• Monday, 8 February 2021
  • Surahman Ana
  • 0

Umat Buddha pedesaan biasanya lebih banyak ditemui di daerah pegunungan ataupun perbukitan, dan seakan daerah lereng gunung sudah menjadi lokasi yang menandakan adanya komunitas umat Buddha di sana. Salah satunya lereng Gunung Merbabu.

Di kemiringannya yang menghadap timur laut di atas ketinggian 1300 mdpl kurang lebih 70 umat Buddha merajut kehidupan dalam dinginnya suhu, menghuni sebuah dusun bernama Gemawang, Desa Jlarem, Kecamatan Ampel, Boyolali.

Sudah sejak kurang lebih 30 tahunan keberadaan umat Buddha di dusun Gemawang hingga saat kunjungan tim BuddhaZine pada Jum’at (05/02) masih tetap bisa dilihat eksistensinya bagi siapa saja yang mau berkunjung ke lokasi ini.

Bahkan saat ini agama Buddha menjadi agama mayoritas yang dianut warga Dusun Gemawang, dari total 44 KK terbagi menjadi tiga pemeluk agama yaitu Buddha, Islam dan Kristen dengan rincian Buddha 21 KK, Islam 18 KK dan Kristen 5 KK.

Pak Sudarno salah satu tokoh umat Buddha Jlarem menjelaskan bahwa sejak kemunculannya agama Buddha di Dusun Gemawang pada tahun 80an hingga tahun 2017 para umat menggunakan tempat seadanya untuk berkegiatan terutama pujabhakti.

Baca juga: Melihat Giri Sasono Samadhi, Lereng Gunung Merbabu

Dengan cara bergiliran dari rumah ke rumah umat melakukan kegiatan demi menjaga keberadaan agama Buddha di dusun mereka. Mbah Gito Suwarno di sebut-sebut menjadi tokoh pembawa agama Buddha ke dusun Gemawang.

“Waktu itu ada Mbah Gito Suwarno yang juga sebagai bekel/kadus warga sini yang pertama menjadi umat Buddha dan yang membawa agama Buddha di sini. Awalnya ya dari Pak Pramono kemudian ke Pak Lurah waktu Pak Ramso. Dari Pak Ramso baru Mbah Gito Suwarno dan akhirnya menyebar di dusun sini sampai sekarang,” katanya.

“Kalau dulu katanya sebelum ada agama Buddha di sini ya banyak penganut kepercayaan, nah setelah ada agama Buddha kok katanya dulu dirasa ada kecocokan antara ajaran kepercayaan dan ajaran Buddha akhirnya sebagian warga sini memilih Buddha menjadi agama barunya. Waktu itu kan katanya sedang ada peraturan yang harus memilih salah satu agama di antara lima agama yang diakui pemerintah,” lanjut Pak Sudarno.

Sampai pada tahun 2017 umat merasakan harapan yang lebih besar untuk berkembang dengan dibangunnya vihara di dusun mereka dan diberi nama Vihara Nagasena.

Nama viharanya memang terbilang unik, tapi bukan karena supaya unik tujuan pemberian nama vihara tersebut. Berlatar belakang sebuah mimpi dari tiga umat di sana hingga akhirnya menjadi dasar untuk pemberian nama vihara.

Baca juga: Menyelisik Uniknya Warisan Buddha di Lereng Bromo

“Dulu sewaktu lokasi ini masih berupa lahan kan banyak tumbuhan adas, kemudian anak saya, ponakan saya, dan satu lagi orang sini bermimpi mau mengambil tanaman adas malah bertemu dengan ular naga. Akhirnya ketika membicarakan mimpi itu muncul ide untuk dijadikan nama vihara kami, dan jadilah nama Vihara Nagasena.”

Di dalam bangunan berukuran 6×9 meter dan luas lahan 1.200 meter persegi inilah umat semakin aktif berkegiatan, apalagi saat ini fasilitas seperti kuti, dapur, kamar mandi dan toilet juga sudah lengkap menambah semangat umat untuk berkegiatan di vihara.

“Saat ini kami ya bersyukur sudah ada vihara yang legkap dengan fasilitas lainnya, kami bisa berkegiatan dengan nyaman. Kami juga berharap sambil tetap berkegiatan nanti bisa merapikan bangunan bagian bawah tepatnya depan dapur yang masih harus dipaving biar ndak tumbuh rumput. Tapi kondisi kami yang masih kurang dana ya harus sabar dulu menunggu ada dananya,” imbuh Sudarno.

Kegiatan umat menjadi agak berbeda semenjak adanya pandemi, yang menjadikan vihara terkesan sepi. Pandemi memaksa umat mengalihkan kegiatannya di rumah-rumah umat yaitu setiap malam Rabu dan malam Minggu secara giliran. Sebelum adanya pandemi hari Rabu sore adalah jadwal pujabhakti umat di vihara sedangkan malam Minggu untuk anjangsana ke rumah umat namun saat ini semua kegiatan di rumah umat.

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara