• Wednesday, 31 July 2019
  • Billy Setiadi
  • 0

Siapa sangka di Kota Malang tepatnya di Kecamatan Sukun terdapat cetya yang terselip di antara himpitan permukiman padat penduduk. Letaknya tak jauh dari Pasar Gadang. Akses menuju cetya pun tak bisa dilewati oleh mobil. Hanya bisa dilalui oleh sepeda motor dan jalan kaki.

Uniknya di dalam Gang 7a, Jl. Kolonel Sugiono terdapat tiga tempat ibadah yang areanya semua dalam satu jalan. Di bibir gang terdapat gereja, GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan), pada bagian tengah ada masjid serta musala, dan di bantaran sungai/kali berdiri Cetya Dhamma Bhava.

Sebagian besar masyarakat Malang relatif toleran dan saling menjaga kerukunan. Cukup sulit untuk mencari keberadaan cetya ini jika tak bertanya-tanya pada warga sekitar. Karena letaknya di bantaran sungai yang posisinya tak terlihat di jalanan utama gang ini.

Namun ketika penulis mendatangi cetya tersebut, ternyata cetya dalam keadaan tertutup dengan kondisi listriknya tak menyala. Tak jauh dari cetya, terdapat pos kamling yang dipakai biasanya untuk rapat serta ronda warga sekitar. Penulis kemudian bertanya-tanya tentang keadaan cetya itu.

Warga sekitar mengatakan bahwa beberapa tahun belakangan, cetya sudah jarang dipakai untuk melakukan kegiatan peribadatan. Apalagi semenjak penjaga cetya yang bernama Pak Ran yang biasa membersihkan cetya ini telah meninggal.

“Belakangan ini kayaknya jarang dipakai sembahyang Mas. Apalagi semenjak Pak Ran yang biasa bersih-bersih ndak ada. Makanya agak keliatan kotor ya,” kata seorang penjaga pos kamling.

“Dulu sering Mas yang gundul-gundul pake jubah datang ke sini,” tambah seorang warga sekitar cetya.

Kemudian penulis menyambangi rumah RT yang menaungi cetya tersebut seraya bertanya soal kondisi cetya. Pak Yudi selaku RT pun tak paham soal kondisi cetya. “Saya pribadi sudah lama Mas ndak lihat ada aktivitas di situ. Coba Sampean tanya Pak Gun yang lebih paham,” ungkap Pak RT.

Lalu penulis menghampiri rumah Pak Gun dengan diantar Pak RT. Ternyata dulu orangtua Pak Gun yang menghibahkan tanahnya untuk dijadikan cetya. Meskipun Pak Gun bukan seorang Buddhis, namun dirinya mengaku cukup kenal dengan beberapa umat yang biasa sembahyang di cetya tersebut. Kemudian penulis diarahkan ke rumah salah satu umat yang berjarak beberapa gang dari Cetya tersebut.

Setelah ditemui, umat tersebut pun mengakui bahwa cetya memang jarang digunakan untuk persembahyangan. Hanya digunakan sewaktu-waktu saja. Sebab cetya tersebut hanya diisi beberapa umat. Paling banyak tiga keluarga. Bahkan menurutnya biasanya dua sampai tiga orang yang melakukan pujabhakti di cetya tersebut.

Tentunya cetiya tersebut berada dalam naungan KBTI (Keluarga Besar Theravada Indonesia). Karena ada keterangannya juga di tembok cetiya. Maka penulis bertanya kepada beberapa bhante di STI (Sangha Theravada Indonesia) dan juga Ketua Magabudhi Malang.

Beberapa bhante ditanya tidak tahu persis tentang kondisi cetiya tersebut. Hanya mengatakan bahwa masih ada pembinaan ke sana. Ketua Magabudhi Malang, ketika dikonfrontir, mengatakan bahwa cetiya masih terpakai, namun proses pembenahannya belum selesai disebabkan yang menangani masih belum bisa menyelesaikan.

“Dulu pembenahan atap dan kamar mandi,” jelas Romo Bambang selaku Ketua Magabudhi Malang. Keluarga Romo Bambang juga kebetulan sebagai salah satu keluarga dari tiga keluarga yang biasanya melakukan pujabhakti di cetiya tersebut. Karena rumahnya hanya berjarak beberapa gang tak jauh dari cetiya.

Penulis juga bertanya pada jajaran pengampu administrasi, Bu Rini salah satu penyuluh agama Buddha Departemen Agama, Kota Malang. Ketika ditanya soal Cetiya, Bu Rini hanya mengatakan bahwa cetya kadang kala aktif berkegiatan kadang tidak.

“Di sana juga ada penyuluh non PNS,” tambah Bu Rini.

Pak Satimin sebagai Pembimas Buddha Prov. Jawa Timur juga berencana akan meninjau lokasi ketika diberi tahu soal keadaan cetiya tersebut. “Semoga kami dalam waktu dekat bisa menindaklanjuti ke lokasi,” terang Pembimas, “Mudah-mudahan Agustus Minggu ke-3,” tambahnya.

» Apabila Anda merasa bahwa BuddhaZine menambah khazanah informasi Buddhadharma untuk Anda, keluarga, maupun sahabat. Anda dapat bersama kami, dalam mengabarkan kebaikan dengan berdana ke rekening kami.
Rek BuddhaZine: BCA | Jo Priastana | 485 0557 701 «

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara