• Thursday, 16 July 2020
  • Deny Hermawan
  • 0

Para penggemar mainstream jazz –bukan pop jazzy seperti musiknya Tompi atau Tulus– tentunya tidak akan asing dengan nama Herbie Hancock dan Wayne Shorter. Dua nama tersebut adalah “raksasa” di dalam dunia musik jazz. Yang satu adalah pianis, dan yang satu lagi adalah saksofonis.

Terkait keduanya, pada tahun 2016 World Tribune Press telah merilis buku menarik berjudul Reaching Beyond: Improvisations on Jazz, Buddhism, and a Joyful Life. Isinya adalah transkripsi dialog antara Herbie Hancock, Wayne Shorter dan Daisaku Ikeda, tokoh Buddhis dari Jepang yang merupakan Presiden Soka Gakkai International.

Patut diketahui, sebagai seorang pianis dan komposer jazz, Hancock adalah pemenang Grammy sebanyak empat belas kali, termasuk Album Terbaik pada tahun 2008 yang berjudul River: The Joni Letters. Ia adalah artis jazz pertama yang menang dalam kategori ini dalam 43 tahun.

Sementara Wayne Shorter adalah saksofonis sopran dan komposer yang sudah 11 kali memenangkan Grammy. Ia bahkan masih aktif hingga hari ini pada usia hampir kepala 9. Keduanya di tahun 1997 pernah merilis album duet berjudul 1+1, di mana sebuah lagu isinya yang berjudul “Aung San Suu Kyi” memenangkan Grammy untuk Best Instrumental Composition.

Kedua musisi hebat itu merupakan pengikut Buddhis. Karena itu, tak heran jika mereka memiliki kesempatan berdialog dengan Daisaku Ikeda. Keduanya pertama kali bertemu dengan Ikeda pada tahun 1974 dan pembicaraan mereka tentang jazz dan Buddhis telah berlanjut selama bertahun-tahun, baik secara langsung maupun melalui korespondensi.

Sebagai musisi jazz, Hancock dan Shorter berbagi wawasan unik mereka tentang jazz — sejarah dan perkembangannya sebagai kekuatan dialog kreatif yang menyatukan budaya dan orang-orang — pelajaran yang telah mereka pelajari dari legenda jazz seperti Miles Davis dan Art Blakey. Mereka juga sharing tentang peran musik dan budaya dalam mentalitas manusia untuk hidup dengan berani, dan bagaimana Buddhis telah mempengaruhi kehidupan dan karier mereka.

“Meskipun akar jazz berasal dari pengalaman Afrika-Amerika, perasaan saya selalu bahwa jazz benar-benar berkembang dari aspek mulia dari spirit manusia yang umum bagi semua orang — kemampuan untuk merespons keadaan terburuk dan untuk menciptakan sesuatu yang bernilai tinggi, atau seperti yang dikatakan Buddhisme, untuk mengubah racun menjadi obat,” tutur Herbie Hancock.

“Pesan yang saya bagikan kepada orang-orang ketika saya bermain adalah ini: Jangan menghindari konfrontasi dengan yang tak terduga dan tak diketahui,” sambung Wayne Shorter. “Selama pertunjukan, banyak tantangan musik muncul. Justru pada saat-saat itulah saya membahas pertanyaan tentang bagaimana cara terlibat dengan hal-hal yang tak terduga, daripada melarikan diri darinya atau hanya mencari kenyamanan yang dikenal. Juga, saya mencoba untuk memberikan kegembiraan petualangan, yang menyedot semua ketakutan keluar dari ruangan,” imbuhnya.

Sementara itu Daisaku Ikeda beranggapan, musik dan agama berbagi di level terdalam untuk tujuan menginspirasi jiwa manusia. “Suara musik — menggerakkan, membangkitkan semangat, dan memberi keberanian — memengaruhi lebih banyak hal daripada hanya seorang individu. Musik yang menggerakkan jiwa seseorang menyebar dengan tiba-tiba dan menyehatkan hati orang lain yang tak terhitung jumlahnya. Efek riak yang menyegarkan dari karakteristik musik ini menunjukkan cara untuk merevitalisasi dan meremajakan masyarakat,” jelasnya.

Di bagian awal buku, Herbie Hancock juga menegaskan, ajaran Buddha tentang penderitaan itu sangat nyata, dan itu menurutnya adalah sumber kekuatan untuk bertumbuh. Hal ini mirip dengan jazz, yang lahir dari penindasan dan kesengsaraan [orang Afro-Amerika], namun memiliki kekuatan untuk menyegarkan pendengarnya.

“Jazz mewakili kebebasan. Pemerintah yang paling menindas pun tidak bisa menekan kebebasan hati,” kata Hancock.

“Jazz adalah proses kreatif, dialog improvisasi yang dapat dipatahkan melalui kendala dangkal dogma, dekrit, dan mandat,” timpal Wayne Shorter.

“Buddhisme mengajarkan kebebasan hidup yang tertinggi, kebebasan yang tidak terbatas dan tanpa rasa takut,” sahut Daisaku Ikeda.

Obrolan antara tiga tokoh yang tertuang di buku Reaching Beyond: Improvisations on Jazz, Buddhism, and a Joyful Life disatukan oleh tujuan dan cita-cita yang sama. Untuk meninggikan kapasitas manusia yang tak terbatas, mengubah penderitaan menjadi kegembiraan dan menunjukkan bagaimana jazz–bahkan semua seni– dan ajaran Buddha, sama-sama berperan untuk menggerakkan kebangkitan budaya yang menyenangkan di masyarakat abad ke-21.

Deny Hermawan

Editor BuddhaZine, penyuka musik, film,
dan spiritualitas tanpa batas.

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara