• Wednesday, 7 June 2023
  • Surahman Ana
  • 0

Ribuan umat Buddha ikuti perayaan Waisak di Wisma Bhikkhu Jaya Wijaya Dusun Kalimanggis, Desa Kalimanggis, Kecamatan Kaloran, Kab. Temanggung, Jawa Tengah, Senin (5/6). Acara dimulai pada pukul 19.00 WIB yang dihadiri oleh puluhan anggota Sangha dan Camat Kaloran beserta jajaran.

Juli Ristiana T., Camat Kaloran yang baru beberapa bulan menjabat, menyatakan bahagia bisa hadir dalam perayaan Waisak

“Saya ucapkan terima kasih atas undangan perdana ini, dan saya merasa bahagia bisa hadir dalam acara ini. Semoga dengan momen Waisak ini menjadikan kita aman dan damai, khususnya untuk Kaloran dan Temanggung menjadi ayem tentrem,” ungkap Juli.

Juli juga mendorong umat Buddha untuk terus menjaga dan melestarikan kebudayaan khususnya di Kecamatan Kaloran.

“Saya dengar Kecamatan Kaloran ini kaya akan seni budayanya, dan umat Buddha di Kaloran juga masih sangat menjaga kebudayaan. Mari umat Buddha tetap pertahankan dan lestarikan seni budaya luhur yang ada di Kaloran,” Juli menambahkan.

Selaras dengan yang disampaikan Juli, kebudayaan dan Agama Buddha selalu beriringan utamanya dalam setiap perayaan hari besar. Nampak dalam acara Waisak malam itu, semua panitia dan sebagian besar umat mengenakan busana adat Jawa. Sepanjang acara, group Karawitan Dusun Kalimanggis memainkan alunan gamelan yang sangat merdu . 

Dhammadesana Oleh Bhante Dhammavuddho

Terkait dengan tema Waisak Nasional tahun ini yaitu “Aktualisasikan Ajaran Buddha Dhamma Dalam Kehidupan Sehari-hari”, bhante menjelaskan bahwa pengaktualisasian yang pertama adalah rasa syukur.

“Umat Buddha harus rajin-rajin belajar bersyukur meskipun susah. Seperti halnya para samanera yang hadir di sini, mereka sedang belajar bersyukur dengan segala kesederhanaan hidup. Bagi Bapak Ibu yang bertani, bersyukur dengan berapapun hasil pertaniannya,” bhante mengawali penjelasan.

Aktualisasi kedua menurut bhante adalah menjaga pikiran. Ajaran ini sangat ditekankan oleh Sang Buddha melalui salah satu syair yang berbunyi, “Pikiran adalah pelopor, pikiran adalah pemimpin.” Oleh karena itu bhante mendorong para umat untuk berpikir yang baik.

“Kalau kita berpikir buruk/jahat ya hasilnya buruk, kalau kita berpikir baik ya hasilnya baik. Kenapa harus berpikir baik? Supaya kita punya kedamaian di hati kita masing-masing,” terang bhante. 

Untuk melatih pikiran supaya baik, bhante melanjutkan adalah dengan cara praktik meditasi. Meditasi menjadi penting untuk membersihkan kotoran-kotoran pikiran. Meditasi juga bertujuan untuk melatih konsentrasi supaya bisa cepat dan lebih tajam dalam berpikir.

“Orang yang lebih sering melatih meditasi mereka akan menjadi pribadi yang lebih baik. Oleh karena itu di dalam Waisak bhante mengajak melatih pikiran-pikiran yang baik dengan cara bermeditasi di vihara-vihara,” lanjut bhante.

“Selanjutnya wujud aktualisasi Dhamma adalah memahami ketidakkekalan atau anicca. Contoh, bagi muda-mudi yang putus sama pacar, move on! Jangan sampai murung, apalagi sampai malas kerja. Ini adalah contoh perubahan, jadi harus diingat dan disadari bahwa itu adalah perubahan.”

Aktualisasi lain yang bisa dilakukan adalah melatih Sila atau kemoralan. Bhante menjelaskan, setidaknya ada tiga manfaat yang diperoleh bagi orang yang menjalankan Sila.

“Manfaat menjalankan Sila seperti uraian ajaran Sang Buddha, yang pertama adalah bisa masuk surga. Manfaat kedua bagi orang yang menjalankan Sila, kebutuhan hidup akan terpenuhi. Sementara manfaat ketiga adalah akan tercapai Nibbana. Jadi umat Buddha harus semangat menjalankan Sila,” pungkas Bhante. [MM]

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara