• Thursday, 3 October 2019
  • Ngasiran
  • 0

Bentang alam perbukitan dengan hutan yang masih terjaga kelestariannya, air terjun, hewan-hewan endemik Belitung, menawarkan nuansa baru wisata Pulau Belitung. Kolam renang lengkap dengan wahana permainan anak, Klenteng dengan arsitektur Tiongkok di tengah bukit dan aneka tanaman buah segar pemanja lidah. Semua tersaji di Agrowisata Wangi Hijau.

Matahari belum mampu menembus awan langit Kota Belitung hingga pukul 07.00 saat Kim Fuk (43) tiba di Hotel Joyful, Jalan Madura, Kota Tanjung Pandan, tempat kami menginap sejak kemarin. Hari itu, Sabtu (28/9) Pria yang menguasai setiap sudut jalanan Pulau Belitung ini akan kembali menemani kami, mengunjungi Agrowisata Wangi Hijau, Desa Nyuruk, Kecamatan Dendang, Belitung Timur.

Dari Tanjung Pandan, pusat Kota Pulau Belitung, Wangi Hijau berjarak sekitar 29 km, dapat ditempuh dengan waktu 30 – 40 menit dengan kendaraan pribadi. Kami memulai perjalanan dari Hotel Joyful pukul 07.10. “Di Belitung tidak ada macet, jadi kita bisa memperkirakan waktu, tak perlu buru-buru,” kata pria yang akrab disapa Aon, menerangkan.

Infrastrukur Pulau Belitung memang tertata rapi, jalanan lebar beraspal mulus, tidak ada lubang, petunjuk arah juga terpampang di setiap sudut peremparan atau pertigaan jalan. Pada hari Sabtu, jalanan lengang, tidak banyak kendaraan melintas, hal ini tak jauh berbeda dengan hari-hari biasa.

Sebuah pemandangan yang  jarang ditemukan di daerah Jawa. Melintasi sepanjang jalanan pulau Belitung, serasa berjalan di sebuah perdesaan Jawa tahun 80’an dengan infrastruktur modern.

Setelah berjalan sekitar 20 menit, kami masuk wilayah Kabupaten Belitung Timur. Suasana Belitung Timur berbeda dengan Tanjung Pandan sebagai Ibukota Pulau Belitung, Belitung Timur lebih sepi. Rumah-rumah warga yang berjejer di kanan dan kiri jalan terlihat saling berjauhan. Hal ini memperlihatkan kalau Belitung Timur belum padat penduduk.

“Pekarangan rumah masyarakat memang masih luas, jadi rumah-rumah seperti berjauhan. Penduduk Belitung juga masih sedikit, ini sudah ditambah masyarakat yang transmigrasi dari Jawa dan Madura” terang Aon. Meskipun begitu, kehidupan masyarakat tetap berjalan harmonis. Perbedaan suku, agama dan budaya nampaknya tak menjadi persoalan bagi masyarakat Belitung untuk hidup bersama dengan penduduk asli Suku Melayu.

Tak saja merasakan ketenangan di tengah kehidupan harmonis. Di Pulau Belitung juga minim tindakan kriminal. “Sejauh saya tau, sangat jarang terjadi pencurian maupun tindakan kriminal lain,” kata Aon memberi kesaksian.

Setelah melewati beberapa desa kami sampai di kawasan Agrowisata Wangi Hijau. Waktu menunjukkan pukul 7.45 saat kami tiba di sana. Mendung masih menyelimuti taman wisata hutan ini, tak lama berselang gerimis tipis datang. Memang, tak jauh berbeda dengan daerah lain di Indonesia, hingga saat ini masih belum pernah turun hujan sejak musim kemarau tahun ini.

“Wah bagus ini, berkah ada orang mau datang hujannya turun. Minimal bisa menghilangkan debu,” kata Pak Aon. Pagi itu, di Agrowisata Wangi Hijau sedang ada bakti sosial pengobatan gratis dan pembagian sembako kepada masyarakat 4 dusun sekitar. Ini adalah penyelenggaraan bakti sosial yang ke-3 sejak wisata ini diresmikan pada tahun 2017.

“Setiap tahun kami ingin berbagi sedikit dari berkah yang kita terima,” tutur Alex Wijaya, pemilik Agrowisata Wangi Hijau. Hal ini sesuai dengan tujuan pengembangan Agrowisata Wangi Hijau yaitu memberi manfaat perekonomian masyarakat dan membantu pengembangan Kabupaten Belitung Timur disektor pariwisata.

Ini juga yang disampaikan oleh Pak Gurdi, kepala Desa Nyuruk. Menurutnya, dengan dikembangkanya sektor wisata Belitung Timur, khususnya di Desa yang ia pimpin memberi manfaat ekonomi kepada warganya. “Tentu kami senang ada investor yang mau mengembangkan wisata di sini. Bisa secara langsung berdampak pada perekonomian warga, ada yang bisa ketema kerja di sini dan otomatis bila ini berkembang, desa kami juga akan banyak dikunjungi orang. Karena itu, saya sangat berharap wisata ini semakin berkembang,” katanya, kepada BuddhaZine.

Wihara Sak San Miaw ikon wisata Wangi Hijau

Mulai dibangun sejak tahun 2007, Wisata Wangi hijau menawarga berbagai spot wisata unik dan menarik. Hutan perbukitan dengan berbagai jenis tumbuhan alami seluas 36 hektar bisa menjadi pilihan bagi jiwa-jiwa petualang. Air terjun bidadari yang keluar dari batuan khas pulau belitung memberikan kesejukan di tengah penatnya kesibukan sehari-hari.

Kolam renang yang dilengkapi dengan wahana permainan anak, mini zoo, aneka tanaman buah; kelapa hijau wangi pandan, jambu lilin madu Thailand, durian montong, jeruk, nanas madu organik langsung bisa dinikmati di tempat. Meskipun berada di tengah hutan, jauh dari pemukiman penduduk, di sini juga ada restoran.

“Konsep kita memang agrowisata, mengembangkan perkembunan buah. Yang paling unik dan hanya ada di sini adalah kelapa wangi pandan,” jelas Toni Wijaya, pengelola Wisata Wangi Hijau.

Selain kelapa wangi pandan, yang menjadi ikon wisata adalah Vihara Sak San Miaw. Wihara ini dibangun di tengah bukit dengan gaya arsitektur Tiongkok. “Kami menawarkan sesuatu yang berbeda, selain wisata alam dengan segala perlengkapanya, pengunjung juga bisa wisata reliji (spiritual), bagi umat Buddha bisa sembahyang di Vihara, sekarang juga ada Musola bagi umat Muslim,” lanjut Toni.

Tetapi yang menarik menurut Toni, setiap tempat memiliki sejarah mistis. Ini juga yang Toni, karyawan dan para pengelola rasakan di Wangi Hijau. “ihara Sak San Miaw misalnya, sebelumnya kami tidak ada rencana untuk memangun wihara. Tapi seperti ada kekuatan yang mendorong kami untuk membuat tempat ibadah ini,” tutur Toni.

Menurut penuturan Toni dan para karyawan wangi hijau, dibangunnya ihara Sak San Miaw berawal dari sebatang kayu besar yang oleh masyarakat Belitung disebut kayu ‘melapis’. Kayu ini sebelumnya tergeletak di dasar jurang, menurut cerita Pak Awi, karyawan yang sejak awal ikut membangun Wangi Hijau menuturkan banyak kejadian mistis dalam mengankat kayu ini. “Kayu itu di dasar jurang, tidak mungkin bisa diangkat hanya oleh 2 orang, karena bobotnya hampir 1 ton. Tapi tiba-tiba sudah di atas truk sendiri, sopir dan dua kernet truk yang waktu itu mengangkut merasa keheranan,” kata Pak Awi, memberi kesaksian.

Kayu tersebut kemudian dikirim ke Jepara untuk diukir. Tetapi cerita mistis tak hanya berhenti sampai di situ. Di Jepara, sang seniman pahat sempat merasa kebingungan untuk mengukit kayu itu. “Senimanya sempat cerita kebingungan mau diapakan, tapi entah mendapat inspirasi dari mana, setelah dibuat jadi patung Datuk Bentayan,” lanjut Pak Awi. Kini patung Datuk Bentaian di tempatkan di salah satu altar dalam Vihara Sak San Miae. Dalam vihara ini juga terpasang rupang Buddha pada altar utama.

Sejak dibuka pada tahun 2017, Wisata Wangi hijau telah ramai pengunjung setiap hari Sabtu, Minggu dan hari-hari libur. Tetapi sebagai tempat wisata yang telatif masih baru, dengan kondisi pulau Belitung yang belum ramai memiliki banyak tantangan dalam pengelolaan wisata. “Kendala kita saat ini harga tiket pesawat ke Belitung mahal, penerbangan masih terbatas jadi pengunjung akhir-akhir ini sedikit berkurang. Kalau dulu, pada hari minggu bisa terjual tiket 200 – 300 bahkan saat rame bisa sampai 600, akhir-akhir ini terjadi penurunan penjualan tiket. Jadi kami berharap pemerintah daerah bisa menudukung dalam hal promosi dan perbaikan infrastruktur, terutama jalan,” harap Toni.

Untuk ke depan, Wangi Hijau akan terus berbenah dan melengkapi fasilitas. Meskipun begitu, Toni tetap optimis jalannya Wangi Hijau, bahkan ia akan menambah fasilitas-fasilitas pendukung. “Kedepan target kami ada penginapan dan sarana meditasi, jadi wisatawan bisa menginap juga juga berlatih meditasi,” pungkas Toni.

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara