• Wednesday, 14 August 2019
  • Hartini
  • 0

Master Hsing Yun lahir pada tahun 1927 di Provinsi Jiangxu, Tiongkok. Beliau ditahbiskan pada tahun 1941, menjadi patriakh ke-48 dari aliran Linchi Chan, dan mengungsi ke Taiwan pada tahun 1949 setelah berdirinya Republik Rakyat Tiongkok/RRT. Beliau tersenyum setiap kali orang Taiwan menyebut bahwa beliau datang dari Tiongkok daratan, dan sebaliknya pula, saat para sahabat dari RRT menyebutnya berasal dari Taiwan. Beliau menanggapi, “Kita mendunia. Kita semua adalah sama.”

Ini merupakan sebuah jawaban yang asli dan bijaksana dalam bahasa modern, yang mengajarkan nilai Buddhis yang penting tentang kesetaraan (upeksha), salah satu dari Empat Kediaman Mulia dari Pikiran. Hal tersebut juga mengajarkan bahwa kita semua berbagi hakikat Buddha, dengan potensi bawaan yang sama untuk menyadari kebenaran tertinggi serta untuk mencapai jalan pencerahan.

Master Hsing Yun merupakan pimpinan agama, pendiri, serta penasihat spiritual dari Sangha Buddhis Tiongkok dunia di Vihara Fo Guang Shan, serta Asosiasi Internasional Pelita Buddhis (Buddhist Light International Association – BLIA). Beliau mengawasi berbagai vihara dan organisasi di lebih dari 173 negara di enam benua, 3,500 Sangharama, serta jutaan pengikut awam.

Master Hsing Yun telah bersumpah untuk mempersembahkan “Agama Buddha yang Manusiawi” – yang ditemukan relevan dengan dunia modern, dengan cara menghubungkan agama Buddha dengan kehidupan manusia sehari-hari – Master Hsing Yun menyisipkan gagasan-gagasan Buddhis dalam setiap pesan yang beliau sampaikan dan membuka pintu-pintu pada agama Buddha bagi orang Tiongkok dan non-Tiongkok di seluruh dunia dengan strategi yang dipikirkan secara matang. Strategi-strategi ini merupakan cara terampil berupa promosi, pembinaan hubungan, dan pendidikan – semuanya dilaksanakan dengan pertimbangan secara global maupun lokal.

Saat beliau membuka Sangharama Fo Guang Shan yang pertama di Kota Kaohsiung Taiwan pada tahun 1967, Master Hsing Yun menjadikannya yang terbesar di Taiwan. Hal tersebut menjadi sebuah strategi bagi setiap vihara yang beliau bangun pada tahun-tahun berikutnya, baik di dalam maupun di luar Taiwan. Tujuan beliau adalah untuk menyediakan alasan bagi masyarakat lokal untuk datang, menyaksikan, serta belajar tentang Buddhadharma yang luhur dan agung.

Fo Guang Shan

Sangharama Fo Guang Shan juga merupakan tempat bagi perayaan keagamaan serta peristiwa sosial bagi masyarakat setempat, Buddhis maupun non-Buddhis, berkebangsaan Tiongkok ataupun bukan. Saat orang datang, Master Hsing Yun menyajikan bagi mereka kesempatan untuk mengalami agama Buddha. Orang didorong untuk menanam benih Dharma, sekalipun mereka mungkin belum memiliki komitmen untuk mengejar jalan menuju pencerahan.

Fo Guang Shan dan BLIA, mengacu pada setiap tindakan kedermawanan yang akan membangun hubungan pribadi dengan Dharma dan karenanya mengumpulkan pahala. Hal ini mendukung nilai penting Buddhis tentang kedermawanan dan pemberian (dana) dan kesempurnaan (parami).

Master Hsing Yun dengan terampil mengelola hubungan beliau dengan para politisi setempat dan nasional yang berpengaruh serta kelompok-kelompok hartawan, untuk melibatkan mereka dalam agama Buddha yang Manusiawi.

Hal tersebut dilakukan dengan cara membantu mereka menyebarkan agama Buddha di kalangan pendukung terkait mereka dengan dukungan dana mereka terhadap pelajaran-pelajaran agama Buddha, yang pada gilirannya akan mendatangkan pembelanjaan para wisatawan pada kota-kota setempat. Cara-cara terampil ini telah terbukti menguntungkan secara timbal balik, dan Master Hsing Yun telah berhasil dalam menemui banyak pimpinan politik dari berbagai negara, termasuk presiden Amerika yang terdahulu serta presiden Tiongkok Xi Jinping.

Bagaimanapun, beliau juga telah mengalami kemunduran ketika awak media merancukan kegiatan pengumpulan dana beliau, yang secara tak berdasar dinyatakan sebagai alat bagi pesaing politik dan bermuatan kepentingan-kepentingan bisnis. Dalam tahun-tahun belakangan, Master Hsing Yun telah mempertahankan profil publik yang lebih rendah sembari mempertahankan hubungan tingkat tinggi di berbagai negara.

Sejak awal keberadaan mereka, Fo Guan Shan dan BLIA telah memposisikan diri sebagai pendukung agama Buddha Mahayana dan budaya Tiongkok yang sejati. Penempatan seperti ini beserta kegiatan-kegiatan yang mengikutinya dapat dipandang sebagai cara terampil untuk menarik sekaligus melindungi populasi besar imigran Tiongkok di luar Taiwan dan Tiongkok daratan.

Penekanan pada jati diri budaya – alih-alih sebuah identitas keagamaan murni – juga melindungi perkembangan mereka di negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, dan Filipina, yang mana agama Buddha merupakan minoritas. Hal ini mungkin merupakan satu dari sebab kunci mengapa “adalah aman untuk menyatakan bahwa lebih dari 99% anggota BLIA adalah etnis Tiongkok.”

Bagaimanapun, hal ini tidak menghentikan Master Hsing Yun untuk terus melanjutkan untuk merangkul komunitas non-Tiongkok. Sebagai contohnya, beliau akan menawarkan untuk menyediakan pendanaan perjalanan serta akomodasi bagi pelatihan viharawan di Taiwan untuk mendorong keikutsertaan para siswa non-Tiongkok. (Buddhistdoor.net)

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara