• Friday, 27 October 2017
  • Ngasiran
  • 0

Banyak berita bohong (hoax) beredar di dunia maya, terutama di media sosial. Lalu, bagaimana cara memilahnya? Menurut Bhante Pannyavaro, umat Buddha harus hati-hari dalam memilih dan memilah konsumsi informasi.

“Menurut Dhamma (agama Buddha), makanan ada empat jenis: (1) Kabalimka ahara (makanan fisik), (2) Phassa ahara (makanan kontak panca indera dan pikiran), (3) Manosancetana ahara (makanan mental makanan karena keinginan/kehendak), dan (4) Vinnana ahara (makanan kesadaran),” Bhante Pannyavaro memulai uraiannya.

Kalau disingkat, makanan menurut Dhamma dibagi menjadi dua: makanan fisik dan makanan batin. “Kalau Anda tidak bisa memilih makanan yang baik, untuk Saudara, untuk anak-anak Saudara, pada saat bayi berumur tiga bulan, satu tahun, empat tahun, enam tahun mempunyai ahara yang berbeda dengan Saudara yang mungkin sudah dewasa. Pada saat Anda mulai tua, penyakit mulai datang, makanan juga harus diperhatikan. Banyak penyakit yang datang dari makanan kita,” imbuh Bhante.

“Apakah Saudara-saudara tidak memperhatikan makanan mental Saudara, setiap hari medsos itu memberi makanan mental yang buruk. Kalau setiap hari mungkin kita hanya makan sehari hanya tiga kali, mungkin lima kali, anak-anak kita atau mungkin Saudara sendiri, bisa mendapatkan kuliner, makanan batin yang buruk sepanjang hari, dan sepanjang malam dari media sosial.

“Biasanya ibu bapak dan anak-anak kita senang memakan makanan batin lewat media sosial yang tidak sehat. Yang sehat-sehat tidak laku. Contoh, ada medsos kuntilanak kelihatan di gang mawar. Semua ingin baca. Kalau Anda punya aji-ajian (ilmu) belut putih, semua perkara bisa lolos, sudah ada buktinya di KPK masih bisa juga lolos. Laris sekali medsos ini.

“Apakah itu sehat? Dan masih banyak lagi. Sering berita itu seperti benar tetapi bohong. Dan ada kalanya berita itu benar, Saudara tag itu benar, tetapi apakah perlu di-share. Benar bukan hoax, tetapi apakah perlu diteruskan? Sudahkah Anda pikir kalau diteruskan ini akan menimbulkan kejengkelan, kemarahan, kebencian, atau mungkin kekhawatiran yang tidak perlu?

“Makanan-makanan batin itu berbahaya sekali, dan kita senang. Anak-anak kita, kita biarkan mengonsumsi kuliner itu setiap hari. Tidak hanya sekali, lima kali, bahkan mungkin sepanjang hari. Apalagi kalau hari-hari libur, sepanjang hari anak-anak kita itu melihat cerita-cerita kuntilanak, belut putih, dan lain-lain.

“Mungkin juga kita, kalau WA kita, kalau Facebook kita menerima berita, berita itu benar. Apakah harus dilanjutkan? Pikir dulu. Anda melanjutkan berarti Anda membagikan kegelisahan, kecemasan, dan kebencian kepada orang lain.

“Makanan batin yang berupa keberhasilan anak bangsa, kemajuan bangsa dan negara ini, kerukunan, keharmonian tidak laku, padahal itu makanan sehat. Berhati-hatilah dengan makanan batin.

“Buddha Gotama menjelaskan empat ahara. Buddha tidak hanya menyebutkan kabalimka ahara, makanan jasmani. Tetapi Beliau menekankan makanan-makanan batin yang harus kita makan. Hadir pada perayaan Kathina dan perayaan Dhamma yang lain, mengajak keluarga, mendorong keluarga yang lain untuk ikut berdana, sebenarnya itu adalah makanan kita juga. Makanan bagi mental Ibu, Bapak dan Saudara semua.”

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *