Foto: Dok. Vihara Muladharma dan Ana Surahman
Semangat kaum muda untuk melakukan perubahan menjadi pendorong utama pertumbuhan dan perkembangan Buddha Sasana di Samarinda sejak 1962. Berbagai pencapaian penting telah berhasil diraih, menjadi tonggak sejarah yang membuat umat Buddha di kota ini semakin maju dalam penghayatan Dhamma.
Selama 23 tahun, Vihara Ekayana setia menjadi pusat aktivitas dan saksi bisu perkembangan agama Buddha di Kota Tepian. Namun, seiring waktu, bangunan semi permanen berlantai dua itu mulai terasa ringkih dan tidak memadai. Lonjakan jumlah umat dan dinamika kegiatan yang semakin kompleks menuntut adanya tempat ibadah yang lebih representatif dan sesuai dengan tuntutan zaman.
Inisiatif pembangunan vihara baru mendapatkan dukungan nyata dari umat. Atong Wiweko menawarkan sebidang lahan kapling perumahan yang cukup luas di daerah Sempaja, Samarinda Utara. Sebagian lahan tersebut disisihkan sebagai cikal bakal vihara baru. Atong Wiweko menyumbangkan 4 kapling tanah, sementara sisanya didanai oleh umat dan simpatisan yang membeli kapling tersebut. Total lahan yang terkumpul untuk vihara baru seluas sekitar 5.000 meter persegi, membuka harapan untuk membangun tempat ibadah yang lebih besar.
Meski begitu, perjalanan tidak berjalan mulus. Lokasi yang jauh dari pusat keramaian, kondisi lahan yang masih berupa semak belukar dan belum terjamah manusia, serta kekhawatiran mengenai sumber pendanaan sempat menjadi tantangan besar. Namun, berkat dorongan dan semangat tak kenal lelah dari Bhikkhu Uttamo, hasrat dan tekad umat Buddha Samarinda kembali bangkit untuk serius mewujudkan niat baik ini.

Pada tanggal 1 Juni 1992, upacara peletakan batu pertama pembangunan vihara baru akhirnya terselenggara. Momen bersejarah ini disaksikan oleh para anggota Sangha, sejumlah tokoh umat Buddha, serta para umat dari Samarinda dan kota-kota sekitarnya. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Hero Wijaya selaku sponsor utama pembangunan, pada pukul 08.08 dan 08 detik, penuh harapan akan keberkahan dan kemajuan di masa depan.
Setelah momen simbolis tersebut, Panitia Pembangunan Vihara beserta seluruh umat segera aktif melakukan penggalangan dana. Semangat gotong royong ini mengulangi perjuangan para sesepuh mereka dua dasawarsa sebelumnya saat membangun Vihara Ekayana. Donasi tidak hanya berhasil dikumpulkan dari umat di Samarinda, tetapi juga dihimpun dengan penuh dukungan dari para umat Buddha di berbagai kota besar di Indonesia. Perjuangan Ini bertujuan agar pembangunan kompleks vihara baru tersebut mampu mengejar target dalam satu tahun.
Bulan demi bulan berjalan, proses pembangunan pun terus menunjukkan hasil yang signifikan di bawah pengawasan langsung Bhikkhu Uttamo, dan komando So Kim Leng (Romo K. Sogata) sebagai pimpinan proyek didampingi Ir. Andriana selaku arsitek perencana dan Ir. Sucira pelaksana pembangunan. Setidaknya ada empat bangunan yang penyelesaiannya paling diutamakan, yakni Dhammasala atau ruang utama vihara yang digunakan sebagai tempat puja bhakti, Kuti atau tempat tinggal para bhikkhu, Ruang Service yang berisi dapur serta kamar tamu, serta fitur kompleks vihara yaitu Plaza Stupa maupun Plaza Bodhi. Menyusul setelahnya, gedung serbaguna serta Dhammaclass yang menjadi satu dengan ruang perpustakaan serta aula tempat tidur sekaligus gudang. Bangunan yang paling terakhir adalah Ruang Meditasi, yang terbangun atas jasa donatur khusus yang menyatakan kesediaannya pada awal 1992.
Dharmasala yang design bangunannya cukup indah dan khas juga mendapat perhatian khusus dalam pembangunan kompleks vihara baru ini, karena tidak sekadar menjadi ruang utama dan lokasi puja bhakti semata. Juga sudah dipersiapkan tanda Sima di sejumlah titik di dalam maupun di sekitar Dharmasala yang walaupun belum dikukuhkan oleh para bhikkhu sebagai ruang Upasatha, ruangan yang menghadap arah selatan itu di harapkan kelak juga bisa dijadikan sebagai tempat kegiatan anggota Sangha yang penting yaitu penabhisan Bhikkhu.

Begitupun dengan Kuti, yang berisi kamar-kamar tunggal tempat tinggal para bhikkhu. Dengan keberadaan bangunan ini, umat Samarinda akan lebih mudah untuk mengundang dan menjamu bhikkhu yang datang. Sehingga pembabaran Dhamma dari para anggota Sangha pun bisa lebih intensif.
Sedangkan Ruang Service menjadi segmen penting dalam kompleks vihara baru ini, terkait fungsinya sebagai area dapur untuk membantu umat dalam aktivitas di vihara. Selain itu, bagian tengah dari Ruang Service ini juga kerap digunakan sebagai ruang makan bhikkhu setelah menerima dana makanan dari para umat. Selebihnya, Ruang Service juga berisi dua kamar tunggal dan dua kamar yang berukuran lebih besar untuk tempat tamu menginap. Ruang tidur tersebut juga bisa digunakan para umat untuk bermalam, ketika mengikuti kegiatan-kegiatan kepemudaan.
Di samping itu, gedung serbaguna dipersiapkan untuk memfasilitasi aktivitas pengembangan bakat dan kreativitas umat. Hal ini ditandai dengan keberadaan satu panggung besar di dalamnya. Selebihnya, gedung serbaguna juga bisa digunakan sebagai ruang makan bagi peserta retreat meditasi, juga sebagai ruang penyerahan derma makan kepada para bhikkhu dalam acara-acara khusus yang dihadiri ratusan umat.
Pada 31 Januari 1992, empat bulan sebelum tenggat pembangunan, dua arca Buddha bergaya Borobudur berhasil didatangkan dari Muntilan, Jawa Tengah. Dua arca yang merupakan sumbangan umat ini terpahat dari batu khusus yang diharapkan mampu bertahan hingga ratusan tahun. Kemudian, melalui prosesi Abhiseka atau penyucian Buddharupang yang dipimpin Bhikkhu Uttamo, arca utama dengan berat ribuan kilogram tersebut berhasil ditempatkan di atas altar dalam Dhammasala. Sedangkan arca kedua ditempatkan di altar terbuka Plaza Bodhi, tepat di bawah naungan sebuah pohon Ficus religiosa. Konon pohon itu merupakan keturunan kesekian dari pohon Bodhi tempat Petapa Gotama mencapai penerangan sempurna di Bodh Gaya, India. Selain dua arca tersebut, juga ada sepasang arca singa dengan gaya pahatan yang sama, seperti yang terdapat pada candi-candi Buddha Nusantara. Sepasang arca singa ini ditempatkan di depan pelataran Dhammasala, siap menyambut umat yang datang untuk melakukan puja dan segala aktivitas lainnya di vihara.
Dalam perjalanannya, meskipun sejumlah halangan, kendala, dan masalah merintangi proses pembangunan vihara, namun pada tanggal 1 Juni 1993, vihara yang diberi nama “Muladharma” ini berhasil diresmikan oleh Gubernur Kaltim, HM Ardans, didampingi sejumlah unsur penting Pemerintah Daerah Tingkat I (kini Pemerintah Provinsi) Kaltim, Pemerintah Daerah Tingkat II (kini Pemerintah Kota) Samarinda, maupun perwakilan Departemen Agama (kini Kementerian Agama), dihadiri para tokoh Buddhis, para umat dan simpatisan.

Vihara Muladharma, terletak di Jl PM Noor yang dahulu lebih dikenal dengan nama Jl Inpres. Karena lokasinya yang relatif jauh dari pusat kota, Vihara Muladharma memiliki suasana yang lebih asri dan tenang. Sangat cocok untuk melatih diri lewat meditasi. Selain itu, Vihara Muladharma juga menjadi tempat pembinaan Buddha Sasana, maupun pengembangan kemampuan para generasi muda, berbarengan dengan yang berlangsung di Vihara Ekayana. Umat Buddha Samarinda juga berutang jutaan terima kasih kepada para donatur yang memberikan bantuan, hingga akhirnya Vihara Muladharma dapat berdiri dan terus memperbaiki diri sampai detik ini.
Kini, setelah lebih dari seperempat abad terlewati, banyak wajah yang silih berganti. Namun Vihara Muladharma tetap kokoh berdiri dan terus diperbaharui serta memberi manfaat bagi para umat, simpatisan dan semua makhluk. Bahkan telah diperkuat dengan hadirnya Sekolah Budi Bakti dari tingkat KB/Tk, SD, SMP dan SMA. Ini menjadi bukti, bahwa kehadiran Vihara Muladharma memang banyak memberi arti.
Keberadaan Vihara Muladharma, sebagai salah satu rumah ibadah umat Buddha terbesar di Samarinda, kian bersinar dengan terpilihnya sebagai lokasi Upacara Pengecoran Bagian Rupang Buddha Nusantara. Upacara yang digelar pada Minggu (1/2/2026) ini merupakan bagian dari persiapan menyambut Tahun Kencana Setengah Abad Sangha Theravada Indonesia. Peristiwa istimewa ini tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga mempertegas peran Vihara Muladharma sebagai saksi bisu perkembangan Agama Buddha di Kalimantan Timur.
Semoga Vihara Muladharma dapat terus berkembang untuk memberi manfaat bagi umat manusia dan semua makhluk.
*Sumber artikel: Dokumen Vihara Muladharma “25 Tahun Vihara Muladharma, 1Juni 1993-1 juni 2018”



































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































