• Tuesday, 20 August 2019
  • Billy Setiadi
  • 0

Memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-74 tahun Komunitas Dialog Kebangsaan Kota Tangerang merayakan dengan dialog dan doa bersama untuk keselamatan bangsa. Mengangkat tema “SDM Unggul, Indonesia Maju” acara dilangsungkan di Gereja Katolik Santo Agustinus Paroki Karawaci, Kota Tangerang. Komunitas Dialog Kebangsaan Kota Tangerang merupakan wadah yang bersifat kultural yang menaungi organisasi-organisasi lintas iman.

Adapun beberapa organisasi yang bergabung diantaranya GP (Gerakan Pemuda) Ansor PAC Cibodas, OMK (Orang Muda Katolik) Komcab Kota Tangerang, HIKMAHBUDHI (Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia) PC Kota Tangerang, Pemuda Konghucu Bio Tangerang, MUSPIJA (Musyawarah Pimpinan Gereja) Prov.Banten dan PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia) Kota Tangerang. Acara ini sekaligus memperingati HUT Gereja Santo Agustinus.

Acara dibuka dengan tarian dan lagu nusantara dari berbagai daerah yang dipadukan dalam drama kebangsaan. Ini untuk mengingatkan kembali bahwa Indonesia merupakan negara yang majemuk, kemajemukan dan kebhinekaan merupakan aset yang dimiliki bangsa Indonesia. Perbedaan menjadi manifestasi pembangunan bangsa, dan bukan untuk diperdebatkan.

Orasi Kebangsaan dimulai dari Romo Clemens Tribawa Saksana (Pastor gereja St. Agustinus) selaku tuan rumah. Romo Clemens menyampaikan bahwa kelahiran manusia bersifat Given artinya tak bisa memilih untuk lahir di mana. Keterbatasan dan keterikatan akan waktu dan tempat kita lahir sebagai manusia menjadi kehendak Tuhan dan itulah yang menjadi dasar toleransi.

Hadir pula KH. Amin Munawar selaku ketua FKUB Kota Tangerang. Dalam sambutannya ia mengatakan bahwa toleransi harus dibarengi oleh 4 pilar kebangsaan yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI sebagai pondasi.  Ia menambahkan bahwa refleksi soal konsensus kebangsaan tercermin dalam acara ini. Ditambah lagi dari pernyataan I Nyoman Subiksa selaku Wakil Ketua PHDI kota Tangerang, ia mengajak semua yang hadir untuk melihat dan mengangkat nilai-nilai universal yang ada dari setiap agama untuk membangun toleransi. Jadi agama tidak bersifat ekslusif, tetapi inklusif kepada semua orang.

Dari Buddhis orasi diwakili oleh Hendra, salah satu penasehat HIKMAHBUDHI PC Kota Tangerang. Hendra lebih familar dikenal dengan Hendra Achonk. Menjadi aktivis Buddhis sejak muda dan sempat menjadi Ketua Patria (Pemuda Theravada Indonesia) Prov. Banten. Achonk yang merupakan salah satu dosen Universitas Budhi Dharma Tangerang ini melihat permasalahan toleransi lebih dalam.

Menurutnya toleransi bisa dimulai dari internal agama masing-masing, dikarenakan intoleransi di internal agama juga terjadi dengan tingkat yang berbeda dimana kaum intoleran masih eksis. Sebagai salah satu perintis komunitas ini, Achonk memikirkan bagaimana nilai-nilai bangsa Indonesia yang begitu indah jangan sampai terkoyak. Salah satu strategi perlawanan terhadap orang intoleran menurutnya yakni dengan cara bergandengan tangan dan mempertunjukkan kepada mereka yang intoleran melalui media sosial yang masing-masing.

Di era modern ini media sosial menjadi sarana yang ampuh untuk mengkampanyekan nilai-nilai kebaikan. Dari sisi komunikasi, media sosial dapat mempersuasi khalayak dengan cara praktis serta mudah, juga jangkauan persebarannya luas.

Sebagai penutup Jajat Sudrajat (Ketua GP Ansor PAC tangerang) yang memoderatori dialog ini mengutip perkataan K.H Hasyim Ashari pendiri dari organisasi Islam terbesar di Indonesia NU (Nahdlatul Ulama) yakni “Hubbul Waton Minal Iman” yang berarti cinta tanah air adalah sebagian dari iman, siapapun yang masih beriman haruslah cinta tanah air.

Komunitas yang bersifat kultural berbasis masyarakat ini memang sangat penting kehadirannya. Yang diinisiasi dari masyarakat untuk masyarakat. Meski dari unsur pemerintahan, sudah ada FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) di setiap kota, nyatanya belum mampu menjawab kasus-kasus intoleransi yang ada. Tetap dibutuhkan peran masyarakat sipil untuk menjaga keutuhan negara.

Ditambah lagi beberapa tahun belakangan ini masifnya kelompok-kelompok yang berusaha mengoyak nilai-nilai kebangsaan bahkan sampai ingin merubah dasar negara. Kegiatan ini menjadi sangat penting untuk kembali berefleksi di usia kemerdekaan yang ke-74 tahun. Di usia setua ini kasus intoleransi masih sering terjadi. Perlu ada semacam perlawanan yang diiniasi oleh masyarakat. Keterlibatan organisasi lintas agama menjadi harmoni sekaligus kekuatan.

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara