• Tuesday, 12 December 2023
  • Surahman Ana
  • 0

Foto     : Surahman Ana

Keelokan dan keindahan tarian rakyat lengger dan tari Dawet Ayu menambah kemeriahan perayaan Kathina di Vihara Budi Rahayu, Dusun Bangsari, Desa Wilayu, Kec. Selomerto, Kab. Wonosobo, Minggu (10/12/2023).

Acara yang dihadiri oleh enam anggota Sangha ini menjadi simbol persatuan umat Buddha dari berbagai daerah seperti Temanggung, Banjarnegara, dan juga dari Kabupaten Pati. Para umat dengan penuh khidmat mempersembahkan dana kepada para Bhikkhu Sangha, meskipun hujan tak henti-hentinya mengguyur.

Bhante Dhammasubho, sebagai pengisi pesan Dhamma, tak hanya menyampaikan wejangan yang mencerahkan, tetapi juga mengajak umat untuk merenung dalam menghadapi tahun politik saat ini. Dalam doanya, Bhante Dhammasubho tidak hanya melantunkan harapan kedamaian dalam pemilu 2024, tetapi juga untuk keselamatan bangsa dan negara. Sentuhan kebijaksanaan dan kehangatan dalam kata-kata bhante membuat pesan Dhamma menjadi lebih dekat dan relevan dengan realitas sosial yang dihadapi umat Buddha.

“Semoga pemilu 2024 berjalan aman dan damai, semoga yang menang terhormat dan tidak pongah, semoga yang kalah tetap bermartabat dan penuh berkah, semoga aneka bencana yang melanda bangsa dan negara-negara di dunia segera selesai, semoga semua makhluk berbahagia,” bhante melantunkan doa.

Kathina untuk Memperbaiki Niat

Perayaan Kathina, yang telah berlangsung selama 2567 tahun, dianggap sebagai hari persahabatan, kemenangan, dan kebahagiaan. Bhante Dhammasubho menyatakan bahwa kehadiran Kathina tetap dinantikan oleh umat Buddha di seluruh dunia. Perayaan ini bukan hanya tentang memberikan dana kepada para bhikkhu, tetapi juga menciptakan ikatan erat antara bhikkhu dan umat Buddha.

Dalam refleksi bhante, hubungan antara umat, masyarakat, dan para bhikkhu diibaratkan seperti air dan ikan. “Air bisa tetap ada meskipun tanpa ikan, tetapi kehadiran ikan memberi nilai tambah keberadaan air. Umat bisa tetap ada meskipun tanpa bhikkhu, tetapi kalau umat didatangi, ditemani, dan didampingi bhikkhu, keberadaan umat Buddha menjadi bertambah kemuliaannya,” papar bhante.

Bhante juga memberikan apresiasi kepada umat atas kesungguhan mereka dalam mempersiapkan diri untuk mengikuti Kathina. Keberanian umat yang rela menunggu berbulan-bulan demi memberikan persembahan dana kepada para bhikkhu menjadi bukti kesetiaan dan dedikasi mereka terhadap kebajikan.

“Apa yang sebenarnya dicari oleh para umat, tidak lain adalah berkah, keberuntungan. Karena orang beruntung itu tidak terkalahkan, dan untuk menjadi orang beruntung hanya dengan melakukan kebajikan,” lanjut bhante.

Memperjelas uraiannya, bhante pun menerangkan ajaran yang tertuang dalam Nidhikanda Sutta bahwa, orang yang gemar melakukan perbuatan berdana, memiliki moral dan pegendalian diri, itulah harta sejati, harta karun, harta kebajikan.

“Menurut Sosro Kartono, seorang tokoh sejarah Indonesia yang disegani dunia menyatakan, Wong mulia kui sugih tanpo bondho, nglurug tanpo bolo, menang tanpo ngasorake,” ujar bhante.

“Siapa orang yang seperti disebutkan oleh Sosro Kartono? Itu adalah Sang Buddha,” tambah bhante.

Menurut bhante, Sang Buddha itu kaya tapi tidak kelihatan harta bendanya, vihara-vihara megah dan candi-candi besar dibangun untuk Sang Buddha. Nglurug tanpo bolo, Sang Buddha pergi kemana pun tidak disertai body guard karena Sang Buddha sudah mempunyai pelindung sejati. Yang ketiga, bhante melanjutkan, menang tanpo ngasorake ini juga seperti Sang Buddha, dimana raja, menteri, bupati, gubernur, apalagi upasaka-upasika, ketika bertemu Sang Buddha mereka sujud, sungkem, cium lutut di depan Sang Buddha. Mereka bersujud di lantai, tetapi mereka tidak merasa jatuh harga dirinya, mereka tidak merasa dikalahkan.

Lebih dalam, bhante menjelaskan bahwa esensi setiap perayaan Kathina adalah untuk memperbaiki niat. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling dasar yaitu sandang, pangan, papan, dan kesehatan. Maka dari itu, umat mempersembahkan empat kebutuhan pokok hidup para bhante. Sandang berupa jubah, pangan berupa makanan, papan bisa bangun vihara atau kuti, kesehatan bisa dengan mempersembahkan obat-obatan.

“Lalu apa yang harus dimunculkan dalam memperbaki niat? Semoga saya, keluarga saya, leluhur saya, para bhikkhu, dan semua makhluk hidup selalu berkecukupan dalam sandang, pangan, papan, dan kesehatan,” tutup bhante.

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara