• Thursday, 11 January 2024
  • Surahman Ana
  • 0

Foto     : Ngasiran dan Surahman Ana

Di tengah sunyinya suasana malam pedusunan, ratusan warga Dusun Krecek dan Dusun Gletuk mengikuti pembukaan Nyadran Perdamaian Jilid VI di Pendopo Dusun Krecek, Desa Getas, Kec. Kaloran, Kab. Temanggung, Jawa Tengah pada Rabu (10/01/2024), malam pukul 19.30 WIB.

Gelaran acara yang mengangkat nilai-nilai kerukunan serta perdamaian ini terselenggara atas kerjasama warga setempat dengan Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia, BuddhaZine, Yayasan Cahaya Guru dan Amartha.

Nyadran Perdamaian tahun ini diikuti oleh 12 peserta dari berbagai daerah dan akan diisi dengan serangkaian acara selama tiga hari mulai Rabu-Jumat (10-12/01). Pada puncak kegiatan di hari terakhir, seluruh peserta akan membaur dengan warga dari dua dusun untuk ikut serta dalam tradisi Nyadran di makam. Turut hadir dalam pembukaan sejumlah pentolan AMAN Indonesia, termasuk Koordinator Wilayah Jawa Tengah AMAN Indonesia Maskur Hasan, Penasehat AMAN Indonesia Yunianti Chuzaifah, dan Staf AMAN Indonesia Yuyun Khairun Nisa, yang juga sebagai pembawa acara pembukaan.

Mbah Sukoyo yang sering dipanggil Mbah Koyo, Kepala Dusun Krecek, menyambut baik atas pelaksanaan acara ini. Mbah Koyo berharap Nyadran perdamaian menjadi agenda yang berkelanjutan setiap tahunnya.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada seganap warga Dusun Krecek dan Dusun Gletuk yang telah turut mendukung pelaksanaan Nyadran Perdamaian. Selamat datang kepada para peserta Nyadran Perdamaian yang dari luar daerah. Semoga kegiatan ini bisa berjalan lancar dan sukses hingga selesai dan bisa berkelanjutan di tahun-tahun mendatang bahkan menurun kepada anak cucu. Semoga kegiatan ini bisa memberikan manfaat bagi seluruh warga Dusun Krecek dan Gletuk,” ungkap Mbah Koyo.  

Mbah Koyo menambahkan bahwa kendurian dalam acara pembukaan merupakan salah satu tradisi selamatan yang diturunkan sejak nenek moyang. Kendurian menjadi sarana mengungkapkan segala harapan baik termasuk keselamatan dan kesejahteraan bagi seluruh warga. Doa-doa keberkahan senantiasa digaungkan dengan harapan semoga segala cita-cita luhur warga tercapai.

Kepala Dusun Gletuk, Bandel, juga menyambut hangat gelaran Nyadran Perdamaian dan mengajak para generasi muda untuk melestarikan tradisi Nyadran. Khususnya Nyadran Perdamaian, Bandel menilai merupakan kegiatan positif yang layak untuk dipertahankan.

“Kita sebagai generasi penerus hendaknya tetap meneruskan serta menjaga tradisi Nyadran ini. Saya juga mendukung pelaksanaan Nyadran Perdamaian ini, karena ini merupakan bagian dari tradisi yang baik, dan harus tetap kita jaga bersama. Maka dari itu, bagi generasi muda harus belajar dan memahami makna khususnya tradisi Nyadran, supaya tradisi ini tetap lestari untuk selamanya,” ujar Bandel.

Penasehat AMAN Indonesia, Yunianti Chuzaifah, menuturkan banyak keistimewaan yang ditemukan baik dalam kagiatan Nyadran maupun lingkungan sosial masyarakat Dusun Krecek dan Gletuk.

“Ini yang keenam kali kami melakukan kerjasama dan belajar dengan Dusun Krecek dan Gletuk, karena kita tahu banyak keluruhan budi di wilayah ini. Dari pernyataan teman-teman luar Jawa yang pernah ikut live in dalam Nyadran Perdamaian, mereka merasa mendapatkan guru luar biasa dari leluhur yang dipelihara sampai saat ini. Mereka mendapati bahwa, luar biasa kerukunan antar umat beragama, memuliakan ajaran-ajaran leluhur yang dirawat dengan sangat baik, walaupun berbeda agama tetapi ujung-ujungnya kita berangkat dari leluhur yang dirawat melalui tradisi Nyadran,” ujar wanita paruh baya yang akrab dipanggil Yuni tersebut.

Nyadran, menurut Yuni adalah tradisi Nusantara yang tetap dilestarikan oleh bermacam-macam umat beragama termasuk Islam. Menyoroti tradisi dan kehidupan sosial di Dusun Krecek dan Gletuk, Yuni menilai sudah masuk dalam kriteria cita-cita pembangunan tingkat dunia yang ia sebut sebagai Sustainable Development Goals (SDGs).

SDGs, adalah satu cita-cita pembangunan di tingkat dunia itu dimulai dari belajar di pedesaan kecil di daerah Himalaya. Daerah tersebut berada di Nepal, tapi kurang lebih tidak berbeda jauh dengan apa yang ada di sini, Krecek dan Gletuk,” kata Yuni.

Lebih lanjut Yuni menjelaskan bahwa SDGs terinspirasi karena masyarakat di Himalaya menghormati lingkungan, memuliakan air sehingga airnya melimpah, merawat budaya luhur, saling rukun dan tidak ada konflik. Selain itu, diceritakan bahwa masyarakat di wilayah tersebut memanfaatkan alam berdasarkan asas kebutuhan bukan secara berlebihan, karena memikirkan generasi yang akan datang, laki-laki dan perempuan saling menghormati, tidak ada kekerasan.

“Itu kemudian yang menginspirasi kebijakan global yang namanya SDGs. Jadi itu persis dengan apa yang saya rasakan di Krecek dan Gletuk ini. Di sini semua saling menghormati baik laki-laki maupun perempuan, saya masuk sini melihat suasana hijau semua, di sini juga ada mata air, lalu ada Nyadran dan makan bersama, memuliakan leluhur. Beragam agama di sini tapi tetap rukun, itu menurut saya adalah pesan nenek moyang yang dipelihara dalam sanubari kita semua,” imbuh Yuni.

Yuni berharap generasi muda di Krecek dan Gletuk mau melestarikan serta belajar memahami nilai-nilai luhur dalam tradisi di dusunnya. Sehingga kebudayaan dan tradisi yang sudah ada tetap terjaga kelestariannya.

Sesaji: Wujud Cinta Kasih kepada Semua Makhluk

Keberadaan sesaji dalam acara pembukaan ini diulas oleh Mbah Koyo. Dalam ragam wujudnya, setiap sesaji menyimpan makna dan harapan baik. Dalam pemaparannya, Mbah Koyo menjelaskan bahwa sesaji merupakan simbol keharmonisan hubungan antara manusia dengan alam, manusia dengan manusia, dan manusia dengan makhluk hidup lainnya.

Uncet, salah satu sesaji utama berbahan nasi yang dibentuk kerucut, Mbah Koyo menjelaskan merupakan simbol dari petunjuk bagi manusia untuk menebarkan cinta kasih kepada segenap makhluk hidup lainnya.

“Beragam sesaji lainnya juga wujud penghormatan kepada segenap makhluk hidup. Makhluk hidup lain baik yang tampak maupun tidak tampak sama halnya seperti manusia yang mempunyai keinginan atau kesukaan. Sesaji yang digunakan biasanya salah satu kesukaan makhluk hidup lain, khususnya makhluk halus. Dengan pemberian ini, bukan berarti manusia mengabdi kepada makhluk halus, akan tetapi ini wujud kasih sayang dan menghormati keberadaan mereka,” tegas Mbah Koyo.

Kedermawanan juga menjadi makna dari pemberian sesaji ini. Beberapa makhluk halus bisa mendapatkan asupan makanan dari sesaji yang diberikan manusia. Mbah Koyo berpandangan, bahwa makhluk halus membutuhkan uluran tangan manusia, itulah perlunya menumbuhkan kasih sayang kepada semua makhluk. Dengan kita sebagai manusia memberikan kebutuhan mereka, sebaliknya para makhluk halus juga akan memberikan timbal balik yang positif kepada kita.

“Oleh karena itu, pengertian manusia mengenai makhluk lainya harus didasari cinta kasih dan kasih sayang. Hal ini supaya tidak saling mengganggu satu sama lain, sebaliknya justru saling menjaga. Maka dari itu, bagi generasi muda hendaknya juga mempunyai pengertian ini dan tetap melestarikan budaya sesaji ini,” pungkas Mbah Koyo.  

Acara ditutup dengan kendurian yang diawali doa oleh Mbah Suyanto, Manggalia Dusun Krecek.

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara