• Thursday, 22 October 2020
  • Ancah Yosi Cahyono
  • 0

Watu Ambal adalah situs arkeologis berupa susunan tangga batu yang berada di pinggiran Desa Tlahap, Kecamatan Parakan, Jawa Tengah. Tangga batu dengan orientasi arah timur laut-barat daya ini memiliki kemiringan lebih dari 45 derajat dengan panjang lebih dari 25 meter. Lokasinya di lereng bukit dengan ujung tangga langsung menuju tebing jurang.

Menimbulkan banyak pertanyaan, sebab di sekitar tempat tersebut tidak banyak di temukan peninggalan arkeologis lain. Hanya sebuah lingga semu dan sebuah kemuncak yang menyerupai yasti yang berada di lokasi ini.

Pada kiri kanan bukit tempatnya berdiri diapit oleh dua sungai, Sungai Gedol dan Sungai Galeh di kiri kanan dan kemudian bertemu menjadi satu aliran sungai atau tempuran didepannya.

Tangga batu semacam ini disebut pula dengan nama Ondo Budo yang banyak tersebar di wilayah dataran tinggi Dieng. Namun tidak seperti Ondo Budo yang ada di Dieng ataupun Wonosobo, yang terkesan ditata sekedarnya, Watu Ambal disusun sangat rapi, memiliki lebar yang konsisten, lurus, dengan potongan batu yang presisi.

Watu Ambal dilihat dari atas

Riwayat Temuan

Pada tanggal 15 April 1866 terjadi tanah longsor di sebuah bukit kecil di dekat Desa Tlahap, Parakan, Temanggung. Bersamaan dengan longsoran tanah ini kemudian terlihat 20 anak tangga yang sebelumnya tidak pernah terlihat. Laporan ini segera ditanggapi oleh pemerintah Hindia-Belanda dan memerintahkan untuk melakukan penggalian awal dan berhasil memunculkan 82 anak tangga. Tangga tersebut dilaporkan terbuat dari batu jenis kekuningan, dengan kondisi sangat utuh dan memiliki lebar 2,5 ft.

Temuan tersebut diteruskan kepada pemerintah pusat yang ada di Batavia kala itu, sehingga pemerintah kemudian mengucurkan dana sebesar 500 gulden. Hal itu dilakukan mengingat setahun sebelumnya di Desa Tlahap yang tidak jauh dari lokasi ini juga ditemukan sebuah prasasti dari batu yang terbelah menjadi dua yang berada di bawah pohon.

Penggalian kedua dilakukan pada bulan Juli 1866. Penggalian difokuskan untuk menyusuri arah anak tangga yang ternyata sampai pada tepian Kali Gendol dan memunculkan total 89 anak tangga. Dua anak tangga paling bawah atau terakhir masuk hingga dalam air Sungai Gendol.

Selain itu, para pekerja juga menemukan sebuah pisau (bandol) dan sebongkah besi yang berada dalam tanah di dekat tangga itu. Penggalian ini kemudian di akhiri, karena pemerintah berpendapat jika sudah tidak ada lagi temuan penting yang bisa ditemukan.

Sebagai penelitan lanjutan, pemerintah mengirim G.A Pet yang ketika itu sedang bertugas dan juga memimpin penggalian di Dieng untuk meneliti temuan ini. Penunjukan Pet bukan tanpa alasan, mereka menilai jika Pet sudah sering menangani dan menemui tangga batu sejenis yang ia temukan di Wilayah Dataran Tinggi Dieng.

Januari 1867, Laporan Pet diterima oleh pemerintah Hindia-Belanda. Dalam laporannya Pet menggambarkan secara ringkas temuan di Desa Tlahap tersebut. Tangga berada di antara pertemuan Sungai Galeh dan Sungai Gandol yang keduanya memiliki bibir sungai yang curam. Susunan tangga berorientasi ke arah timur laut-barat daya.

Tangga secara keseluruhan terbentuk dari batuan yang terpotong sangat rapi, susunan tertata sedemikian rupa dan berbeda sekali dengan anak tangga atau lebih akrab dikenal sebagai “Ondo Budo” yang ia temukan di wilayah dataran tinggi Dieng.

Pahatan yang masih sangat rapi ini menimbulkan kecurigaan Pet jika mungkin tangga di Desa Tlahap ini sudah terkubur tidak lama setelah pembangunan. Sehingga tidak ada sedikitpun tanda-tanda bila tangga sudah pernah dipakai ataupun kerusakan serius pada permukaannya.

Pada ujung atas tangga tidak ditemukan apapun, kecuali wilayah dataran yang rata. Sedangkan pada bagian bawah sudah menyentuh bibir sungai dan ia berpendapat bahwa kemungkinan sisa anak tangga lain telah hanyut tersapu air dan tidak memberikan rekomendasi untuk melakukan galian lanjutan.

Temuan tangga ini juga pernah dikunjungi oleh P.J Veth, dan didokumentasikan dalam bukunya Java II, 1877. Di mana ia menulis bilamana mungkin saja dahulu di atas bukit tempat tangga ini berakhir mungkin pernah berdiri sebuag candi yang kini sudah tidak bisa dilihat lagi.

Dua buah kemuncak (?) yang pernah dilihat oleh Knebel

Tempat inipun tidak luput dari perhatian Knebel ketika melakukan pendataan temuan di wilayah Temanggung. Ditemani oleh Wedana Parakan ia mengunjungi Desa Telahap dan mendatangi tangga tersebut. Pada kunjungannya di tahun 1911 ia melihat terdapat dua buah benda yang mirip lingga yang berada di dekat lokasi sekitar tempat ini. Terdapat pula sebuah arca berlengan dua yang sudah tidak dapat lagi dikenali setinggi 0.58 meter.

Saat ini tangga batu di Desa Tlahap tersebut masih dalam kondisi sangat baik. Namun dari 89 anak tangga yang dilaporkan kini hanya tersisa 84 undakan. Sungai Gandol atau sekarang lebih dikenal Kali Gendol yang diberitakan sebagai ujung dari anak tangga alirannya kini telah bergerser jauh puluhan meter dan anak tanngga terakhir yang seolah terputus pada tepian tebing curam setinggi lebih dari 3 meter dari permukaan tanah di bawahnya.

Untuk apa tangga ini dibuat juga masih menjadi tanda tanya dan belum terpecahkan hingga sekarang. Dua buah batu menyerupai lingga yang pernah dilihat Knebel masih ada di lokasi, salah satu batu ini patah menjadi tiga bagian. Batunya diukir sederhana, bagian atas lonjong membulat sedangkan pada bagian pangkal berbentuk persegi. Salah satunya hampir mirip dengan lingga patok namun memiliki ukuran yang jauh lebih besar.

Tidak ditemukannya komponen batuan candi lain ditempat ini menyulitkan untuk sekedar identifikasi, mungkinkah benda ini merupakan sebuah lingga patok yang biasa digunakan sebagai batas tanah sima atau sebuah kemuncak candi.

Lokasi yang berada di antara dua pertemuan sungai Kali Gendol dan kali Galeh juga cukup menarik untuk diperhatikan. Dimana “tempuran” biasanya memang sering kali dipilih sebagai tempat bangunan suci “Di tempat inilah paradewa selalu bermain”, (Bhrat Samhita, LVI. 4). Tetapi seperti yang kita temukan sekarang, di sekitaran lokasi yang berdekatan tidak ditemukan sisa bangunan apapun. Mungkinkah bangunannya terbuat dari bahan organik? Namun bila bahan organik batu menyerupai lingga yang bisa juga sebagai kemuncak yang kita kemukan berukuran cukup besar dan sangat kecil kemungkinannya digunakan sebagai puncak sebuah bangunan dengan bagian bawahnya dari kayu.

Atau seperti dugaan Pet, bila bangunan utama ditempat tersebut telah hilang tidak lama setelah tangga dibuat? Untuk sekedar kembali mengingat, legenda yang beredar pada masyarakat setempat mengatakan apabila “watu ambal” ini tadinya akan dibuat sebuah masjid di waktu malam hari, namun karena terdengar suara ayam dan lesung masjid yang dimaksud tidak pernah dibuat karena waktu yang di syaratkan telah habis.

Mungkinkah legenda ini adalah sebuah ingatan samar dari masyarakat yang masih terekam? Tetapi dugaan ini akan kontras apabila dicocokkan kepada yang di sampaikan oleh Hoepermans 1867, apabila tangga batu ini tidak pernah ada yang menyadari sebelum terjadi longsor pada April 1866.

Mengenai kenyataan tangga yang menuju aliran sungai juga tidak serta merta bisa kita lupakan. Mungkinkah tangga ini dahulu adalah sebuah akses dari atau akan kesungai atau mata air? Cerita dari Brummund mengenai Bimo Lukar mungkin dapat memberikan gambaran. Dimana dahulu terdapat tangga curam nan sempit yang digunakan oleh penduduk guna menuju sebuah mata air (Brummund, 1854).

Keberadaan sungai juga digunakan sebagai sarana transportasi seperti halnya yang diceritakan dalam prasasti Telang 825 S dan juga relief pada Candi Borobudur dan lain-lain. Mungkinkah tangga ini adalah akses dari sungai (perahu) guna menuju daratan?

Memang banyak sekali pertanyaan yang harus dijawab tentang tujuan dan fungsi pembangunan Watu Ambal pada masanya dahulu. Mungkin prasasti yang pernah disinggung oleh Hoepermans dapat memberikan petunjuk, mengingat prasasti inilah yang berada di lokasi paling dekat dengan keberadaan Watu Ambal. Namun sayang keberadaan “saksi kunci” tersebut sekarang entah di mana rimbanya.

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara