• Friday, 3 July 2026
  • Surahman Ana
  • 0

Foto: Ana Surahman

Berdiri kokoh sejak tahun 2011, Sekolah Asoka Widya telah menjadi garda terdepan dalam menjaga keyakinan anak-anak Buddhis di Kecamatan Pemangkat, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Di tengah badai krisis tenaga pendidik agama Buddha yang melanda wilayah tersebut, sekolah ini muncul sebagai oase yang menawarkan pendidikan umum sekaligus pembinaan moral berlandaskan Dhamma.

Dikelola oleh Yayasan Widya Indonesia Jaya, institusi ini menaungi jenjang TK dan SD dengan mengadopsi kurikulum Kemendikbud yang diperkuat nilai-nilai karakter Buddhis. Keberhasilan sekolah ini tergolong fenomenal, jumlah siswanya terus melonjak hingga melampaui sekolah negeri maupun swasta di sekitarnya.

“Sekarang ini, total siswa ada 150, dan setiap tahun bertambah. Kalau dibandingkan dengan sekolah lain, baik yang swasta maupun negeri di sekitar sini, sekolah kami termasuk paling banyak jumlah muridnya,” terang Suntari, Kepala Sekolah Asoka Widya, saat menerima kunjungan tim Wanita Theravada Indonesia (Wandani) dan Yayasan Be Good pada Rabu (24/6/2026).

Daya tarik utama sekolah ini terletak pada kualitasnya yang inklusif namun tetap terjangkau. Dengan biaya SPP hanya berkisar Rp60.000 hingga Rp75.000 per bulan, Asoka Widya menjadi solusi bagi keluarga kurang mampu. Meskipun berbasis agama Buddha, sekolah ini membuka pintu bagi siswa dan guru dari latar belakang agama yang berbeda.

Ancaman di Balik Keberhasilan

Namun, di balik pertumbuhan tersebut, awan mendung membayangi masa depan pembinaan umat di Kalimantan Barat. Ketiadaan jenjang SMP di lingkungan Asoka Widya memicu tantangan kritis: retensi keyakinan.

Banyak lulusan SD yang terpaksa melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah non-Buddhis. Dampaknya bersifat sistemik, para siswa mulai terpapar ajaran agama lain yang dalam jangka panjang memicu perpindahan keyakinan, tidak hanya bagi si anak, tetapi sering kali diikuti oleh seluruh anggota keluarganya.

Wenny Lo, Ketua Umum Wandani, menyayangkan fenomena ini. “Sangat disayangkan, karena kerja keras membangun generasi muda Buddhis sejak TK sampai SD menjadi sia-sia ketika mereka hilang atau berpindah keyakinan di jenjang pendidikan selanjutnya,” tegasnya.

Faktor ekonomi juga memperkeruh keadaan. Suntari memaparkan bahwa beberapa siswa terjebak dalam “agenda ganda”. Di pagi hari mereka pergi ke gereja, kemudian pukul 09.00 mereka baru beralih ke vihara.

“Banyak siswa kami yang meminta bon tagihan SPP untuk diklaim ke pihak gereja guna menutupi biaya sekolah mereka. Di sana ada program PPA yang membiayai anak dari masa kehamilan hingga lulus sekolah, termasuk hadiah ulang tahun,” jelas Suntari.

Kondisi ini diperparah dengan ketimpangan tenaga pendidik. Dari 12 guru di Asoka Widya, hanya lima orang yang beragama Buddha, sementara mayoritas adalah Muslim. Keterbatasan ini memaksa Suntari merangkap jabatan sebagai Kepala Sekolah sekaligus guru agama Buddha untuk kelas 1, 2, dan tingkat TK.

“Kami pun selalu mengarahkan anak-anak dan orang tuanya untuk melanjutkan ke sekolah Buddhis atau sekolah yang ada guru agama Buddhanya. Tetapi ya itu di samping jarak sekolah Buddhis jauh, persoalan biaya juga, sementara ada sekolah negeri tapi guru Agama Buddhanya tidak ada, akhirnya mereka memilih sekolah swasta dari agama lain,” tandas Suntari.

Harapan pada Lahan Menganggur

Solusi sebenarnya sudah terlihat di depan mata. Sekolah Asoka Widya memiliki lahan yang luas dan memadai untuk pembangunan gedung SMP hingga SMA. Saat ini, lahan di belakang gedung SD tersebut masih menganggur dan hanya diisi oleh satu bangunan Dhammasala besar.

Wandani dan Yayasan Be Good berencana merangkul pemerintah, Sangha, majelis, dan tokoh umat untuk merealisasikan pembangunan gedung sekolah lanjutan tersebut. Namun, langkah strategis ini masih terganjal hambatan internal.

“Tapi kendala saat ini masih terhalang oleh pihak yayasan, ada persoalan yang belum selesai,” ungkap Wenny Lo.

Bendahara Yayasan Be Good, Leny Viola, mendesak agar persoalan internal yayasan segera dituntaskan demi kepentingan yang lebih besar.

“Jangan sampai hanya karena persoalan ini, kita harus mengorbankan ratusan generasi Buddhis kehilangan permata Dhamma,” pungkas Leny.

Perjuangan menjaga api Dhamma di Pemangkat tidak seharusnya menjadi beban bagi segelintir orang saja. Dengan dukungan penuh dari pemerintah, Sangha, Majelis, dan tokoh umat, pastikan Sekolah Asoka Widya tidak lagi berjuang sendirian dalam membina dan mempertahankan generasi masa depan Buddhis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *