• Monday, 11 May 2020
  • Sunyaloka
  • 0

Perayaan Waisak di Wihara Ekayana Arama (WEA), Jakarta Barat, dan Wihara Ekayana Serpong (WES) tahun 2020 ini berlangsung secara online. Meski demikian, kesemarakan tetap terasa dalam kesederhanaan. EBRC (Ekayana Buddhist Residence Choir) dan Patrick menyemarakkan acara dengan lagu-lagunya. Acara dihadiri oleh Kepala Wihara Ekayana Arama, Bhante Aryamaitri, dan para anggota Sangha lainnya.

Dalam undangan live stream di laman facebook WEA dan WES ada anjuran yang cukup menarik. Tertulis, “Walaupun mengikuti dari rumah masing-masing, kami menghimbau sahabat terkasih agar dapat berpakaian rapi dan sopan selayaknya Anda sedang mengikuti Perayaan Waisak.”

Live stream perayaan Waisak di WEA berlangsung selama satu jam empat puluh tiga menit. Sesi doa dibimbing oleh Suhu Nyanaprabhasa.

Pesan Waisak disampaikan oleh Bhante Dharmavimala dalam bentuk audio visual yang kemudian diputar ke tayangan live stream. Wakil Kepala Wihara Ekayana Arama mengajak umat Buddha untuk melihat bahwa ada Nirwana, yaitu kebahagiaan tertinggi, yang senantiasa dialami Buddha.

Nirwana dibedakan dengan Parinirwana. Istilah Parinirwana digunakan ketika Buddha mangkat. Adapun Nirwana dialami Buddha semasa hidup. Bhante menegaskan, Nirwana tidak ada kaitannya dengan kematian, tetapi dengan kehidupan.

Jadi Nirwana berbeda dengan Surga, alam para dewa, yang dicapai setelah kematian. Nirwana adalah lenyapnya duka, lenyapnya kondisi yang tidak memuaskan. Sementara Surga walaupun menyenangkan dan berlangsung lama tetapi akan berakhir, tidak kekal.

Perubahan dari Surga ke kondisi kehidupan yang tidak seindah Surga, pasti membuat kita tidak nyaman. Ketidaknyamanan yang disebabkan oleh perubahan, saat ini dialami banyak orang dengan adanya dampak pandemi Covid-19.

Bhante kemudian mengingatkan bahwa kita semua memiliki sifat-dasar Buddha, hanya saja tertutup kotoran batin. Oleh karena itu kita sesungguhnya bisa mengalami Nirwana dalam kehidupan sehari-hari, yaitu ketika kita sadar-penuh, manakala tidak ada “sang aku”. Namun ketika kita lengah, kita tentu kembali mengalami duka. Jika kita bisa sadar-penuh setiap saat, maka kita menjadi Buddha yang penuh kedamaian.

Sadar-penuh menjadi penting karena yang harus dikhawatirkan bukanlah munculnya bentuk-bentuk pikiran tetapi keterlambatan kita dalam menyadari kemunculannya.

Bentuk-bentuk pikiran itu merupakan hasil pengkondisian faktor eksternal, bukan “aku” atau “milik aku”. Namun jika kita melekati, maka akan ada niat jahat yang kemudian menjadi pikiran, ucapan, dan tindakan jahat.

Sadar-penuh membuat kita mawas diri dan mampu bertoleransi sehingga menjaga keharmonisan. Mengetahui adanya pengkondisian, kita dapat introspeksi untuk tidak melanjutkan kebiasaan yang negatif. Mengetahui adanya pengkondisian, kita bisa sabar dan mengerti mengapa orang memiliki kebiasaan negatif yang demikian.

Selanjutnya Bhante menyampaikan akibat pengkondisian yang dapat mengganggu keharmonisan:

“Pengaruh informasi yang beragam dari media sosial misalnya, membuat ada orang yang menjadi antipati terhadap tokoh tertentu. Sebaliknya, orang yang lain malah memiliki simpati yang berlebihan terhadap tokoh tersebut.

“Padahal informasi-informasi itu bukanlah kebenaran mutlak, hanya kebenaran relatif, bahkan ada yang hanyalah pembenaran semata. Tetapi orang-orang itu lalu dengan penuh semangat ikut-ikutan menyebarkannya, mencari korban pengkondisian berikutnya.

“Masyarakat pun terbelah. Tidak ada diskusi yang berkualitas untuk bersama-sama mencari solusi.”

Namun ketika kita mengetahui bahwa mereka adalah korban pengkondisian, kita jadi bisa memaafkan, demikian dikatakan Bhante. Kita jadi bisa mentolerir walaupun katakanlah mereka ikut menyebarkan kebencian atau mereka ikut menyebarkan kebohongan.

Selanjutnya Bhante berpesan, sejauh kita bisa, kita harus membantu agar mereka terbebas dari kebiasaan buruk tersebut. Jika ternyata kita tidak dapat mengubah orang lain, ubahlah diri kita; kitalah yang mengubah sikap kita terhadap orang itu. Ini lebih mudah, karena sangat sulit untuk mengubah orang lain.

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara