• Friday, 21 October 2022
  • Deny Hermawan
  • 0

Di kalangan Buddhis, hingga kini lazim ditemukan perdebatan, apakah Buddha makan daging atau tidak. Ini terjadi terutama di kalangan Theravada kontra Mahayana. Masing-masing mempunyai argumen yang tentunya bisa dilacak sumbernya dari kitab suci masing-masing, baik teks Pali, maupun Sutra Mahayana.

Dalam Digha Nikaya, tercatat bahwa sebelum Buddha Parinibbana, dia mengonsumsi makanan yang diberikan oleh seorang pandai besi bernama Cunda.

Makanan ini terdiri dari bahan-bahan yang disebut sūkaramaddava. Kurang lebih sūkara artinya babi, dan maddava berarti lembut. Uraian dalam kitab ulasan Sumangalavilasani dan Paramatthajotika, menggambarkan makanan ini sebagai daging babi lembut yang dimakan bersama nasi dan olahan tunas bambu.

Namun Karl Eugen Neumann, seorang penerjemah, dalam kata pengantar terjemahan bahasa Jerman kitab Majjhima Nikāya menyebutkan bahwa di kitab ringkasan tanaman obat India yang berjudul Rajanigantu, ada beberapa nama jenis tanaman yang dimulai dengan kata sūkara.

Pakar Candi Borobudur asal Indonesia yang kini bermukim di Amerika Serikat, Hudaya Kandahjaya, mencoba memberikan penjelasan terkait hal ini. Ia melakukannya saat menjawab pertanyaan hadirin di dalam acara Pembekalan Pengetahuan tentang Borobudur bagi Pemandu Wisata Candi Borobudur, Senin, (17/10/2022) pagi di Borobudur Study Center, Magelang, Jawa Tengah.

Hadirin tersebut penasaran, sebenarnya Buddha makan daging atau tidak, karena lazim disebut bahwa makanan terakhir Buddha adalah daging babi.

“Saya kok menyimpulkan, makanan Buddha itu bervariasi, dan beliau sepertinya tidak menjauhi daging,” ujar Mura, perwakilan dari Balai Konservasi Borobudur dalam sesi tanya jawab di acara tersebut.

Foto: Lukisan Cunda sedang menyiapkan babi untuk disantap Buddha di Wat Kasatrathiraj, Ayutthaya, Thailand (Wikipedia)

Hudaya Kandahjaya selaku narasumber menjelaskan, untuk menjawab polemik ini, kita harus kembali menengok tradisi India sejak masa lampau, di mana banyak sekali petapa yang menggantungkan hidupnya dari dana makanan orang lain.

“Kalau Anda pergi ke India, bahkan sekarang, sebagian besar masyarakat India itu vegetarian. Kalau lihat masakan-masakan India, kari, berbagai jenis kari, itu umumnya vegetarian,” ungkap Hudaya.

Sama halnya menurut Hudaya dengan lingkungan masyarakat India pada masa hidup Buddha. Masyarakat sekeliling menurutnya sudah paham kalau para petapa itu lazimnya tidak makan daging.

“Jadi apa yang terjadi dalam kasus [makanan terakhir Buddha] entah itu potongan kaki babi atau jamur atau entah apa, itu ada persoalan istilah, di mana nama itu berarti seperti kaki babi, padahal kemungkinan besar itu adalah jamur,” tegas Hudaya.

Menurut Hudaya, pada masa itu tidak lazim bagi umat untuk menyajikan makanan kepada petapa berupa daging. Kecuali mungkin kalau petapa itu mampir di rumah seorang pemburu.

“Itu persoalannya lain. Tapi kalau di kalangan masyarakat umum yang tahu nilai-nilai cara hidup para petapa, mereka tidak [menyajikan daging],” terang dia.

Ia mencontohkan tradisi Jain yang perkembangannya kurang lebih sezaman dengan Buddha. Kaum Jain yang menyediakan makanan untuk para petapa Jain, juga haruslah seorang vegetarian. “Jadi tidak sembarang,” ungkapnya.

Ia meneruskan, tradisi buddhis tidak berhenti di India, namun menyebar ke berbagai daerah yang tradisi kehidupannya lain. Baru di sinilah terjadi persoalan budaya, sehingga kemungkinan menurutnya tradisi non vegetarian di buddhis itu muncul.

“Jadi kalau kita kembalikan ke alam kehidupan semasa Siddharta Gautama hidup, kemungkinannya kecil kalau mereka [umat] itu mengabaikan [tradisi vegetarian], [dan lalu] memberikan makanan berdaging.”

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara