• Thursday, 5 February 2026
  • Surahman Ana
  • 0

Foto: Dok. Vihara Muladharma                                                              

Umat Buddha Samarinda baru saja menorehkan catatan sejarah dalam perkembangan Buddha Dhamma di Indonesia, dengan terpilihnya Vihara Muladharma sebagai salah satu lokasi Upacara Pengecoran Bagian Rupang Buddha Nusantara pada Minggu (1/2/2026). Pengecoran tersebut dalam rangka menyambut Tahun Kencana Setengah Abad Sangha Theravada Indonesia (STI) yang puncaknya pada 13 Desember 2026 mendatang.

Dari enam kota yang terpilih, setiap lokasi mewakili lima pulau besar dan Samarinda mewakili Pulau Kalimantan. Peristiwa ini menjadi catatan sejarah yang berharga dan langka karena baru pertama kali dalam lima puluh tahun sejak berdirinya STI. Semangat dan kabahagiaan umat Samarinda begitu besar dalam megikuti upacara sakral ini, bahkan para bhikkhu dan umat yang hadir bukan hanya dari Pulau Kalimantan, melainkan juga dari berbagai provinsi seperti Medan, Jakarta, Bali dan kota-kota lainnya.

Napak Tilas Perkembangan Agama Buddha di Samarinda

Geliat dan antusias umat Buddha Samarinda yang nampak saat ini tidak lepas dari perjalanan panjang penuh perjuangan dari para tokoh masa lalu yang berperan besar akan keberadaan Agama Buddha di sana. Berdasarkan dokumen yang tersimpan di Vihara Muladharma tertulis bahwa pada awalnya penduduk Samarinda tidak banyak yang tahu tentang Buddha Sasana (Agama Buddha). Warga hanya mengenal kepercayaan tradisional Tionghoa, dan bersembahyang di Kelenteng Tridharma Thien Le Kong yang sudah berdiri sejak lebih dari seratus tahun silam.

Sampai akhirnya pada 6 Juni 1962, Ang Thin Siang datang. Ia adalah pemuda asal Tenggarong yang menempuh pendidikan di Jakarta dan berusaha untuk mengembangkan Buddha Sasana di Kota Tepian—Samarinda.

Cara pertama yang ia lakukan adalah mencari dukungan dan rekan sepemahaman. So Kim Leng adalah orang pertama yang menunjukkan antusiasme. Ia menyambut baik kehadiran Ang Thin Siang dan mulai bersama-sama mengajak yang lainnya untuk menumbuhkan semangat Dhamma dengan sering melakukan puja bakti.

Lantaran Samarinda belum memiliki cetiya maupun vihara pada saat itu, puja bakti pun terpaksa mereka lakukan di kelenteng. Namun tetap dijalankan dengan semangat, dan mampu mengundang lebih banyak orang untuk bergabung. Beberapa tokoh di antaranya yang cukup aktif adalah Goey Eng Tjiang, Thio Djin Tie, Ho Tjin Sin, Lie Gwan Hoey, Lim Pun Ho, Tan Sin Tjai, dan para umat lainnya.

Tidak hanya sering menggelar puja bakti, mereka juga semakin menguatkan posisi. Hal ini ditandai dengan terbentuknya organisasi Buddhis pertama di Samarinda; Perhimpunan Buddhis Indonesia (Perbudi), yang kemudian berganti nama menjadi Persaudaraan Upasaka-Upasika Indonesia (PUUI).

Mereka menghadapi kendala pertama. Karena kesibukan aktivitas dan keterbatasan tempat di kelenteng, maka puja bakti pun tidak bisa lagi diselenggarakan di kelenteng. Menghadapi hal ini, So Kim Leng berinisiatif untuk meminjamkan kediamannya di Jl. Panglima Batur nomor 108 sebagai lokasi puja bakti. Namun situasi ini tak berlangsung lama, hanya kurang dari setahun. Pasalnya, banyak umat yang mengeluhkan jauhnya lokasi kediaman So Kim Leng, mengingat kondisi kota Samarinda yang masih sangat kecil dan keterbatasan sarana transportasi kala itu.

Menghadapi masalah ini, Tan Sin Tjai pun menawarkan kediamannya di Jl. Panglima Batur (yang kini telah menjadi Jl. Mulawarman) untuk dijadikan cetiya. Sejak 1964, puja bakti mulai aktif digelar di sana.

Perkembangan Buddha Sasana di Samarinda terus menunjukkan peningkatan, terlebih dengan kedatangan tiga rohaniawan senior Agama Buddha di Indonesia, yaitu Bhikkhu Ashin Jinarakkhita, Bhikkhu Jinapiya, serta Samanera Jinagiri. Kunjungan mereka ke Samarinda meninggalkan “kenang-kenangan” berupa visudhi (penahbisan) Upasaka-Upasika pertama kepada tiga orang: Lie Gwan Hoey dengan nama Buddhis “Kumuda Surya”, So Kim Leng dengan nama Buddhis “Kumuda Loka”, dan Oei Sum Eng dengan nama Buddhis “Kumuda Ratna”. Ketiganya memperoleh nama Buddhis dalam bahasa Sanskerta. Peristiwa ini seolah semakin mengobarkan semangat pemuda Buddhis di Samarinda untuk terus memajukan Buddha Sasana.

Teracatat, semakin banyak pemuda Samarinda yang bergabung dan aktif dalam kegiatan di cetiya. Beberapa di antaranya, seperti Lie Han Yang (Viriya Somanatta Surya), Ho Tong Min, Ang Po Liang (Pradjamukti Terang), Lie Sin Bin (Surya Putra), I Wayan Senata, dan Edy Fong. Setelah itu, impian para umat Buddhis Samarinda untuk memiliki vihara sendiri pun akhirnya terwujud. Pada 1967, seorang pengusaha bernama Tan Tjong Tjim mewakafkan tanahnya yang berupa kolam (rawa) seluas 600 meter persegi. Lahan yang sebelumnya merupakan tempat pencucian rotan ini berada di Jl. Yos Sudarso Gang 2.

Tantangan pertama dalam rencana pembangunan vihara ini adalah penimbunan atau penutupan kolam di lahan tersebut, yang memerlukan volume tanah dalam jumlah besar. Untungnya, pada saat itu pemerintah sedang melakukan pembangunan parit besar-besaran di penjuru kota Samarinda. Umat Buddha dipersilakan untuk memanfaatkan tanah galian itu guna menutup kolam.

Ada sejumlah nama yang tercatat ikut bergotong royong membantu proses pembangunan calon vihara pertama di Samarinda itu. Mereka di antaranya adalah Lukman, Sie Khun Lun beserta istri, Go Swan Kim, Ibu Oma, Tan Siang Liang, Tan Siang Kui, Hamdi Winto, Go Kiang Lie, Lie Han Tiong, Lie Siu Lan, Lim Hui Bun, Wen Fu, Wen Sim, dan Frieda Lielawaty, dll.

Setelah tanah berhasil diuruk dan kolam berhasil tertutup, lahan itu diberkahi oleh Bhikkhu Ashin Jinarakkhita beserta Romo S. Endro (kini Bhikkhu Jayamedho). Prosesi pemberkahan ini didampingi Tjiu Hong Djan beserta istri dan disaksikan para pengurus dan umat. Setelah itu, dilanjutkan dengan visuddhi upasaka-upasika kepada lebih banyak aktivis dan umat Buddhis Samarinda.

Setelah lahan siap dibangun, umat Buddha Samarinda menghadapi tantangan berikutnya, yaitu pengumpulan dana untuk pembangunan. Untuk itu, sejumlah cara dilakukan. Salah satunya adalah dengan menggelar bazar makanan dan minuman hampir setiap minggu di kediaman Tan Sin Tjai. Pelaksanaan bazar dibantu oleh Thio Sui Kim (istri Tan Sin Tjai) dan para anak-anaknya. Dukungan juga ditunjukkan oleh kaum ibu, termasuk oleh Kumuda Ratna yang menyiapkan masakan vegetarian. Semua tampak bersemangat demi terbangunnya vihara pertama idaman mereka.

Dengan So Kim Leng sebagai pengawas sekaligus kontraktor, vihara pertama di Samarinda dibuat semipermanen dengan bahan kayu dan berlantai dua. Tahap demi tahap pembangunannya terus dijalani dengan sabar dan tekun. Penggalangan dana terus berlangsung, dan panitia pembangunan vihara pun menerima sumbangan bahan bangunan dari banyak pihak. Hingga akhirnya vihara selesai terbangun pada 1969, dan diberi nama “Ekayana” oleh Bhikkhu Girirakkhito yang berkunjung ke Samarinda. Nama “Ekayana” dipilih karena memiliki makna “Yang Nomor Satu” atau “Yang Pertama”.

Dengan berdirinya Vihara Ekayana, semua kegiatan terkait pengembangan Buddha Sasana di Samarinda pun semakin fokus dan maju. Puja bakti umum semakin diikuti lebih banyak orang. Kegiatan yang dilakukan pun bertambah banyak, termasuk pembinaan umat yang kian intensif hingga menyentuh anak-anak usia dini lewat Sekolah Minggu.

————————————————————————————————————

Pada masa-masa awal berdirinya Vihara Ekayana, umat Samarinda kedatangan Kho Kheng Gwan (Silaumukti) dari Jakarta. Bersama Paul Jamin dan Wira Jaya, mereka berdiam dan menjaga vihara sekaligus menciptakan beberapa lagu Buddhis.

Setelah itu, pada 1970, Samarinda juga kedatangan Bhikkhu Jinaratana yang pernah berdiam di Bangkok, Thailand, untuk belajar dan memperdalam pemahaman atas Abhidhamma. Melihat kondisi umat di Samarinda, Bhikkhu Jinaratana sering menghabiskan masa vassanya di Vihara Ekayana, membabarkan Dhamma dengan intensif dalam Kelas-kelas Dhamma (Dhamma Class), melakukan Visuddhi Upasaka-Upasika, serta membantu pengembangan Buddha Sasana ke wilayah lain, seperti di Palaran dan Pulau Atas oleh sesepuh warga setempat, Sastro.

Perkembangan demi perkembangan umat Buddha di Samarinda terus terjadi. Pada 1972, Frieda Lielawaty berangkat ke Thailand untuk menjadi rohaniwan guna memperdalam pemahaman Dhamma dan Abhidhamma. Sejak saat itu semakin banyak umat yang bergabung, beberapa di antaranya adalah Widya Kusuma, Go Po Lian, Go Po Swan, Ching Mei, Tjing Sin, dan lain-lain.

Pada 22 November 1981, terbentuklah organisasi baru bernama Organisasi Pemuda Pemudi Buddhis Vihara Ekayana (OPPVE). Organisasi ini bertujuan untuk mempersiapkan generasi sekaligus menghimpun kebersamaan di kalangan kaum muda. Sejumlah nama yang menjadi pengurusnya adalah Tommy DS, William Oey, dan Jenny Lo. OPPVE memiliki lingkup tugas dalam penyelenggaraan hari-hari besar Agama Buddha, bimbingan Sekolah Minggu, serta pembinaan bidang seni dan olahraga.

Perkembangan Buddha Sasana terus bergulir dalam ranah formal. Pada 1983, mata pelajaran Agama Buddha mulai diajarkan di sekolah. Frieda Lielawaty bertugas mengajar jenjang SMA, Ratna Chandra di jenjang SMP, serta Tan Siang Lie di jenjang SD. Dalam perjalanannya, para pengajar diwajibkan oleh Departemen Pendidikan untuk mengikuti kursus dan ujian persamaan yang digelar Departemen Agama Kaltim, agar memiliki sertifikat pengajar Agama Buddha dari Direktorat Jenderal Hindu-Buddha. Tercatat ada lima orang umat Buddha Samarinda yang mengikuti birokrasi ini, yakni Frieda Lielawaty, Lely Widyapadma, Tommy DS, Meiseni, dan Nely Nata. Kondisi ini semakin memantapkan posisi Buddha Dhamma di Kota Tepian.

Tak hanya berkiprah di wilayah Kalimantan Timur, umat Buddha Samarinda juga menorehkan sejarah dalam perkembangan Buddha Sasana nasional. Pada 1984, Bhikkhu Girirakkhito mendirikan Perwalian Umat Buddha Indonesia (Walubi) pertama dengan So Kim Leng (Pandita Kumuda Loka Sogata) menjadi ketua. Kala itu, Walubi menjadi satu-satunya organisasi yang mewadahi umat Buddha di seluruh Indonesia, dan memiliki posisi sejajar dengan organisasi-organisasi umat agama lain di level nasional.

Pada era 90-an, dinamika umat Buddha Samarinda semakin beragam. Kehadiran dua guru Agama Buddha asal luar Kalimantan, yaitu Padma Dhyana dari Cilacap, Jawa Tengah, dan I Putu Maryani dari Bali, memberikan sumbangsih yang sangat berharga. Bersama para pengurus yang sudah aktif sebelumnya, mereka semakin membesarkan Buddha Sasana. Sampai akhirnya, Vihara Ekayana sudah dirasa kurang memadai untuk mengakomodasi semua aktivitas umat. Rencana untuk memiliki vihara baru yang lebih representatif pun dimunculkan.

Atong Wiweko, salah satu umat, menawarkan lahan kapling perumahan yang cukup luas untuk para umat, yang berada di daerah Sempaja, Samarinda Utara. Sebagian dari lahan kapling tersebut disisihkan untuk cikal bakal vihara baru. Atong Wiweko menyumbangkan 4 (empat) kapling tanah tersebut untuk vihara, kemudian sisanya dijual kembali oleh para umat dan simpatisan yang membeli atau memiliki kapling tanah tersebut. Dengan demikian, luas lahan yang disiapkan untuk vihara mencapai sekitar 5.000 meter persegi, yang diharapkan dapat menjadi lokasi berdirinya vihara baru yang lebih besar.

Bhikkhu Uttamo pun memberikan respons positif terkait hal ini. Dengan sponsor utama Hero Wijaya dan dukungan dari Agus Sulisthio serta para donatur lainnya, serta kondisi perekonomian di Samarinda yang cukup baik pada waktu itu, maka pada 1 Juni 1992 dilakukan peletakan batu pertama pembangunan vihara baru yang akan diberi nama Vihara Muladharma. Peletakan batu pertama berlangsung tepat pada pukul 08.08 dan 8 detik.

Setahun kemudian, pada 1 Juni 1993, Vihara Muladharma yang telah selesai dibangun dengan tiga gedung utama—yaitu Dharmasala, Kuti, dan Ruang Service—diresmikan oleh Gubernur Kalimantan Timur, H.M. Ardans. Peresmian disaksikan oleh para anggota Bhikkhu Sangha Theravada Indonesia (STI) dan dihadiri oleh umat yang sangat antusias memiliki Vihara Muladharma yang representatif.

Semoga Vihara Muladharma dapat terus menjadi wadah bagi perkembangan Buddha Sasana dan kemajuan batin bagi para umatnya, agar terbebas dari segala bentuk penderitaan—Semoga semua makhluk berbahagia.

*Artikel ini bersumber dari dokumen Vihara Muladharma: 25 Tahun Vihara Muladharma (1Juni 1993-1 juni 2018).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *