• Tuesday, 11 June 2019
  • Ngasiran
  • 0

Umat Buddha Vihara Dhamma Manggala, Desa Banjarpanepen, Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas kini bisa merasakan pujabhakti di tempat yang nyaman. Meskipun belum jadi seratus persen, vihara baru pengganti cetiya lama sudah bisa digunakan, termasuk untuk pujabhakti detik-detik Waisak 2019 hari Minggu (19/5).

Vihara Dhamma Manggala dibangun di atas tanah seluas 10 x 14 meter dengan luas bangunan dhammasala 115 meter persegi. Selain ruang dhammasala, vihara ini juga dilengkapi dengan kuti (tempat tinggal bhikkhu) dan kamar mandi.

Sebelumnya, umat Buddha Desa Banjarpanepen melakukan kegiatan pujabhakti di cetiya sederhana yang dibangun secara gotong royong. Dimulai sekitar tahun 2015 saat umat merasa perlu meningkatkan kegiatan Buddhadharma, mereka melalukan iuran saat puja bakti. Dana ini kemudian digunakan untuk membangun cetiya di tanah yang dihibahkan oleh salah satu umat Buddha.


“Umat gotong royong dan mengumpulkan dana tiap kebaktian malam rabu dan minggu untuk membeli material dan rumah bekas yang kami pakai selama tiga tahun ini sebelum akhirnya dipugar,” kata Sumarti, salah satu pembina umat Buddha Banyumas kepada BuddhaZine.

Namun seiring perjalanan waktu, cetiya yang oleh Mendiang Bhante Dhammatejo diberi nama Dhamma Manggala ini mulai tidak layak untuk digunakan pujabakti. Saat hujan datang atap bocor, selain itu lantai juga masih tanah dengan alas karpet plastik.

Baca juga: Nasib Vihara Usang di Sudut Kota Batu, Jawa Timur, Ditinggalkan Umatnya

“Cetiya bangunan dari rumah bekas benar-benar memprihatinkan kondisinya Mas. Saat hujan lebat atap bocor, lantai juga masih dari karpet plastik. Jadi tahun 2018 kami membuka akses, ketemu dengan Bhante Sujano dari Jepara. Akhirnya beliau membantu penggalangan dana untuk pemugaran vihara ini,” terang Sumarti lebih lanjut.

Tak hanya bangunan baru, yang menjadi istimewa di altar vihara ini terpampang rupang Buddha setinggi 2,2 meter. Terbuat dari bahan batu alam berwarna putih, dengan mudara vitarka membuat altar vihara ini tampak gagah.

“Tinggi rupang 1,7 meter sedangkan teratainya 50 cm, berat keseluruhan sekitar 4 ton. Jadi butuh dua hari sendiri untuk menaikkan rupang ke altar dan finishing,” kata Hendri Wahyuti, pemilik sanggar pembuat rupang di Sleman, Yogyakarta.

Tak jauh berbeda dengan daerah-daerah lain di Jawa Tengah, umat Buddha Kecamatan Sumpiuh, Banyumas juga berkembang sejak tahun 1965. Saat ini setidaknya terdapat sekitar 200 kepala keluarga umat Buddha di Kecamatan Sumpiuh. Mereka tersebar di lima desa; Selanegara, Banjarpanepen, lebeng  dan Ketanda.

“Agama Buddha di tempat kami sudah ada sejak tahun 65’an dan dulu umatnya cukup banyak namun dalam perkembangannya mengalami penurunan kuantitas. Banyak umat yang berpindah keyakinan karena faktor pernikahan. Dulu pujabhakti ataupun kegiatan keagamaan Buddha dilaksanakan di vihara yang letaknya cukup jauh dan tidak semua umat bisa datang,” kenang Sumarti.

Karena itu, Sumarti berharap vihara yang baru ini dapat meningkatkan semangat umat Buddha, datang ke vihara dan belajar Buddhadharma.

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara