• Sunday, 5 January 2020
  • Surahman Ana
  • 0

Jum’at (27/12), sejak matahari belum terbit ibu-ibu sudah sibuk mempersiapkan makanan lengkap dengan lauk dan sayur untuk kemudian di bawa ke tempat pelatihan. Di tempat pelatihan meditasi, mereka menata dengan rapi makanan. Mulai pukul empat para remaja putri, yang rata-rata masih duduk di bangku sekolah SMP hingga SMA, sudah mulai bangun dan membersihkan diri, mengenakan jubah putih, berjalan menuju  satu tempat, berjajar di depan rupang Buddha di sebuah goa kecil.

Para remaja yang kurang lebih tiga puluh anak tersebut sedang belajar untuk menata pikiran mereka dalam sesi meditasi pagi. Belajar untuk diam dalam keheningan. Mereka sedang mengikuti pelatihan atthasila selama kurang lebih enam hari sejak tanggal 24 hingga tanggal 30 Desember 2019 di Dusun Guwo, Desa Blingoh, Kec. Donorojo, Kab. Jepara.

Berbeda dengan pelatihan sebelumnya, kali ini peserta dari luar Jepara nampak lebih banyak di antaranya dari Kecamatan Kaloran, Kab. Temanggung, Kec. Sumowono dan Kec. Salatiga, Kab. Semarang.

“Seneng banget, selain bisa ikut latihan juga tambah banyak kenalan. Memang saya pernah ikut latihan di tempat lain, tapi di sini saya baru pertama kali. Tempatnya lebih menyenangkan dan latihannya juga lebih ketat. Kalau nanti ke depan ada pelatihan di sini lagi saya pengin ikut lagi,” ungkap pelajar SMK SPP Kanisius Ambarawa, Pargiyatun, peserta asal Dusun Semanding, Kab. Semarang.

“Lebih seneng lagi kalau pas sesi materi dari atthasilani dan sesi ulasan Dhamma dari Bhante, tapi kalau pas meditasi saya suka ngantuk,” imbuhnya disertai tawa kecil.

Beberapa peserta pun ada yang sudah kesekian kalinya mengikuti pelatihan namun tak pernah jenuh untuk ikut latihan lagi, salah seorang peserta mengakui selalu mendapatkan pengalaman berbeda dari setiap latihan yang mereka ikuti.

“Ya memang saya selalu ikut setiap ada pelatihan di sini, tapi saya selalu mendapatkan hal-hal berbeda dalam setiap latihan. Yang jelas bertambah teman karena setiap latihan selalu ada peserta baru dari tahun ke tahun dan juga ada tambahan sesi yang sebelumnya belum ada. Saya juga ingin semakin memperkuat keyakinan saya terhadap Buddhadhamma dan menambah ilmu keagamaan saya. Apalagi setiap ada pelatihan ada pengisi materi yang berbeda-beda jadi kita bisa belajar dari banyak guru di sini. Dan tambah asyik lagi ada kali ini Dhammayatranya agak jauh, ke Kopeng Salatiga,” pengakuan Siti Kartika, peserta asal Dusun Guwo, pelajar di SMA 1 Donorojo.

Bangun pagi, meditasi, baca paritta, mendengarkan ulasan Dhamma dan menjalankan atthasila, itulah yang mereka lakukan setiap harinya selama mengikuti pelatihan. Hujan yang turun di sela-sela waktu latihan pun tak menyurutkan semangat mereka untuk menggembleng kedispilinan dan cara hidup sesuai tuntunan ajaran Buddha.

Bhante Khemadhiro dibantu oleh Samanera Dilarjaya membimbing sesi meditasi dan baca paritta serta memantau kedisiplinan para peserta. Sementara dua atthasilani dari STAB Kertarajasa Batu, Malang yaitu Athasilani Upekhadasini dan Athasilani Khantidasini membantu mengisi sesi materi Dhamma.

Pemandangan lain di balik kelancaran latihan ada beberapa ibu-ibu yang tak pernah lelah  mempersiapkan tempat latihan. Sama sibuknya dengan peserta, mereka sudah bangun bahkan sebelum para peserta bangun, mengecek segala keperluan latihan dan selalu siaga kalau-kalau ada peserta yang membutuhkan bantuan.

“Pagi hari sebelum para peserta bangun saya dengan ibu-ibu yang lain harus sudah mempersiapkan keperluan mereka mulai dari membersihkan kamar mandi dan memastikan air di bak mandi tersedia kemudian membersihkan area latihan. Menjelang waktu sarapan dan makan siang kami membantu mempersiapkan tempat makan dan mempersiapkan minuman untuk peserta, nanti pas wktu istirahat malam ya kami membereskan apa saja yang perlu dibereskan setelah dipakai selama latihan siang hari,” tutur Panisah, salah satu relawan.

Sekitar pukul 10.30 WIB para ibu-ibu lain mulai nampak beriringan menyusuri sebuah jalan setapak menuju lokasi latihan. Mereka berduyun-duyun membawakan makanan untuk makan siang para peserta. Sungguh satu wujud dukungan dalam melestarikan dan mengembangkan Buddhadhamma yang patut mendapatkan apresiasi.

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara