• Friday, 8 July 2022
  • Surahman
  • 0

Ratusan pemuda dari Kebumen, Banyumas, dan Cilacap melaksanakan Dhamma Camp ke-29, Selasa-Rabu (5-7/6). Kegiatan bertajuk Happy Dhamma, Happy Camp ini dilaksanakan di Waduk Sempor, Kec. Sempor, Kab. Gombong. Komunitas Praktisi Dhamma Muda – Mudi Buddhis Kebumen (KOMPAS DHAMMIKA) sebagai menyelenggarakan kegiatan rutin ini, setelah dua tahun terhenti akibat pandemi. 

“Kali ini hanya peserta dari Kebumen, Banyumas, dan Cilacap. Sepertinya bersamaan dengan kegiatan-kegiatan lain, jadi muda-mudi dari kabupaten lain tidak bisa hadir dalam Dhamma Camp tahun ini,” kata Dwi Asih Pertiwi, Ketua Panitia.

Pemuda beragam mazhab dan aliran Buddha terlibat aktif dalam kegiatan ini. Asih menambahkan, meski tidak banyak daerah yang terlibat, namun tahun ini terdapat peserta  dari komunitas Buddhis Vajrayana dari Cipari, Cilacap. Mereka selama ini belum pernah terlibat Dhamma Camp. Mereka sempat memimpin puja bakti dengan tradisi Vajrayana. 

“Kemudian tahun ini peserta diajak untuk berlatih praktik dana, yaitu dengan bakti sosial kepada warga di lingkungan sekitar area perkemahan,” imbuhnya. 

Dhamma Camp tahun ini juga mendapatkan kunjungan tiga orang dari Fo Guang Shan; Chenyany Sutanto (Zhen Zhen), Tya Lee Mei Jing, dan Bhiksuni Ru Yin yang masing-masing memberikan motivasi kepada para peserta. Zhen Zhen, mengapresiasi antusias muda-mudi dalam berkegiatan serta memperkenalkan Fo Guang Shan. Di samping itu, ia juga menyampaikan pesan Dhamma terkait tiga perbuatan baik yang hendaknya dijalankan oleh umat Buddha.

“Kami dari Institut Dong Zen Indonesia (IDZI) yang merupakan cabang dari Fo Guang Shan Taiwan. Di Fo Guang Shan kami mengenal ajaran tiga perbuatan yang sering diutarakan oleh Venerable Master Hsing Yun, selaku pendiri Fo Guang Shan,  yaitu berbuat baik, berucap baik, dan berpikir baik. Ajaran ini merupakan rangkuman dari ajaran Buddha,” jelasnya. 

Menyambung penjelasan Zhen Zhen, setelah penayangan video tentang perbuatan baik Tya Lee, Mei Jing menambahkan bahwa pentingnya berbuat baik untuk kebahagiaan diri sendiri dan orang lain. “Dari video tadi kita bisa belajar untuk berbagi perbuatan baik. Perbuatan baik kita pada akhirnya akan kembali kepada kita. Jika kita berbuat baik maka kebaikan juga yang akan kita temui. Jadi kita harus bisa bersemangat dan berbahagia dalam perbuatan baik,” jelas Mei Jing. 

Sementara itu, Bhiksuni Ru Yin dari Malaysia, menyatakan senang dapat menghadiri kegiatan Dhamma Camp tahun ini. “Setelah saya mendengar ada kegiatan Dhamma Camp muda-mudi Buddhis ini, saya memutuskan harus datang ke sini. Karena ini sangat penting. Kenapa? Muda-mudi adalah masa depan Buddhis, kalian adalah harapan bagi Agama Buddha. Muda-mudi mempunyai peranan yang sangat penting bagi kelestarian ajaran Buddha yang usianya sudah 2500 tahun lebih sejak dibabarkan pertama kali oleh Sang Buddha,” paparnya.

Bhiksuni Ru Yin juga mengapresiasi peran para orang tua yang turut hadir mendampingi anak-anaknya dalam kegiatan Dhamma Camp. Menurutnya, peran orang tua sangat penting. Dengan dukungan dari para orang tua, muda-mudi Buddhis menjadi antusias dalam belajar Buddha Dharma.

Melanjutkan pesan Dhammanya, Bhiksuni menyampaikan bahwa sebagai umat Buddha harus mempunyai hati yang luas. “Guru saya bilang bahwa kalau kita mempunyai hati yang luas, jika dalam lingkup desa kita bisa menjadi kepala desa. Semakin bertambah luas kita bisa mengatur suatu wilayah, misal semakin luas lagi dalam lingkup negara kita bisa menjadi Presiden. Jadi di sini, muda-mudi jika kita mempunyai hati yang luas kita juga bisa menjadi majikan dari diri kita sendiri.”

“Jadi kalau kita ingin memperluas lingkungan kita, memperluas harapan kita, mulailah dengan memperluas hati kita. Saya harap muda-mudi di sini bisa memperluas lingkup tidak hanya di Jawa Tengah ini, tapi bisa sampai ke seluruh negara bahkan bisa sampai seluruh dunia.”

“Ketiga, kita semua di sini belajar tentang Buddhis. Tapi sekarang saya menambahkan, kita akan belajar Humanistic Buddhisme. Kita mengaplikasikan ajaran Buddhis ini dalam kehidupan sehari-hari kita. Jika tadi kita belajar tiga kebajikan, ini harus kita praktikkan dalam keseharian kita. Praktik berbuat baik, berucap baik, dan berpikir baik inilah yang disebut sebagai Budddhis Humanistic,” tutup Bhiksuni.

Suasana semakin meriah menjelang sesi penutup Dhamma Camp. Berbagai penampilan karya seni tradisi maupun modern menghiasi panggung utama aula Waduk Sempor. Sorak sorai para peserta memporakkan heningnya malam, menorehkan kesan bahagia bagi muda-mudi Kecapmasara. [MM]

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara