• Wednesday, 24 June 2020
  • Surahman Ana
  • 0

“Semua makhluk akan mengalami kematian, demikian pula pada saya. Sebelum kematian datang saya akan berusaha dengan sungguh-sugguh.”

Demikian tulisan tangan Bhante Dharmasurya Bhumi, sebelum hangat dan nafasnya meninggalkan badan jasmani.

Umat Buddha Indonesia kembali kehilangan seorang tokoh penjaga Dhamma, Bhikkhu Dharmasurya Bhumi Mahathera. Salah satu bhikkhu senior di bawah naungan Sangha Agung Indonesia, meninggal dunia pada hari Rabu, 24 Juni 2020 pukul 14.25 WIB di RS. Santo Borromeus Bandung, di usia 77 tahun.

Acara masuk peti dan tutup peti akan dilaksanakan pada Kamis, 25 Juni 2020 pada pukul 09.00 WIB di Aula Vihara Vimala Dharma Bandung.

Jenazah akan dikremasikan pada hari Jumat, 26 Juni 2020 pukul 10.00 WIB di Krematurium Cikadut. Sesuai dengan pernyataan beliau, ketika meninggal dunia kornea matanya akan didonorkan.

Bhikkhu Dharmasurya Bhumi lahir di Nganjuk, Jawa Timur, pada tanggal 15 Oktober 1942. Mulai mengenal Buddha Dharma dari cerita ibunya saat masih belajar di Sekolah Rakyat.

Ia menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya. Semasa menjadi mahasiswa beliau mulai aktif belajar dan mendalami ajaran Buddha dari beberapa guru yaitu Bhikkhu Jinapiya (Titha Tetuko), Bhikkhu Agga Jinamito, Achan Samathivatra, dan Achan Tet.

Pertama kali beliau mengikuti meditasi Vipassana pada tahun 1968 di Vihara Viluvaranam, Ngadat, Batu, Malang atas permintaan Bhikkhu Jinapiya. Lantas menjadi samanera di usia 30 tahun dan diupasampada bhikkhu di usia 31 tahun oleh YM. Ashin Jinarakkhita pada tanggal 28 Oktober 1973.

Adanya peraturan atau vinaya merupakan hal yang berharga dan menarik beliau untuk menjadi seorang bhikkhu. Bagi beliau peraturan kebhikkhuan sangat realistis, cara atau metode pelaksanaan aturan yang tidak mengikat, namun sesuai dengan pandangan yang benar.

Baginya belajar vinaya berarti belajar menuju penyempurnaan vinaya. Kalaupun ada pelanggaran aturan atau vinaya, akan dilakukan peninjauan kembali atau koreksi pada setiap hari Uposatha.

Selama menjadi bhikkhu, beliau telah menghasilkan beberapa karya tulis yaitu Melihat Pohon Boddhi, 7 Tingkat Pemurnian dan Komentarnya, dan Mengikuti Jejak Sang Buddha.

Beliau adalah Dewan Uppajaya dan Acariya Sangha Agung Indonesia. Hingga akhir hayatnya beliau menjadi guru meditasi yang terkenal di Pusat Meditasi Giri Manggala, Trawas, Jawa Timur.

Meninggalnya beliau mengundang banyak simpati umat Buddha di berbagai vihara, salah satunya di Vihara Buddhayana Dharmavira Center (BDC), Surabaya. “Vihara BDC ada siapkan altar khusus Bhante YM. Suryabhumi (Alm). Bagi umat yang tidak bisa hadir ke Bandung bisa ikut doa di Vihara BDC saja (24-30 Juni 2020),” terang Pak Hudy Suharto, ketua Sekretariat Bersama Yayasan Buddhayana Indonesia (YABUDDHI) Jawa Timur.

“Mulai sore tadi sampai tanggal 30 Juni (7 hari) umat bebas mau datang jam berapa saja. Vihara buka di masa pandemi Covid-19 dari pukul 08.00-20.30 WIB. Meskipun ada doa bersama tapi kami tetap melaksanakan aturan protokol kesehatan,” imbuh Pak Hudy.

Untuk mengenang beliau, berikut salah satu karya tulisan Bhante Dharmasurya Bhumi.

DI KAKI GUNUNG BOTHAK

Pagi hari itu saya berjalan seorang diri
menyelusuri jalan setapak.
Berjalan tegap dan mantap …
selangkah demi selangkah dengan penuh kesadaran, terhadap lingkungan sekitarnya,
maupun pada gerak tubuh dan kesadaranku sendiri.

Pikiranku berangsur tenang dan diam,
kesadaran kian memuncak
dan timbullah perhatian penuh penyelidikan.

Hal kecil yang diabaikan orang kebanyakan
demikian juga hal yang di luar jangkauan orang awam menjadi jelas bagiku.

Tenaga hidupku memusat
dan kesadaran-perhatian mencapai puncak
dan segalanya berubah menjadi pengertian
dan setiap objek
mengungkapkan dirinya dengan jelas dan tuntas.

Inilah kebebasan hidup dari saat ke saat,
kehidupan dan kematian
jalan berdampingan mengalir abadi,
tidak mengenal waktu lalu,
tidak mengenal masa mendatang … tiada AKU.

(DSB, “Menemukan Dharma dalam Kehidupan Sehari-hari”, Penerbit Dian Dharma, 2020)

Selamat jalan YM. Bhikkhu Dharma Suryabhumi Mahathera.

Terima kasih atas semua pengabdian, bimbingan serta jasa-jasa Bhante dalam mengembangkan Buddha Dharma di Indonesia.

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara