• Thursday, 11 June 2026
  • Surahman Ana
  • 0

Foto: Ana Surahman

Dana Everyday (DEV), lembaga yang fokus menyalurkan dana bagi umat Buddha, terutama di kawasan pedesaan, kembali menggelar aksi bakti sosial (baksos) di Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan. Kegiatan berlangsung dari Jumat hingga Minggu (5–7/6/2026).

Dalam baksos ini, DEV bekerja sama dengan tiga bhikkhu dari Sangha Theravada Indonesia (STI), yaitu Bhante Dhammakaro, Bhante Cittanando, dan Bhante Santamano. Umat Buddha di Halong merupakan penduduk asli Suku Dayak Meratus atau Dayak Halong yang hingga kini masih mempertahankan keyakinan mereka sebagai umat Buddha.

Pada hari pertama, tim DEV mengunjungi Vihara Dhamma Ratana di Desa Kapul, Kecamatan Halong, dan bermalam di sana. Desa Kapul merupakan salah satu desa dengan mayoritas penduduknya beragama Buddha. Desa ini menjadi basis serta pusat kegiatan umat Buddha di Kecamatan Halong. Selain jumlah umat yang besar, anak-anak muda di desa tersebut juga aktif dan berperan penting dalam berbagai kegiatan keagamaan.

Pembagian Sembako dan Kunjungan ke Pemukiman Umat Buddha di Pedusunan Kecamatan Halong

Hari berikutnya, tim DEV menuju pemukiman umat Buddha di Dusun Tampaan, Desa Mamantang. Mereka membagikan paket sembako kepada 63 kepala keluarga (KK) umat Buddha di dusun tersebut. Dusun Tampaan terletak di tepian Kecamatan Halong dengan suasana pedesaan yang khas. Rumah-rumah umat masih sederhana, terbuat dari kayu dengan arsitektur panggung khas Kalimantan Selatan.

Meski berada di pedesaan, umat Buddha tetap bersemangat mempertahankan keyakinan mereka. Mereka aktif berkegiatan di sebuah cetiya kecil berukuran sekitar 3×5 meter.

Dari Dusun Tampaan, tim bergerak menuju Dusun Hampang, Desa Uren, yang berjarak sekitar dua kilometer. Dusun ini memiliki komunitas umat Buddha sebanyak 52 KK. Namun, hingga kini mereka belum memiliki rumah ibadah sendiri.

“Di dusun ini, meski umat Buddha cukup banyak, sampai saat ini kami masih menumpang di gedung sekolah dasar karena belum punya vihara,” ungkap Bhante Cittanando. Ia adalah bhikkhu putra daerah Halong sekaligus pembina umat Buddha setempat.

Selain bakti sosial, tim DEV bersama para bhikkhu juga mengunjungi pemukiman umat Buddha lainnya, yaitu di Dusun Mapat yang memiliki 24 KK umat Buddha. Suasana alam asri menyelimuti dusun tersebut. Pohon kelapa rindang di sela-sela rumah warga berpadu dengan langit biru menciptakan pemandangan yang menawan.

Di dusun ini pernah berdiri sebuah cetiya, namun hanyut akibat banjir besar. Bangunan cetiya beserta rupang ikut terapung dan bergeser dari lokasi awal. Kini, rupang tersebut disimpan di sebuah balai adat di ujung dusun, dan umat menumpang beribadah di sana.

“Umat di sini berharap bisa dibantu pembangunan cetiya kembali. Karena kalau sedang ada upacara adat, otomatis rupang harus dipindah lagi,” jelas Bhante Cittanando.

Selain Dusun Mapat, umat Buddha di wilayah ini juga tersebar di lingkungan sekitar yang berdekatan, dengan jumlah yang lebih besar. Dalam kunjungan kali ini, para bhikkhu dan DEV merencanakan pembangunan vihara di lahan yang sudah tersedia dan cukup luas.

Kunjungan berlanjut ke salah satu dusun di Desa Mauya. Menurut keterangan warga, 90 persen penduduk di dusun tersebut beragama Buddha. Dusun ini menjadi satu-satunya dusun di wilayah pedesaan Desa Mauya yang sudah memiliki fasilitas lengkap, seperti Vihara Sati Sukkha yang cukup besar, kuti, dapur, dan kamar mandi.

Dari dusun ini pula lahir salah satu bhikkhu putra daerah, yaitu Bhante Santamano, yang turut mendampingi kunjungan DEV.

“Dari cerita ayah (Satriyansah), di sini sejak dulu warganya memang sudah beragama Buddha, tetapi belum paham lebih dalam tentang ajaran. Baru pada 1987 mulai ada pembinaan, dan kami mengetahui banyak hal tentang agama Buddha,” terang Leniah, salah satu tokoh umat Buddha di Mauya.

Perayaan Waisak dan Pesan Dana Setiap Hari

Menutup rangkaian kegiatan, pada hari terakhir tim DEV mengikuti perayaan Dhammasanti Waisak 2570 BE/2026 di Vihara Dhamma Ratana, Desa Kapul. Acara dihadiri ratusan umat Buddha yang berasal dari sepuluh dusun di Halong.

Kemeriahan acara terasa kental dengan balutan budaya Dayak Halong, seperti penampilan tari dan musik tradisional. Tak ketinggalan, penampilan tarik suara dari anak-anak sekolah minggu dan ibu-ibu juga memeriahkan suasana.

Founder Dana Everyday, Nathalia Sunaidi, mendapat kesempatan memberi sambutan. Ia mengajak umat Buddha untuk meningkatkan kebajikan melalui berdana.

“Dana Everyday berarti kita dana setiap hari. Jadi, jangan menyerah dan harus melawan karma buruk dengan memperbanyak perbuatan baik, yaitu melalui berdana,” ujar Natalia.

Menariknya, di balik kemeriahan perayaan, potret toleransi yang tinggi turut mewarnai acara tersebut. Beberapa umat Muslim terlihat terlibat dalam penyediaan makanan bagi umat Buddha peserta perayaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *