• Tuesday, 30 June 2020
  • Deny Hermawan
  • 0

Tanggal 6 Juni 2020, His Holliness Dalai Lama merayakan ulang tahunnya yang ke-85. Untuk memperingati, sebuah film dokumenter baru dirilis secara daring pada 27-28 Juni 2020.

Judul lengkapnya adalah The Great 14th: Tenzin Gyatso, The 14th Dalai Lama In His Own Words. Film besutan Rosemary Rawcliffe ini bisa disaksikan melalui proses registrasi, dari bagian bumi manapun, kecuali China, Korea Utara, dan Myanmar.

Dokumenter produksi Frame of Mind Films ini berkisah tentang perjalanan hidup Dalai Lama, dari penuturan langsung sang Dalai Lama sendiri. Perjuangan, harapan, kegagalan, kegembiraan, semua ditampilkan dengan apik.

Hal yang paling menarik dari film ini adalah adanya footage video langka ketika Dalai Lama masih di Tibet. Dari masa kecilnya, ketika menjalani eksaminasi terakhir di biara, hingga rekaman video ketika beraudiensi dengan Mao Zedong.

Lewat penuturannya, Dalai Lama sempat mengisahkan tentang sebuah mimpi spesial yang dialaminya ketika ia masih berada di Lhasa, Tibet. Waktu itu, Dalai Lama bermimpi berada di sebuah ruangan di Istana Potala yang di dalamnya terdapat arca Avalokitesvara yang paling sakral di sana.

Di mimpi itu patung tersebut seolah-olah memanggil Dalai Lama untuk mendekat. Rupang itu lalu berbicara kepada Dalai Lama, mengatakan satu nasihat yang sangat penting.

“Keberanian dan tekad. Kamu harus memilikinya. Kamu tidak boleh patah semangat. Dengan tubuh yang sehat dan batin yang penuh tekad, usahamu akan berhasil.”

Beberapa pekan kemudian, terjadilah Revolusi Kultural, dan Tibet diluluhlantakkan. Patung Avalokitesvara yang sakral itupun turut hancur. Narasi pengungsian pun lantas dikisahkan Dalai Lama, yang menurutnya seperti mengandung mukjizat.

Adegan-adegan selanjutnya adalah proses bagaimana Dalai Lama lalu menjadi milik dunia. Diperlihatkan bagaimana ia sempat mengkritisi pendidikan modern yang hanya berorientasi pada uang dan hal-hal materialistik.

Dalai Lama juga sempat menegaskan bahwa ia adalah pengikut tradisi [Universitas Buddhis kuno] Nalanda yang mengedepankan logika dan akal sehat.

Di dalam perjumpaan dengan banyak orang, menurut Dalai Lama ada dua hal penting yang selalu ia praktekkan dan ia bagikan. Yang pertama adalah realisasi tentang shunyata, bahwa segala sesuatu bukan seperti apa yang tampak. Yang kedua adalah pengembangan sikap altruistik.

Salah satu hal menarik lagi adalah keinginan Dalai Lama untuk mundur dari kekuasaan politik, yang memang identik dengan institusi Dalai Lama. Perlu diketahui, 400 tahun lalu, ketika Gushri Khan dari Mongol menguasai dan menyatukan Tibet, ia menunjuk Dalai Lama Kelima menjadi pemimpin politik sekaligus spiritual Tibet.

Menurut pengakuan Dalai Lama di film ini, kini kekuasaan itu menurutnya tidaklah relevan lagi. Karena itulah, sejak tahun 2011, ia telah memutuskan berhenti menjadi pimpinan politik.

“Cepat atau lambat itu harus berubah,” katanya sambil mengeluarkan tawa khasnya.

“Saya dengan bangga, dengan gembira mengakhirinya,” tegasnya.

Deny Hermawan

Editor BuddhaZine, penyuka musik, film,
dan spiritualitas tanpa batas.

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara