• Friday, 28 July 2023
  • Surahman Ana
  • 0

Foto     : Dok. Panitia

Sejumlah pejabat pemerintah Provinsi Jawa Timur hadiri acara opening  Buddhayana Cultural Expo yang dihelat pada hari pertama di Pakuwon Mall Surabaya, Rabu (26/7/2023). Opening event bertema “Persatuan Dalam Keberagaman” ini juga dihadiri puluhan bhikkhu Sangha dan diikuti oleh ratusan umat Buddha dari wilayah Jawa Timur.

Turut hadir dalam acara Pengurus Sangha Agung Indonesia Jawa Timur, Dirjen Bimas Buddha Kementrian Agama RI, Gubernur Jatim diwakili Asissten 1 Pemprof Jatim, Wakil Walikota Surabaya, Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Perwakilan Ketua Umum Majelis Buddhayana, Ketua Majelis Buddhayana Indonesia Jatim, Ketua Permabudhi Jatim, Ketua FKUB Jatim, Ketua Sekber Yayasan-yayasan Buddhayana Indonesia Provinsi Jatim, Ketua Umum Wanita Buddhis Indonesia, Ketua WULAN Bahagia Prov. Jatim, Ketua Sekber Persaudaraan Muda-Mudi Vihara Buddhayana Indonesia Jatim, Ketua Sarjana dan Profesional Buddhis Indonesia Kota Surabaya, serta para donatur. 

Sebelum opening, di hari pertama ini terlebih dahulu dilaksanakan puja relik yang dihadiri oleh sejumlah anggota Sangha. Mengawali acara opening, umat dan para pengunjung disuguhkan Tari Puja persembahan dari Sanggar Tari Gayarti Murti Banyuwangi. Acara dilanjutkan dengan Parade Bendera Badan Otonom Keluarga Buddhayana Indonesia kemudian menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Buddhayana.

Ketua Sangha Agung Indonesia Prov. Jawa Timur, Bhante Nyana Dhammamaitri menyambut baik penyelenggaraan event ini. Ia menilai momentum ini menjadi kesempatan untuk mengenang dan meneladani perjuangan Bhante Ashin dalam mengembangkan Buddha Dhamma.

“Kesempatan ini adalah kesempatan yang sangat bagus untuk kembali mengingat 100 tahun Bhante Ashin di dalam mengembangkan Agama Buddha. Aktifitas kehidupan beliau layak menjadi satu pelajaran bagi generasi saat ini untuk mengembangkan Agama Buddha di Indonesia supaya lebih maju lagi. Acara ini adalah kegiatan khususnya dari muda-mudi yang akan menampilkan kreasi-kreasi yang sesuai dengan jaman saat ini. Mari kita dukung muda-mudi ini,” ujar bhante.

Yan Purnomo Gunawan, Ketua Panitia, melaporkan bahwa dalam event ini akan disajikan pameran edukasi dan kebudayaan. Ia berharap event ini akan berdampak bagi persatuan dan kesatuan masyarakat di Surabaya.

“Dalam acara ini akan menyajikan pameran edukasi megenai sosok Y.M Mahanayaka Thera Ashin Jinarakkhita dan pameran kebudayaan serta sejarah penyebaran Agama Buddha di dunia dan di Indonesia. Besar harapan kami acara ini dapat memberi manfaat, menambah wawasan, dan semakin memperkuat persatuan dan kesatuan dalam kehidupan bermasyarakat di Surabaya,” papar Yan Purnomo.

Ketua Majelis Buddhayana Indonesia Kota Surabaya, Amri, menyatakan bahwa event ini menjadi momen untuk memperkuat tali persaudaraan. “Dalam momen ini bukan semata-mata untuk perayaan, tetapi ini menjadi ajang untuk berkumpul, bersatu, dam memperkuat tali persaudaraan di antara kita,” kata Amri.

K. H. Said Aqil Siroj, Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, merasa sangat terhormat atas undangan pada event ini. Ia menekankan pentingnya mengenang dan mengambil pelajaran dari sejarah untuk memperkuat eksistensi generasi saat ini.

“Saya merasa mendapatkan kehormatan yang luar biasa, dapat menghadiri acara yang sangat mulia ini. Event ini dalam rangka memperingati Hari Asadha dan juga memperingati 100 tahun Bhikkhu Ashin. Ini penting sekali untuk mengenang sejarah agar kita mampu meneladani, mengikuti para tokoh agama kita yang telah mendahului kita. Sangat penting sekali, tanpa mengenang sejarah masa lalu, tanpa mengenang leluhur kita masa lalu, maka eksistensi kita akan keropos, akan mudah hancur,” ungkap Said Aqil.  

Agama yang paling penting, ia melanjutkan, adalah membangun kemanusiaan. Agama yang paling prisnsip adalah membangun persaudaraan.  “Percuma beragama, membangun tempat ibadah yang besar dan mewah, tetapi kalau umatnya tidak bermoral,” tegas Said.

Menurut salah satu pimpinan NU tersebut, agama sebenarnya pertama kali adalah nilai-nilai universal, tetapi lama-lama menjadi doktrin, lalu melahirkan sebuah kelompok komunitas, kemudian terjadi fanatisme. Ketika sudah ada fanatisme, kalau tidak benar-benar mampu memanage kebersamaan akan mudah terjadi konflik.

“Lebih jahat lagi kalau agama sudah menjadi komoditi, dijadikan alat untuk meraih keuntungan politik, ekonomi, suku, kelompok, partai, demi pilpres. Ini merupakan penyimpangan yang amat jauh dari nilai agama, terutama Agama Islam,” kata Said.  

“Mari kita hilangkan kecurigaan, was-was, mari kita bangun persaudaraan yang tulus ikhlas, kembali kepada nilai-nilai universal keagamaan,” Said Aqil mengakhiri sambutan.

Walikota Surabaya Ery Cahyadi melalui M. Afghani Wardhana, Staf Ahli Walikota Bidang Hukum, Politik, dan Pemerintahan meyampaikan apresiasi dan dukungannya atas penyelenggaraan event ini.  

“Buddhayana Cultural Expo ini sangat bermanfaat utamanya bagi kita, untuk menjaga persatuan dan kesatuan warga Surabaya khususnya. Oleh karena itu pemerintah Kota Surabaya sangat mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan ini. Pesan Pak Walikota, kegiatan-kegiatan seperti ini harus terus dikembangkan. Dan seperti halnya dalam Islam dikenal istilah Rahmatan Lil Alamin, bagaimana Agama Buddha ini juga diperkenalkan secara benar dan punya manfaat berkah bagi umat manusia,” papar M. Afghani menyampaikan pesan Walikota Surabaya.

Benny Sampirwanto, Asissten 1 Pemprof Jatim mewakili Sambutan Gubernur Jawa Timur, menilai event ini menjadi wujud tingginya nilai toleransi di Jawa Timur.

“Ini acara penting, karena apa pun yang ditunjukkan akan mendorong anak-anak negeri kita menjadi anak yang bijak. Mewakili pemerintah Provinsi Jawa Timur kami mengucapkan selamat atas terlaksananya kegiatan ini. Kerjakeras sinergitas antara pemerintah dan seluruh komponen di Provinsi Jawa Timur telah menghasilkan capaian yang luar biasa. Pertama, indeks kerukunan di Jawa Timur tahun 2021 mencapai 77,8%, ini menempatkan Jawa Timur di urutan pertama di Pulau Jawa sebagai Provinsi Toleransi. Indeks demokrasi mecapai 81,3% menempatkan Jawa Timur pada peringkat kedua setelah DKI Jakarta, artinya hidup di Jawa Timur itu kalau kata Pak Dirjen ayem tentrem,” jelas Benny.

Jeda sesi sambutan, para hadirin disuguhkan penampilan memukau tarian Gandrung persembahan Sanggar Tari Gayatri Murti Banyuwangi. Acara dilanjutkan sambutan dari Dirjen Bimas Buddha Kementrian Agama RI, Supriyadi. Ia berharap melalui event ini dapat memperkenalkan Agama Buddha kepada masyarakat umum dengan lebih baik.

“Semoga dengan Buddhayana Cultural Expo ini, Buddha Dhamma dapat dikenal dan dimaknai oleh masyarakat di luar umat Buddha dengan baik. Sehingga kehidupan beragama di Kota Surabaya dan di Jawa Timur ini akan terjalin dengan baik, harmonis dan toleran,” ujar Supriyadi.

Usai sesi sambutan, dilakukan pembukaan secara resmi Budhayana Cultural Expo 2023 dengan menyentuh layar LED oleh segenap tamu undangan. Menjelang akhir acara, dilaksanakan penyerahan plakat penghargaan kepada para tamu undangan dan sesi foto bersama. Acara ditutup dengan doa pembuka oleh Bhante Nyanasila.

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara