApp di nomor 0853-5588-7770.
- Perangkulan Komunitas: Memayungi komunitas ayah (seperti komunitas memancing atau merpati) untuk disinergikan dengan program GATI.
- Program Edukasi: Misalnya di Kampung KB.
- SEBAYA (Sekolah Bersama Ayah): Program yang mewajibkan ayah mengantar anak di hari pertama sekolah.
Selain itu, disiapkan pula buku paket edukasi GATI, termasuk buku kumpulan khotbah mimbar berbasis enam agama, serta portal web GATI yang rencananya akan segera diluncurkan.
Edi menegaskan pentingnya peran tokoh agama. “Berdasarkan penelitian, enam dari sepuluh orang dewasa atau para ayah lebih mendengar tokoh agama dibandingkan dengan orang lain. Artinya, tokoh agama di Indonesia masih menjadi sentral.”
Ia mengakhiri dengan apresiasi, “Kami memberikan apresiasi kepada Bimas Buddha, sebagai yang pertama menyambut dan menyelenggarakan acara ini.”
































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































