• Thursday, 3 January 2019
  • Hendrick Tanu
  • 0

Sudah sering kita mendengar tentang aktivitas Dharma dari guru-guru tradisi Kagyu, Nyingma, dan Gelug khususnya di pulau Jawa, Bali, dan Sumatera. Namun belum pernah ada tradisi Sakya yang mulai diwariskan di Nusantara. Adalah Gongkar Dorje Denpa ke-6, sang pemangku utama silsilah Dzongpa dari tradisi Sakya yang diundang oleh kelompok studi Kalavinka untuk memberikan pengajaran: Abhiseka Grhamatrika dan Lojong Mahasiddha Virupa sebagai pengantar dan pembiasaan sebelum memasuki sistem ajaran Lamdre di masa mendatang, yakni warisan spiritual Buddhadharma yang amat spesial dari tradisi (Sakya Dzongpa). Acara bertempat di Buddhayana Dharmawira Center Surabaya mulai dari tanggal 15 Desember hingga 23 Desember 2018.

Silsilah Dzongpa dalam tradisi Sakyapa memiliki banyak keunikan karena mentransmisikan ajaran-ajaran tantra yang tidak umum (uncommon). Siswa-siswa yang mewarisinya haruslah memiliki fondasi dasar Buddhadharma yang kuat. Tidak semua orang bisa mewarisinya; sejumlah latihan pendahuluan seharusnya diselesaikan terlebih dahulu.

Terkadang dapat dikatakan bahwa tradisi Sakya didirikan oleh 5 Sesepuh Utama namun dapat pula disebutkan 6 figur, yaitu yang ke-6 adalah Lama Dampa Sonam Gyaltsen; seorang patriakh Lamdre yang pertama kalinya menuliskan silsilah ketat ajaran-lisan Lamdre dari Virupa ke dalam suatu volume antologi berjudul “Bundel Hitam”. Silsilah Dzongpa merupakan silsilah yang secara khusus mewariskan dan mempertahankan segala yang tercantum dalam pustaka tersebut.

Astrologi dan Yoga?

Sakyapa adalah tradisi yang utamanya mewariskan ajaran-ajaran Dharma esoterik dari Mahasiddha Virupa, yang juga merupakan salah satu tokoh penting dalam dunia hatha-yoga kuno di India. Salah satu karyanya adalah Amrtasiddhi, kompendium praktik hatha-yoga Buddhis. Melihat kenyataan ini, saya bertanya pada Rinpoche perihal fenomena amat populernya yoga di dunia.

Rinpoche menjelaskan, “Kita melaksanakan yoga-fisik secara amat rahasia, yang dilaksanakan hanya bagi mereka yang telah menerima ajaran Lamdre hingga pada fase tertentu. Yoga adalah praktik spiritual utuh yang bukan sekadar praktik olah tubuh atau pikiran saja, melainkan penyatuan tubuh ucapan dan batin. Di televisi India, kita bisa melihat Baba Ramdev berlatih dan mengajar yoga di hadapan ribuan orang, namun dalam tradisi Sakyapa, praktik yoga demikian sangatlah bersifat rahasia.

“Ketika kita berbicara tentang yoga maka kita sedang berbicara tentang praktik serius menuju pencerahan. Yoga-yoga populer kini cenderung sekadar mengejar bentuk tubuh yang bagus misalnya. Dalam sistem esoterik tantra Buddhis, seorang Guru semestinya memeriksa sang siswa sebelum benar-benar mewariskan ajaran selengkapnya.”

“Dalam Vajkrayana kita bermeditasi pada tubuh ucapan dan batin para makhluk yang tercerahkan. Praktik Grhamatrika tidaklah seperti astrologi pada umumnya. Praktik ini mentransformasikan perspektif kita akan alam semesta sehingga kita tidak tergoyahkan oleh dampak astrologis. Kita melihat fenomena dalam persepsi yang termurnikan untuk memberikan manfaat bagi semua makhluk.”

Mengajar meditasi pada kaum muda

“Anak muda mesti belajar melatih batin menjadi lebih damai dengan welas asih dan latihan memiliki hati yang mulia. Praktik welas asih berdampak positif menyembuhkan batin kita. Secara alami batin akan menjadi terang dan tajam, bebas dari stres dan depresi. Sistem daya tahan tubuh juga semakin menguat melalui praktik altruisme, demikian menurut sains. Jika para anak muda merasakan manfaat dari stres mereka yang berkurang maka mereka akan termotivasi untuk bisa melatih praktik Buddhis lainnya, semakin mantap dan bertekad menghadapi berbagai aral-rintangan.”

Melihat maraknya praktik mindfulness, Rinpoche menekankan pentingnya kita menerima ajaran dari guru yang memenuhi kualifikasi dengan benar. Dengan mengerahkan logika kita secara tepat, kita mampu memutuskan melatih smrti (perhatian) dan vipasyana. Tanpa guru yang tepat, maka praktik mindfulness tidaklah dapat memberikan realisasi-pencapaian yang semestinya, meski tentu bisa saja memberikan beberapa manfaat.

Bagaimana tantra seharusnya dipraktikkan dan diwariskan

“Praktik mantra rahasia membutuhkan kerahasiaan. Jika kita tidak menerima transmisi yang sesuai, dan malah mengobral ajaran-ajaran rahasia kepada khalayak ramai, maka tentu saja halangan rintangan akan timbul. Jika kita menjaga komitmen & kode-etik tantra dan tidak menggembar-gemborkannya kepada publik, maka realisasi siddhi akan kita peroleh dengan cepat. Tanpa abhiseka yang lengkap, maka praktik apa pun yang Anda lakukan tidak akan berarti. Mengajarkan tantra di luar aturan adalah seperti orang buta mengajari orang buta.”

Dalam tradisi Sakyapa, urut-urutan praktik tantra berdasarkan kelas-kelasnya tidak begitu ditekankan. Semua diwariskan tergantung oleh jodoh karma praktisi yang bersangkutan. “Beberapa siswa cocok dengan Tara yang damai, beberapa cocok dengan wujud krodha (murka). Beberapa cocok dengan kelas tantra Kriya, yang lain cocok dengan kelas tantra Anuttarayoga. Tara sendiri juga memiliki aspek dalam kelas tantra Kriya maupun kelas tantra Anuttarayoga. Semua tergantung akan kesiapan sang praktisi.”

Rinpoche juga memberikan saran mengenai kelas-kelas Tantra yang semestinya diikuti. “Secara publik, sebaiknya pemula tidak memulai pelatihannya dengan kelas Anuttarayoga (Niruttarayoga) tantra karena abhiseka terkait dilakukan dengan seleksi yang amat ketat, antara guru dan siswa harus mengenal satu sama lain sehingga hubungan samaya yang murni tetap terjaga. Sebaiknya, pada umumnya para pemula-awam dapat memulai praktik tantriknya dengan Kriya Tantra.”

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara