• Monday, 31 May 2021
  • Surahman Ana
  • 0

Suasana khusyuk, adem, dan nyaman begitu terasa saat lantunan sutta yang dibacakan oleh setidaknya 15 orang di dalam Vihara Bodhi Dharma Loka Dusun Kendal, Desa Gandon, Kecamatan Kaloran, Temanggung, memenuhi seluruh ruangan Dhammasala. Umat rata-rata sudah sepuh tetap menunjukkan semangat dan keteguhan keyakinannya terhadap Triratana menjelang malam Waisak pada Selasa (25/05).

Menyambut Hari Raya Waisak tidak selalu harus dengan keramaian dan banyak pesta, bagi umat Buddha Kendal melakukan pujabhakti bersama dan diakhiri dengan sesi syukuran sudah menghadirkan kebahagiaan dan kedamaian tersendiri di hati para umat. Apalagi di tengah-tengah kondisi pandemi ini, mereka justru menjadikan momentum ini untuk lebih merekatkan rasa kekeluargaan di antara umat. Setelah kurang lebih satu jam mereka merapalkan sutta-sutta di depan altar Buddha, mereka melanjutkan dengan menggelar kendurian syukuran di belakang ruangan Dhammasala.

Sederhana memang kendurian yang mereka lakukan, setiap umat membawa bekal sesuai kemampuan dan selera sendiri-sendiri dari rumah untuk kemudian dimakan bersama di vihara. Bisa saling mencicipi dan berbagi satu sama lain.

Membaca sutta sebelum makan, menggemakan nada-nada penyejuk hati di tengah keheningan ruangan, raut kebahagiaan berhias senyum kedamaian terpancar dari wajah para umat. Sebuah senyum langka yang diharapkan semua orang bisa menemukannya. Itulah yang menjejali sempitnya sebuah ruangan namun menjadi terasa begitu lapang.

Mereka nikmati sesuap demi sesuap nasi dan teman-temannya dengan penuh rasa syukur, diselingi obrolan kecil saling menawarkan makanan. Penuh antusias seorang kakek berusia kurang lebih 70 tahun menawarkan makanan kepada teman kanan kirinya. Sedang di salah sudut ruangan seorang nenek yang sudah menjelang lansia dengan semangat menata makanan supaya lebih mudah dijangkau para tetangga yang ingin mencicipi buah tangannya.

Sementara umat di dalam ruangan melaksanakan ritual syukuran, udara dingin di luar ruangan menyelimuti sekitar vihara di bawah temaram sinar bulan yang meremang tertutup mendung tipis.

Suasana sunyi, seakan alam sedang mempersilakan bulan untuk menyampaikan restu serta berkahnya di malam menjelang Waisak kepada para umat.

Akhirnya berkah keharmonisan pun muncul seusai kendurian, seorang umat paling muda nampak dengan ramah menuntun seorang lansia keluar vihara dan pulang ke kediaman.

Malam itu ditemani teh hangat, cemilan, dan lintingan, beberapa umat; Pak Warsinah, Mbah Amrih dan Pak Sumedi saling berbagi cerita mengusir sunyinya suasana di teras vihara. Pak Amrih mengisahkan bagaimana kondisi umat Buddha di Dusun Kendal saat ini.

“Ya meskipun di sini hanya tersisa yang tua-tua tapi karena kami sudah mapan menganut ajaran Buddha, kami bertahan sampai saat ini. Walaupun saya ini di keluarga cuma sendiri sebagai umat Buddha, tapi saya tetap bahagia, lebih bagus lagi kalau bisa sampai tutup usia tetap mengenal ajaran Buddha,” ungkapnya.

Kegiatan umat terlihat aktif, agenda mingguan untuk umat satu Dusun dan agenda lapangan untuk acara gabungan semua vihara di Desa Gandon.
“Jadwal pujabhakti rutin di vihara setiap malam Jumat, kalau untuk kegiatan gabungan vihara-vihara sedesa Gadon setiap 35 hari sekali secara bergiliran,” sambung Pak Warsinah.

Hal menarik dari kegiatan gabungan adalah tidak lagi memandang sekte, di Desa Gandon sendiri paling tidak ada tiga sekte agama Buddha namun tetap bisa menjalin kegiatan bersama.

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara