• Thursday, 19 December 2019
  • Surahman Ana
  • 0

Suasana dusun mendadak meriah, bergaung dari sebuah tempat yang berada di tengah-tengah perbukitan di area perbatasan Kota Temanggung dan Semarang. Penyelenggaraan festival yang dihelat di sebuah Dusun Buddhis, Dusun Krecek, Desa Getas, Kecamatan Kaloran, Temanggung pada Sabtu – Senin (30 November – 2 Desember 2019) ternyata mampu menarik banyak pengunjung baik dari Temanggung maupun dari kota-kota lain.

Festival Dusun Krecek merupakan perhelatan peringatan ulang tahun ke-8 BuddhaZine berpadu acara adat Merti Dusun (bersih desa) dengan tema; Merti Dusun, Mulat Sarira. Latar belakang Dusun Krecek dengan 99,9% penduduknya pemeluk agama Buddha menjadi alasan sebagai tempat penyelenggaraan festival.

Terselenggaranya Festival Dusun Krecek berkat dukungan dari para donatur dan kerjasama berbagai pihak seperti, organisasi pemerintah dan organisasi lintas agama di Kecamatan Kaloran.

Pembukaan acara pada hari pertama dihadiri oleh Bupati Temangggung H. Muhammad Al Khadziq beserta pejabat pemerintah tingkat kecamatan dan desa. Turut diundang juga tokoh lintas agama yang ada di Kecamatan Kaloran untuk mengisi sesi doa lintas agama sebagai pamungkas pembukaan.

Mbah Sukoyo, Kepala Dusun menyampaikan rasa syukurnya karena apa yang beliau dambakan dalam kurun waktu yang lama ternyata bisa terwujud. “Saya sangat bangga dan terharu atas penyelenggaraan festival ini, sejak 26 tahun yang lalu saya menjalani laku tirakat dan selalu melantunkan doa supaya di Krecek ini bisa menjadi tempat berkumpulnya banyak orang dalam suasana yang meriah dan ternyata saat ini bisa terwujud. Saya sangat bersyukur,” tuturnya.

Pawai adat dengan mengusung gunungan hasil bumi menjadi ritual pembuka sebelum acara di panggung utama dimulai.

Acara digelar dengan mengadakan bazar yang menjual berbagai produk lokal dan diikuti kurang lebih 16 stand yang buka mulai pukul 14.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB setiap harinya. Selain itu, di luar lokasi bazar terdapat kelas-kelas festival yang dilaksanakan sejak pagi hingga siang hari.

Setiap hari mulai pagi hari ada bermacam kegiatan dan terbagi dalam beberapa kelas diantaranya kelas meditasi yang dibimbing oleh Doktor Bram Hasto pada hari pertama dan Doktor Agung Eko Hertanto pada hari kedua. Dalam kelas-kelas itu kebanyakan diikuti oleh peserta festival yang datang dari luar kota, mereka live in (tinggal bersama) di rumah-rumah warga Dusun Krecek. Ada juga kelas sesaji yang menjelaskan tentang tradisi turun temurun yang tetap terjaga di Dusun Krecek, kelas sesaji diampu oleh Mbah Sukoyo yang merupakan sesepuh dan Kepala Dusun, Mbah Sukoyo menjelaskan ragam makna sesajian yang biasa digunakan oleh masyarakat Dusun Krecek ketika ada acara atau hajatan.

Satu kelas lagi yang tak kalah menarik yaitu kelas ngarit (mencari rumput) untuk pakan ternak. Para peserta nampak antusias mengikuti kelas ngarit ini, di samping asing bagi warga kota namun kelas ini terasa sangat unik. Di mana ngarit yang sudah terbiasa dilakukan warga desa namun menjadi kegiatan yang memberikan sensasi tersendiri bagi para peserta live in. “Ngarit merupakan sebuah bentuk kasih sayang manusia kepada hewan peliharaannya,” tutur Ngasiran sebagai pengampu kelas ngarit.

Acara festival terpusat di panggung utama festival Dusun Krecek selepas acara per kelas. Panggung utama yang terletak di depan stand-stand basar mulai dibuka untuk mengisi festival pada pukul 15.00 WIB setiap harinya hingga selesai acara pada malam hari. Berbagai penampilan kesenian lokal, baik berupa seni tari maupun seni musik dipertunjukkan di panggung utama ini. Permainan tradisional yang dimainkan anak-anak Sekolah Minggu Buddhis (SMB) pun turut memeriahkan acara festival. Sementara untuk mengisi acara pada malam hari lebih fokus untuk kegiatan ritual budaya maupun kegiatan kerohanian buddhis.

Di malam hari kedua, Minggu, 1 Desember bertepatan hari ulang Tahun BuddhaZine acara diisi dengan sarasehan budaya yang menghadirkan tiga Bhikkhu Sangha; Bhante Dhammasubho Mahathera, Bhante Sujano Mahathera, dan Bhante Khemadhiro. Selain para Bhikkhu Sangha juga turut diundang Bapak Supriyadi, Direktur Urusan Pendidikan Agama Buddha Kementerian Agama RI. sebagai salah satu pembicara. Bhante Dhammasubho selaku pembicara utama menyampaikan apresiasi serta pesan Dhamma yang dikemas dalam diskusi malam yang dihadiri para umat Buddha dari 18 vihara di sekitar Dusun Krecek.

Hari kedua merupakan acara puncak perayaan ulang tahun BuddhaZine yang ke delapan. Sementara di hari ketiga sebagai penutup festival juga merupakan acara puncak perayaan merti Dusun Krecek. Kesenian tradisional Dusun Krecek dipertunjukan dihari terakhir festival hingga malam hari acara dilanjutkan dengan pegelaran wayang kulit dengan Lakon “Dewa Ruci” yang dibawakan oleh Ki Eko Prasetyo sebagai penutup Festival Dusun Krecek secara keseluruhan.

Kemeriahan acara maupun suasana Dusun Krecek mengundang banyak komentar positif dari para pengunjung maupun para peserta live in dan bazar melalui media online instagramnya.

“Dua hal organik yang mengakar dalam tradisi Dusun Krecek, Temanggung, Jawa Tengah. Seni pertunjukan (tari, wayang, dan musik) menjadi sajian utama. Bagi warga sekitar, seni adalah medium untuk mengekspresikan rasa syukur, menghayati alam, dan mengapresiasi mekanisme kasih saya semesta.” Akun instagram seliradian (4/12).

“Hal unik yang pertama di dusun damai ini. kita jadi susah buat mikir. Berbeda dengan kondisi kota besar yang susah untuk tidak mikir, suasana dusun yang sangat meditatif ini seperti “nyirep” kami untuk berhenti mikir. Berhenti sejenak. istirahat. Dusun ini hampir seluruh penduduknya Buddhis, ada kurang lebih 54 KK dan masih memegang adat Jawa yang kuat. Bersih dan damainya mirip desa Panglipuran di Bangli, Bali. Tapi Dusun Krecek lebih meditatif menurut saya.” Akun instagram omah.wulangreh (4/12).

“Minggu, 1 Desember merupakan perayaan merti desa di Desa Krecek sekaligus ulang tahun BuddhaZine @buddhazine. Untuk merayakaannya di adakan serangkaian kegiatan spiritual, budaya, dan seni di Desa Krecek.” Akun instagram stab_syailendra.

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara