• Sunday, 26 January 2020
  • Sunyaloka
  • 0

Apabila Anda pernah ke Pancoran, mungkin pernah mendengar cerita ini. Atau Anda sering ke Pancoran, namun tidak terlalu ngeh. Atau bagi Anda yang belum pernah ke Pancoran, ada sedikit cerita yang menarik.

Tepatnya di Jl. Pancoran No. 4-6 Glodok Tamansari 9, RT.9/RW.5, Pinangsia, Kec. Taman Sari, Kota Jakarta Barat, ada sebuah bangunan yang di depannya terpampang nama Pantjoran Tea House. Saat BuddhaZine jalan-jalan ke sana, ada beberapa bapak-bapak maupun ibu-ibu, bahkan anak-anak mengambil gelas dan menuangkan salah satu teko dari delapan teko yang diletakkan di depan rumah teh tersebut. Ada yang meminumnya, ada juga yang memasukkannya ke dalam botol kosong. Kemudian ada karyawan rumah teh yang memantau apakah teko sudah kosong atau masih ada isi dan membersihkan gelas yang telah dipakai.

Rupanya ada latar belakang kisah delapan teko tersebut, ceritanya bermula dari Kebaikan Kapiten Gan Djie dan istrinya yang menjadi teladan yang turun-temurun di jantung kawasan Glodok, Kota Tua Jakarta. Kantornya yang berlokasi di daerah Patekoan (kini terletak di Jalan Perniagaan), Kapitein der Chineezen (Kapiten warga Tionghoa) ketiga di Batavia dan istrinya selalu meletakkan delapan teko teh untuk pedagang keliling dan orang-orang yang kelelahan dan hendak menumpang berteduh.

Delapan (pat dalam bahasa Mandarin) teko ini menjadi asal mula nama daerah Patekoan tersebut. Semangat solidaritas keberagaman ini yang coba dituangkan oleh Lin Che Wei ke Gedung Apotek Chung Hwa yang terletak di Jalan Pintu Besar Selatan sekaligus mulut Jalan Pancoran, Glodok.

Gedung rumah teh ini merupakan gedung pertama di mulut pintu gerbang kawasan inti Kota Tua Jakarta yang telah dinominasikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kepada UNESCO sebagai World Heritage Site (Situs Wansan Dunia). Meski belum termasuk sebagai bangunan cagar budaya. Keberadaannya sejak 1928 menjadikan gedung ini sebagai saksi penting sejarah kawasan Glodok dan Jakarta.

Kawasan Glodok sendiri memiliki peran penting dalam proses berdirinya Batavia hingga berkembang menjadi Kota Jakarta. Di masa pemerintahan kolonial Belanda kawasan Pancoran Glodok adalah pintu gerbang utama menuju Kota Batavia dari arah selatan. Warga setempat menyebutnya “Glodok”, karena diambil dari suara air yang mengucur dari pancuran kanal di daerah tersebut. Bunyi air “grojok…grojok…” dari pancuran itulah oleh penduduk Tionghoa dieja sebagai “Glodok”. Adapun pancuran tersebut mengilhami nama daerah Pancoran.

Di Jalan Pancoran No. 6 inilah gedung Apotek Chunghwa berdiri. Gedung cagar budaya milik perseorangan ini kemudian direvitalisasi oleh arsitek, Ahmad Djuhara. Setelah 16 bulan pengerjaan, pada 15 Desember 2015 oleh Lin Che Wei, CEO Jakarta Old Town Revitalization Corp (JOTRC) diresmikan dan difungsikan menjadi rumah teh bernama Pantjoran Tea House.

Xin Nian Kuai Le. Mumpung masih suasana Imlek, mungkin Anda ingin bernostalgia, mencicipi harumnya teh, dan merasakan atmosfer kebaikan dari pasangan Kapiten Gan Djie dan istrinya.

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara