• Tuesday, 30 June 2026
  • Surahman Ana
  • 0

Foto: Ana Surahman dan Dok. SMB Vimalamitta

Sebanyak 49.000 siswa Buddhis tersebar di 12 kabupaten/kota di Kalimantan Barat, namun jumlah guru agama Buddha hanya 155 orang, baik negeri maupun swasta. Sementara dua kabupaten, yakni Sintang dan Sanggau, belum tercatat dalam data karena tidak memiliki struktur dan kontributor pendidikan agama Buddha.

Data ini terungkap dalam pertemuan antara Wandani, Yayasan Be Good, Pembimas Buddha Provinsi Kalbar beserta jajaran, dan para tokoh lintas majelis agama Buddha di Kalbar, Rabu hingga Jumat (23–26/6/2026). Kunjungan ini bertujuan melihat langsung kondisi pendidikan generasi Buddhis dan menggali kendala yang dihadapi umat Buddha di Bumi Khatulistiwa.

Sejak 2019, Yayasan Be Good sebagai yayasan nonsektarian hadir sebagai lembaga yang fokus memulihkan akses pendidikan Agama Buddha di Kalimantan Barat, wilayah dengan akar Buddhis kuat namun kekurangan guru. Yayasan ini telah mendukung ratusan guru honorer, membantu ribuan murid kurang mampu, dan menggerakkan Sekolah Minggu Buddha (SMB) secara aktif.

“Dengan pertemuan ini, kami mengajak seluruh tokoh lintas majelis di Kalbar untuk bersama-sama menjaga Buddha Dhamma. Kita buat gerakan memajukan generasi kita, karena kita tahu kondisi kekurangan guru agama Buddha di sini,” ujar Wenny Lo, Ketua Umum Wandani, di Pontianak, Jumat (26/6).

Leny Viola, perwakilan Yayasan Be Good, menambahkan bahwa gerakan ini membutuhkan dukungan umat lokal. “Mari kita bantu keluarga kita sendiri untuk mengenal Dhamma. Saat ini kami masih mendatangkan guru dari Jawa karena di sini belum cukup. Kami mohon bantuan umat lokal untuk pendekatan, karena orang luar mungkin terkendala bahasa dan penerimaan umat,” terangnya.

Kelangkaan Guru Agama Buddha dan Hilangnya 25.000 Umat dalam Enam Tahun

Kalimantan Barat adalah provinsi dengan jumlah umat Buddha terbanyak ketiga di Indonesia, setelah Jakarta dan Medan. Berdasarkan data Dukcapil semester II 2025, tercatat 300.420 umat Buddha. Namun, angka ini turun signifikan dibanding 2019 yang mencapai 325.615 jiwa. Artinya, dalam enam tahun, 25.000 umat Buddha Kalbar hilang dari data kependudukan.

Para tokoh yang ditemui tim Wandani dan Be Good menyebutkan salah satu pemicu penurunan adalah minimnya guru Pendidikan Agama Buddha. Banyak anak Buddhis akhirnya mendapat pendidikan agama lainnya di sekolah, yang kemudian berujung pada perpindahan keyakinan, bahkan diikuti oleh keluarganya.

Kota Singkawang, dengan jumlah umat Buddha terbesar di Kalbar, menghadapi tantangan paling berat. Slamet, Koordinator Guru Agama Buddha Kota Singkawang, memaparkan kondisi memprihatinkan: dari 74 SD negeri yang memiliki siswa Buddha, hanya 21 yang punya guru agama. Dari 20 SMP negeri, 5 di antaranya belum memiliki guru agama Buddha, dan dari 9 SMP swasta baru 2 yang sudah ada guru agama Buddha. Sementara dari 10 SMA negeri, hanya 2 yang tersedia guru agama Buddha, dan untuk SMA swasta hanya 1 sekolah. Kondisi serupa terjadi di SMK negeri dan swasta, di mana dari 5 SMK negeri baru 2 sekolah yang terdapat guru agama Buddha, sementara SMK swasta baru 3 dari 5 sekolah.

“Di sini, satu guru mengajar 100 hingga 400 siswa. Itu pun masih banyak sekolah lain yang tidak ada guru agama Buddha,” ujar Slamet dalam pertemuan di Singkawang, Rabu (24/6).

Kurangnya tenaga pendidik menyebabkan para guru harus bekerja ekstra, belum lagi menghadapi beragam kendala dalam proses mengajar. Aldiyono, guru agama di SMP Negeri 6 Singkawang Selatan, mengaku mengajar 192 siswa dengan keterbatasan.

“Pengetahuan Buddha Dhamma siswa sangat minim. Belum lagi buku ajar tidak tersedia dari pemerintah maupun sekolah. Kami mengajar lewat internet, e-book, atau YouTube,” tuturnya.

Manto bersama istrinya, Miswati, guru di SMP Negeri 7 Singkawang, bahkan mengajar 400 siswa dari tiga kelas. “Sudah 15 tahun saya di Singkawang. Memberi pemahaman agama tidak mudah, dan ini juga karena faktor keluarga sangat minim pemahaman Dhamma. Kadang kami sampaikan di sekolah, tapi siswa menolak karena beda dengan pemahaman di rumah,” ungkapnya.

Kartika Muditasari, guru SMK 3 Singkawang sekaligus pembimbing SMB Vimalamitta, menambahkan bahwa banyak generasi muda potensial tidak terbina. “Saya mengajar 350 siswa di SMK, dan bersama 17 pembimbing lainnya juga membimbing 120 anak SMB. Kami mengajari mereka dari dasar,” katanya.

Sekolah Minggu dan Harapan di Tengah Keterbatasan

Yayasan Be Good turut membangun SMB di sejumlah lokasi sebagai wadah belajar Dhamma bagi siswa yang di sekolahnya tidak ada guru agama. Namun, guru-guru yang ada pun harus merangkap sebagai pembimbing SMB, menambah beban kerja mereka.

Meski demikian, semangat tetap menyala; ada sisi lain yang menarik dan membuat para guru betah mengajar di Kalbar. Kartika mengaku terkesan dengan antusiasme anak-anak. “Mereka solid, semangat, bahkan minta tugas tambahan. Rasa kekeluargaan sangat kuat. Itu yang membuat saya betah,” ujarnya.

Danik Susanti, guru asal Temanggung yang mengajar di Singkawang sejak 2022, merasakan kebahagiaan tersendiri. “Saya mengajar 160 siswa. Saya senang melihat mereka semangat belajar, mungkin karena dulu tidak pernah dapat pelajaran agama Buddha,” katanya.

Demikian juga dengan ungkapan Slamet yang mengaku tersentuh oleh banyaknya permintaan siswa dan orang tua. “Banyak yang minta diajar, tapi tenaga pendidik tak ada. Dengan dukungan Yayasan Be Good, saya ajak guru dari Jawa. Dan sepertinya mereka betah, bahkan yang pulang minta kembali,” ceritanya.

Pembinaan Dewasa-Orang Tua, Titik Lemah yang Terabaikan

Selain krisis guru, pembinaan umat dewasa dan orang tua juga menjadi masalah besar. Di Singkawang dengan 78.000 umat, hanya satu Bhikkhu pembina yang menetap, yaitu Bhante Thitayanno. Sementara untuk penyuluh agama Buddha juga sangat minim di semua kabupaten seluruh Kalbar. Sebagai contoh di Kabupaten Mempawah, sesuai data dari Penyelenggara Buddha hanya ada satu penyuluh dari pemerintah.

“Di Kabupaten Mempawah, jumlah umat sesuai data 33 ribu tetapi penyuluh dari pemerintah hanya ada satu, lainnya dari para aktivis itu pun tidak banyak. Gedung SMB pun hanya ada sembilan. Jadi untuk pembinaan masih sangat kurang,” terang Tri Wiriyawati.

Kondisi ini berdampak pada rendahnya pemahaman orang tua. Banyak keluarga Buddhis yang KTP-nya beragama Buddha, tapi jarang ke vihara kecuali saat hari raya. Bahkan, beberapa vihara tidak memiliki jadwal puja bakti umum, hanya jadwal bimbingan belajar untuk anak-anak.

“Tradisi lokal masih kuat dan belum banyak yang bisa menjembatani pemahaman terkait keselarasan tradisi dengan Dhamma. Pembinaan dari tokoh lokal sangat dibutuhkan karena mereka paham bahasa dan budaya di sini,” Tri Wiriyawati menambahkan.

Gerakan Lokal, Kunci Menyelamatkan Generasi

Dalam pertemuan di Pontianak, para tokoh lintas majelis menggagas gerakan yang lebih banyak melibatkan umat Buddha lokal. Pendekatan kepada orang tua dan keluarga dinilai lebih efektif jika dilakukan oleh tokoh asli Kalbar, yang memahami bahasa dan adat istiadat setempat.

“Kalau Pembimas, Penyelenggara, atau guru ingin berkunjung ke rumah umat, mohon didampingi tokoh umat asli sini,” tegas Leny Viola.

Meski agama Buddha telah puluhan tahun berkembang di Kalbar, hingga kini di sebagian besar wilayah, agama ini terasa baru lahir. Hanya anak-anak yang tersentuh pembinaan, sementara orang tua nyaris tak terjangkau.

Selebihnya, terkait dengan krisis guru pengajar, hal ini menimbulkan satu pertanyaan, mengingat jumlah umat Buddha di Kalbar yang begitu besar tapi tidak mampu memunculkan lebih banyak guru pendidik dibanding daerah lain. Hal ini pula yang menjadi satu pembahasan dalam pertemuan tersebut. Namun di balik kondisi ini, Steven Greatness, Ketua Gerakan Muda Buddhis Indonesia (Gemabudhi) Kalbar, menyampaikan beberapa alasan mengapa tidak banyak umat lokal Kalbar yang tertarik untuk menjadi guru.

“Kenapa di Kalbar tidak banyak muncul Guru Agama Buddha? Pertama, generasi muda banyak yang tidak mempunyai pengetahuan mumpuni tentang Agama Buddha. Kedua, dari sisi pendidikan, banyak generasi muda yang bukan lulusan Perguruan Tinggi Agama Buddha. Kemudian faktor yang lain adalah karena honor sebagai guru masih kecil sekali,” ungkapnya.

Sementara dari sisi pemerintahan, Yanto, Pembimas Buddha Provinsi Kalbar, juga mengungkapkan kendala yang dihadapi dalam pengangkatan guru agama.

“Kami sampaikan terkait dengan formasi pengangkatan guru agama Buddha, bahkan semua agama, di Kalbar masih minim formasi, walaupun dilihat dari peraturan perundang-undangan menjadi tanggung jawab sepenuhnya pemerintah. Tetapi kalau kita semata-mata meletakkan ini kepada pemerintah, akan terlalu lambat,” jelas Yanto.

Dalam kesempatan pertemuan tersebut, Yanto pun mengajak seluruh tokoh lintas sekte untuk bersatu dan mulai memikirkan secara serius terkait nasib pendidikan generasi Buddhis di Kalbar.

“Kita juga harus menyadari bahwa tidak selamanya Yayasan Be Good fokus mengurusi Kalbar. Maka untuk beberapa bulan ke depan, harus diupayakan muncul kekuatan lokal Kalbar, artinya harus ada tanggung jawab dan kepedulian dari putra-putri daerah, dari berbagai latar belakang profesi, untuk bersama-sama memberikan andil dalam memajukan pendidikan anak-anak Buddhis di Kalbar ini,” tandasnya.

Dari fenomena ini, Wandani dan Yayasan Be Good juga melakukan audiensi dengan Bhante Thitayanno terkait kemungkinan didirikannya Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) di Kalbar untuk menarik minat generasi muda menempuh pendidikan Agama Buddha, dan diharapkan bisa menumbuhkan lebih banyak guru pendidik.

“Kami sebenarnya sudah ada tanah di Kaliasin luasnya 13.000 m² (1,3 ha) yang pembeliannya difasilitasi oleh Yayasan Be Good. Beberapa bulan lalu kami sempat menawarkan kepada Kemenag melalui Pembimas, atas persetujuan para donatur, entah tanah tersebut akan dibangun Dhammaseka Negeri atau mungkin dari Kemenag akan membangun STAB di sini, ini tentu lebih bagus,” terang Bhante.

Krisis guru agama Buddha di Kalimantan Barat bukan sekadar soal angka, tetapi soal keberlangsungan identitas dan keyakinan. Di tengah keterbatasan, para guru dan penggiat Dhamma tetap berjuang dengan sepenuh hati. Namun, tanpa dukungan sistemik dan peran aktif umat lokal, mimpi memajukan generasi Buddhis di Kalbar akan tetap tertatih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *