• Wednesday, 10 June 2026
  • Ngasiran
  • 0

Foto: Dok. Panitia

Minggu, 7 Juni 2026, suasana di Vihara Tendaun Girisena dipenuhi rasa bahagia dan bangga. Pada hari itu, PD Wandani NTB dan PC Wandani Kota Mataram, mewakili PP Wandani, menyerahkan hadiah berupa angpau kepada 30 anak Buddhis yang berhasil menjalani Atthasila penuh selama satu bulan menjelang Waisak 2570 TB/2026.

Namun lebih dari sekadar hadiah, momen ini menjadi ruang untuk mendengar cerita sederhana dari anak-anak yang telah berlatih menahan diri, memperdalam praktik spiritual, dan menjalani keseharian yang berbeda selama satu bulan penuh.

Tira menjadi salah satu anak yang berbagi pengalamannya. Saat ditanya mengapa ia terus mengikuti Atthasila hampir setiap tahun, jawabannya terdengar singkat tetapi tulus.

“Karena ingin mendapatkan karma baik dan ikut memperbanyak penyebaran ajaran Buddha.”

Jawaban sederhana itu menggambarkan bagaimana praktik Atthasila sudah menjadi bagian dari perjalanan tumbuh mereka.

Hal serupa juga disampaikan Rama. Baginya, menjalani Atthasila memang tidak selalu mudah. Ada kebiasaan yang harus dibatasi dan kenyamanan yang perlu dikurangi. Namun ia tetap memilih menjalaninya.

“Supaya mendapat balasan baik… karma baik.”

Saat ditanya lebih jauh apa yang ia maksud dengan balasan baik, Rama menjawab dengan polos.

“Maksudnya surga.”

Jawaban-jawaban yang lahir dari cara pandang anak-anak itu memperlihatkan bagaimana nilai kebajikan mulai mereka pahami melalui pengalaman langsung, bukan sekadar teori.

Sementara itu, Rio membagikan cerita yang lebih panjang tentang pengalaman menjalani Atthasila selama sebulan.

Menurutnya, perubahan yang paling terasa bukan hanya pada rutinitas, tetapi juga pada batin.

“Manfaat pertama yang saya rasakan adalah ketenangan batin. Saya jadi lebih mendalami spiritual dan merasa lebih dekat dengan Buddha.”

Rio mengakui, hari-hari pertama bukanlah masa yang mudah.

“Biasanya saya makan sampai lima kali sehari, lalu harus dibatasi jadi dua kali sehari. Awalnya terasa berat.”

Tetapi seiring waktu, ia dan teman-temannya mulai menyesuaikan diri.

“Setelah beberapa hari kami mulai terbiasa. Badan terasa lebih sehat dan segar karena mengurangi jajan dan makanan yang terlalu banyak gula. Jadi lebih ringan dan tidak terlalu dekat dengan penyakit.”

Tidak hanya menjalani disiplin Atthasila, anak-anak juga mengisi masa menjelang Waisak dengan berbagai kegiatan bersama. Mereka mengikuti lomba-lomba yang membuat suasana tetap hangat dan menyenangkan, mulai dari lomba makan kerupuk, lari karung, pembacaan paritta, hingga berbagai permainan lainnya.

Bagi Rio, salah satu pengalaman paling berkesan justru datang dari latihan meditasi.

“Awalnya waktu meditasi badan terasa sakit dan susah diam lama. Tapi setelah satu bulan jadi terbiasa. Pikiran lebih tenang, lebih mudah mengendalikan emosi, dan tidak mudah marah.”

Cerita-cerita kecil dari anak-anak ini menunjukkan bahwa Atthasila bukan hanya tentang menahan makan atau menjalankan aturan selama sebulan. Bagi mereka, Atthasila menjadi latihan untuk mengenal ketenangan, membangun disiplin, dan menanamkan kebajikan sejak usia dini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *