• Monday, 26 August 2019
  • Ngasiran
  • 0

Banyak cara memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia. Bagi masyarakat Temanggung, Kemerdekaan RI selalu disambut dan dirayakan dengan meriah. Berbagai kegiatan digelar, mulai dari menghias lingkungan, memasang Sang Saka Merah putih, perlombaan, upacara bendera, karnaval dan dilanjutkan dengan pesta rakyat dengan gelaran pentas seni budaya. Semua dilakukan dengan penuh totalitas!

Dusun Krecek, Desa Getas, Kec. Kaloran, Kab. Temanggung ikut dalam Perayaan Kemerdekaan Desa Getas Atas yang digelar di Dusun Porot, Sabtu (24/8). Tak kalah dengan dusun atau desa lain, Dusun Krecek juga mengikuti semua rangkaian peringatan kemerdekaan RI dengan totalitas.

Pujabhakti perayaan dan gendurian digelar di Pendopo Paud Saddhapala Jaya, Jumat (23/8) malam hari sebelum perayaan. Dipimpin oleh Bhante Dhammakaro, seluruh masyarakat perempuan maupun laki-laki membacakan paritta-paritta suci dengan takzim.

Selain masyarakat Krecek, pujabhakti dan gendurian juga diikuti oleh 60 Mahasiswa Universitas Indonesia yang tergabung dalam Keluarga Mahasiswa Buddhis Universitas Indonesia (KMB UI) yang sedang live In di Dusun Krecek selama 8 hari (20 – 27/8).

Selain menyampaikan maksud dari baca paritta selametan perayaan Kemerdekaan, Bhante Dhammakaro yang datang khusus untuk menemui KMB UI juga berpesan kepada warga dan kepada mahasiswa. Menurutnya, kedatangan mahasiswa dari kota memberi manfaat yang besar bagi perkembangan umat Buddha di perdesaan.

“Tahun 90’an orang desa ketika melihat orang kota datang itu seperti ada sesuatu yang aneh. Pada tahun-tahun awal saat saya datang ke Jakarta kemudian ada peresmian vihara di Desa Pakisan saya ajak banyak umat Buddha Jakarta datang. Mereka (orang kota) banyak yang heran kok orang desa ada yang Buddha, bagi orang desa juga heran kok di kota ada umat Buddha?” jelas bhante.

Kedatangan umat Buddha (mahasiswa) dari kota memberi kontribusi besar dalam perkembangan Buddhadharma di perdesaan menurut bhante. Minimal kedatangan mereka memberi motivasi dan semangat dalam menjalankan Buddhadharma.

Sedangkan Suyanto, Manggalia Dusun Krecek yang bertindak sebagai pemimpin selamatan mengatakan bahwa gendurian sebelum perayaan merupakan tradisi yang telah dijalankan secara turun-temurun. “Kita mengingat para pahlawan yang telah gugur dalam pertempuran melawan penjajah. Kita ikut mendoakan supaya para pahlawan, leluhur dan pejuang terlahir di alam bahagia,” katanya sebelum memulai doa.

Perayaan Kemerdekaan Desa Getas Atas diikuti oleh 5 dusun yaitu; Porot, Krecek, Gletuk, Banyu Urip dan Cendono. Masing-masing dusun unjuk kebolehan dalam membuat karya seni untuk diarak dalam karnaval. Panda berukuran besar, landak, ular 100 meter, gunungan hasil tani hingga spongebob terlihat dalam arak-arakan.


Selain itu, simbol-simbol toleransi dalam keberagaman juga terlihat menonjol. Berbagai miniatur rumah ibadah hingga gambaran harmoni tokoh-tokoh agama juga terlihat dalam upacara dan arak-arakan. Tak heran bila perayaan Kemerdekaan RI ke-74 Desa Getas kali ini mengangkat tema Kampung Toleransi Antarumat Beragama.

Totalitas dalam merayakan kemerdekaan dan toleransi dalam masyarakat yang beragam ini mendapat apresiasi dari Brigadir Jenderal Teguh Muji Angkasa, Kasdam IV Diponegoro yang ikut hadir dalam acara ini. “Saya melihat perayaan ini diikuti dengan antusias oleh masyarakat, saya melihat totalitas Anda semua dan saya juga mendengar bagaimana kehidupan harmoni masyarakat desa ini. Ini yang membuat Indonesia semakin kuat, bisa hidup bersama dalam keberagaman,” katanya. Selain Kasdam IV Diponegoro, acara ini juga dihadiri oleh Muhammad Al Khadziq, Bupati Temanggung beserta pejabat Muspida, Muspika setempat.


Memberi kesan mendalam

Perayaan Kemerdekaan dengan segala kemeriahannya memberi kesan mendalam bagi anak-anak KMB UI. Sikap menerima yang lain, menjunjung nilai-nilai kebersamaan dan toleransi yang tergambar dalam pembacaan paritta, makan bersama, karnaval hingga pentas kesenian memberikan kesan yang mendalam. Bagi mereka, ini adalah pengalaman baru yang tidak bisa mereka dapatkan di lingkungan kotanya.

Aurelio (19), mahasiswa semester 3 fakultas kesehatan Universitas Indonesia ini sangat terkesan dengan keterbukaan masyarakat Desa Getas dalam menerima yang lain. “Menurut pengalaman setelah mengikuti karnaval saya merasakan toleransi yang sangat membekas di hati. Saat ini agak sulit menemukan hal seperti itu di kota. Dari karnaval tadi terlihat bagaimana Dusun Krecek dan dusun-dusun di Desa Getas sangat menjunjung tinggi harmoni,” katanya kepada BuddhaZine.

Kesan mendalam juga dirasakan oleh Lissa Putri (19), mahasiswi semester 3 Fakultas Farmasi. Perempuan kelahiran Bali ini mengungkapkan kekagumannya pada sikap dan kepedulian masyarakat perdesaan kepada sesama, juga kepada tradisi budaya.

“Saat mengikuti pujabhakti semalam di pendopo, saya merasakan kebersamaan yang sangat kuat, masyarakat saling merangkul dan yang lebih penting mereka rela meluangkan waktu untuk berkumpul dan melakukan pujabhakti bersama. Pemandangan seperti ini jarang bisa saya temukan, terutama di kota. Saya melihat kepedulian warga terhadap tradisi sangat kuat di sini. Terus pas makan bersama setelah puja bakti, saya benar-benar merasakan suasana yang hangat. Bisa makan bersama, bisa ngobrol dengan orang-orang dan keluarga lain, itu yang saya rasakan tadi malam.

“Dan tadi pagi, ketika sampai di Dusun Porot, saya seneng banget melihat begitu banyak orang yang hadir mengikuti karnaval. Saya melihat berbagai macam kreasi karya seni ditampilkan, ada yang membuat kreasi ular, spongebob, landak, membuat pakaian dari bahan plastik daur ulang yang ini tidak mungkin dapat dibuat dalam satu–dua hari. Di situ saya melihat orang desa ini kreativitasnya sangat tinggi.


“Yang paling mengenang juga bagi saya, ketika momen makan bersama setelah karnaval. Ternyata makanan itu dari dusun Krecek sendiri. Saya jadi teringat tadi pagi Mbokke (sapaan ibu Krecek tempat tinggalnya) membuat 5 nasi kotak, saya sempat berpikir ini untuk apa, ternyata itu untuk makan bersama setelah karnaval. Jadi saya merasakan acara ini melibatkan semua orang, semua orang ikut berpartisipasi.


“Yang terakhir, tadi pas arak-arakkan, ini adalah pertama kalinya saya ikut karnaval. Saya ikut memakai pakaian kuda kepang perempuan, banyak orang melihat saya, mereka tersenyum kepada saya, saya juga balas senyuman mereka dan sepertinya semua orang merasakan suka cita yang mendalam,” tutur Lissa berkisah pengalamannya.

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara