• Wednesday, 7 April 2021
  • Deny Hermawan
  • 0

Para pakar Buddhisme di dunia mungkin sepakat, bahwa “Buddhisme esoterik” dalam sejarah merupakan bentuk agama Buddha yang memiliki penyebaran geografis terbesar. Aliran itu meninggalkan jejaknya tidak hanya di negara asalnya India. Namun juga jauh di luar, di Asia Tenggara, Asia Tengah, termasuk Tibet dan Mongolia, serta di negara-negara Asia Timur seperti Tiongkok, Korea, hingga negara matahari terbit, Jepang.

Buddhisme esoterik tidak hanya memberikan kontribusi besar bagi perkembangan agama Buddha di banyak budaya, tetapi juga memfasilitasi transmisi seni religius, hingga sains dan teknologi, termasuk ke Nusantara.

Profesor John Miksic, peneliti dari Southeast Asian Studies Department, National University of Singapore dalam bukunya “Borobudur: Golden Tales of the Buddhas” menjelaskan bahwa selama abad ke-7 dan ke-8, peziarah Buddhis yang berlayar melewati Indonesia [Nusantara] semakin meningkat dibanding abad sebelumnya.

Catatan penting

Dari catatan yang mereka tinggalkan, disebutkan bahwa Jawa dan Sumatra merupakan dua di antara pusat pendidikan Buddhis internasional selama periode itu. Dalam catatan mereka, tertera gambar yang jelas tentang kegiatan umat Buddha di pulau-pulau ini.

Salah satunya gambar dalam catatan Yi-jing atau I-Tsing, bhiksu Tiongkok yang mengunjungi Nusantara pada abad ke-7. Pada Desember 671, ia berlayar dari Kanton dan mampir di Sriwijaya, selama enam bulan mempelajari bahasa Sansekerta.

Dari sana, Yi-jing berlayar ke India menggunakan kapal milik penguasa Sriwijaya. Di India, dia menghabiskan waktu 15 tahun belajar dan mengumpulkan kitab Buddha. Dalam pelayarannya pulang ke Tiongkok, ia kembali mampir di Sriwijaya pada tahun 686.

Selain Yi-jing, tercatat, ada juga Bhiksu Vajrabodhi, salah seorang pemikir Buddhis terpenting dari abad ke-8 yang lahir di Kanci, India Selatan pada sekira 706. Ia mempelajari dan mungkin merevisi dua teks sutra bernuansa esoterik, Mahavairocana dan Vajrasekhara, yang sangat penting di Jawa kala itu.

Lewat bukunya, Miksic menceritakan bahwa sewaktu muda Vajrabodhi menerima instruksi supranatural untuk menyebarkan teks-teks sutra itu ke Tiongkok. Dia berlayar ke Sumatra pada 717 dan melanjutkan ke Jawa. Vajrabodhi masih berada di Jawa pada 718 ketika bertemu dengan seorang bhiksu asal Sri Lanka berusia 14 tahun bernama Amoghavajra.

Miksic mengungkapkan, Amoghavajra datang ke Jawa dalam kunjungan dagang dengan pamannya. Ia kemudian menjadi murid Vajrabodhi dan menemaninya ke Tiongkok pada tahun 719. Di Tiongkok, mereka menetap sampai kematian Vajrabodhi pada tahun 741.

Amoghavajra kemudian melakukan perjalanan lagi ke Jawa. Ia mengumpulkan tulisan suci baru untuk dibawa kembali ke Tiongkok dan diterjemahkan ke dalam bahasa Tionghoa. Murid-murid di sana tertarik padanya. Salah satunya Huiguo (746-805) yang kemudian melanjutkan ajarannya. Di antara murid-muridnya ada yang berasal dari Jawa.

Lokasi perjumpaan Vajrabodhi dan Amoghavajra itu sebenarnya hingga kini masih menjadi perdebatan. Miksic meyakini keduanya berjumpa di tanah Jawa. Namun ada beberapa pakar lain yang meyakini keduanya menjalin relasi guru-siswa di Sumatera.

“Sumber tidak begitu jelas tentang jalur perjalanan Vajrabodhi. Tansen Sen [profesor sejarah NYU Shanghai] misalnya percaya bahwa dia dan Amoghavajra bertemu di Sriwijaya,” jelas Professor Miksic kepada BuddhaZine.

Miksic berpandangan, umat Buddha di Nusantara, kala itu begitu menghormati para guru yang membawa teori dan metode ajaran baru. Namun, Nusantara juga punya kontribusi besar dalam penyebaran ajaran Buddhis yang mereka serap. Dan itu bisa ditemukan jejaknya misalnya dalam bentuk Shingon, Buddhisme esoterik yang berkembang di Jepang, dan masih eksis hingga saat ini.

“Shingon adalah bentuk Buddhisme Jepang. Seorang bhiksu asal Jawa, Bianhong, dan seorang bhiksu Jepang, Kobo Daishi, belajar bersama di Xian [Tiongkok] di bawah guru yang sama, Huiguo, sekitar tahun 780. Buddhisme Borobudur sangat mirip dengan Shingon, tetapi lebih tepat untuk mengatakan bahwa Shingon dan Borobudur adalah dua cabang dari pohon Buddha yang sama. Fokus mereka pada mandala sangat mirip,” ungkap Miksic.

Terkait nama bhiksu asal Jawa yang dalam literatur Tiongkok disebut sebagai Bianhong, Miksic mengaku tidak tahu banyak, karena namanya hanya disebut sekilas. Ia juga mengaku belum pernah menemukan teks yang mengungkapkan biografi atau ajaran Bianhong.

“Saya tidak yakin kalau yang semacam itu ada,” imbuh Miksic.

Meskipun sosok Bianhong susah dilacak, jika ditelusuri, di dalam tradisi Buddhis Shingon, beberapa nama di atas seperti Amogavajra dan Vajrabodhi adalah nama yang cukup familiar. Keduanya masuk dalam daftar nama 8 patriark Shingon, baik versi pemangku silsilah, maupun versi pembabar ajaran. Guru Bianhong, Huiguo, juga masuk dalam salah satu daftar.

Berikut ini daftar nama 8 patriark Shingon versi pemangku silsilah (Fuho-Hasso 付法八祖):

  1. Buddha Vairocana (Dainichi-Nyorai 大日如来)
  2. Vajrasattva (Kongō-Satta 金剛薩埵)
  3. Nagarjuna (Ryūju-Bosatsu 龍樹菩薩) – menerima Tantra Mahavairocana dari Vajrasattva di dalam Stupa Besi in India Selatan
  4. Nagabodhi (Ryūchi-Bosatsu 龍智菩薩)
  5. Vajrabodhi (Kongōchi-Sanzō 金剛智三蔵)
  6. Amoghavajra (Fukūkongō-Sanzō 不空金剛三蔵)
  7. Huiguo (Keika-Ajari 恵果阿闍梨)
  8. Kūkai (Kōbō-Daishi 弘法大師)

Dan berikut daftar nama 8 patriark Shingon versi pembabar ajaran (Denji-Hasso 伝持八祖):

  1. Nagarjuna (Ryūju-Bosatsu 龍樹菩薩)
  2. Nagabodhi (Ryūchi-Bosatsu 龍智菩薩)
  3. Vajrabodhi (Kongōchi-Sanzō 金剛智三蔵)
  4. Amoghavajra (Fukūkongō-Sanzō 不空金剛三蔵)
  5. Śubhakarasiṃha (Zenmui-Sanzō 善無畏三蔵)
  6. Yi Xing (Ichigyō-Zenji 一行禅師) – bukan Yi Jing yang disebut di atas
  7. Huiguo (Keika-Ajari 恵果阿闍梨)
  8. Kūkai (Kōbō-Daishi 弘法大師)

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara