• Thursday, 29 July 2021
  • Ngasiran
  • 0

“Malam ini, keluarga besar kami akan berdana renovasi Wihara Dhammasarana. Mohon kepada Bapak Sukoyo (Kepala Dusun Krecek) mewakili masyarakat menerima tekad kami,” ujar Bhikkhu Dhammakaro dalam peringatan 7 hari meninggal Ibu Yamini, ibu kandung Bhikkhu Dhammakaro, Selasa (29/6).

Tekad Bhante untuk merenovasi Wihara Dhammasarana disambut gembira oleh seluruh masyarakat Dusun Krecek. Pasalnya, jika dibandingkan dengan wihara-wihara sekitar, Wihara Dhammasarana sudah cukup “tua” untuk digunakan sebagai sebagai tempat pujabhakti kalau tidak mau disebut tidak layak.  

Ruang Dhammasala yang luasnya 7 x 9 meter tidak mampu lagi menampung seluruh umat saat pujabhakti berlangsung. Alhasil, Dusun Krecek yang hampir semua warganya beragama Buddha harus berdesak-desakan saat melakukan pujabhakti bersama. 

“Sudah lama saya mendengar masukan dari umat. Wihara-wihara di dusun lain sudah dibangun megah. Sementara wihara di kampung sendiri kurang diperhatikan. Karena itu, malam ini saya bertekad untuk membantu renovasi wihara ini,” kata bhante lanjut.

Satu bulan berlalu sejak tekad itu diucapkan, impian umat Buddha Dusun untuk memiliki wihara yang nyaman sebagai sarana pujabhakti makin dekat. Kamis, (29/7) masyarakat Dusun Krecek menggelar upacara peletakan batu pertama pembangunan wihara.

Peletakan batu pertama dilaksanakan dengan adat Jawa, dihadiri oleh dua bhikkhu; Bhante Dhammakaro dan Bhante Khemadharo. Serta khusus umat Buddha Dusun Krecek yang jumlahnya dibatasi dengan mematuhi protokol kesehatan. 

Acara dimulai dengan pujabhakti membaca paritta, sutta, dan gatha di ruang Dhammasala. Usai pujabhakti, Mbah Sukoyo sebagai pimpinan acara memimpin meletakan batu dalam lubang yang sudah disiapkan hari sebelumnya. 

Peletakan batu yang dibarengi dengan kepulan asap dupa, disaksikan oleh aneka sesaji, bendera merah putih dan panji buddhis dilakukan secara bergantian oleh umat yang hadir. Mulai dari sesepuh hingga anak-anak. Semua dilakukan dengan penuh khidmat disertai harapan proses pembangunan berjalan lancar. 

“Hari ini kita berkumpul untuk menyatukan tekad bersama yaitu, membantu sarana ibadah untuk meneruskan ajaran Buddhadharma sebagai pedoman hidup kita,” pesan Mbah Sukoyo sebelum memulai kendurian sebagai penutup ritual. 

Sebagai sesepuh dusun, Mbah Suyoko merasa beruntung dengan guyub rukun masyarakat dalam kerja-kerja sosial. Termasuk dalam aktivitas kerja bakti baik pembangunan dusun maupun sarana pujabhakti yang bertujuan untuk memajukan kehidupan masyarakat.

“Tahun ini saya sudah 27 tahun memimpin Dusun Krecek. Saya sangat senang dengan masyarakat yang guyub. Ini adalah sejarah baik yang harus kita teruskan ke anak cucuk kita,” pungkas Mbah Sukoyo. 

Masyarakat Dusun Krecek mulai membangun wihara sejak tahun 1968, sama dengan tahun “kebangkitan” agama Buddha di Temanggung. Mulanya, vihara dibangun dengan bahan utama kayu dan bambu. Pada tahun 2006 vihara mulai dibangun secara permanen menggunakan bahan dasar bata, pasir, dan semen. 

Wihara yang dibangun pada tahun 2006 ini menjadi tempat menjalankan pujabhakti umat Buddha Dusun Krecek hingga sekarang. 

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara