• Friday, 28 May 2021
  • Deny Hermawan
  • 0

Di tengah padatnya Kota Bogor, tak terlalu jauh dari Kebun Raya Bogor, ternyata berdiri sebuah klenteng kecil yang sangat bersejarah bagi beberapa agama dan juga adat Sunda. Kelenteng Pan Kho Bio, atau yang punya nama lain Wihara Maha Brahma, di Pulo Geulis, Babakan, Kota Bogor sangat terkenal dengan nilai sejarah dan toleransi beragamanya.

Kelenteng Pan Kho Bio sekilas tidak berbeda dengan kelenteng lainnya, yaitu sebagai tempat ibadah Tridharma. Namun yang unik,
di kelenteng tertua di Bogor itu terdapat makam dan petilasan tokoh era Kerajaan Pajajaran, salah satunya adalah petilasan Prabu Surya Kencana.

Di bagian belakang Kelenteng Pan Kho Bio, terdapat ruangan memanjang dengan dua batu besar yang merupakan petilasan Embah Sakee dan Eyang Jayaningrat, dua tokoh penyebar Islam era Pajajaran. Di dalam ruangan itu juga terdapat perlengkapan salat, Alquran serta sajadah yang mengarah ke kiblat.

“Lokasi klenteng ini dulunya pernah jadi tempat peristirahatan Raja Siliwangi dan tempat berkumpulnya para penyebar agama Islam sejak zaman kerajaan Pajajaran,” kata Abraham Halim, pemerhati sejarah Kampung Pulo Geulis yang kerap dipanggil Bram, di kawasan klenteng pada April 2021.

Di sisi kanan kelenteng, terdapat petilasan Eyang Prabu Surya Kencana dengan dua patung kepala harimau hitam, patung harimau putih kecil, dan sebuah arca kura-kura berukuran besar. Bersebelahan dengan petilasan, terdapat makam Embah Imam, tokoh penyebar Islam pada zaman Kerajaan Pajajaran yang lain.

Kelenteng itu tak hanya merupakan ibadah umat Konghucu / Buddha / Tao saja. Sering juga diadakan pengajian umat Islam pada malam Jumat di dalam klenteng. Hal tersebut menjadi bukti akulturasi dan toleransi yang muncul di masyarakat kawasan Pulo Geulis sejak lama.

“Setiap malam Jumat, mereka mengadakan pengajian di sini, tepatnya di belakang kelenteng. Selain pengajian rutin setiap malam Jumat, ada juga tradisi rutin sedekah maulid dalam menyambut Maulid Nabi,” ujar Chandra Kusuma, pengurus Klenteng Pan Kho Bio.

Chandra menjelaskan bahwa klenteng itu didirikan sekitar tahun 1703. Dan sebelum pembangunan kelenteng, di lokasi itu sudah ditemukan yoni, arca Hindu, dan batu petilasan. Karena itu, tak mengherankan jika kadang ada juga umat Hindu maupun Sunda Wiwitan yang berkunjung ke kawasan ini.

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *