• Sunday, 1 February 2026
  • Surahman Ana
  • 0

Foto: Ana Surahman

Upacara Pengecoran Bagian Rupang Buddha Nusantara tahap kedua berlangsung khidmat di Vihara Muladharma, Samarinda, Kalimantan Timur, Minggu (1/2/2026). Acara yang dimulai pukul 12.00 WITA ini dipimpin langsung oleh Ketua Umum Sangha Theravada Indonesia (STI), Bhikkhu Sri Subhapanno Mahathera.

Upacara ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Tahun Kencana Setengah Abad STI. Rencananya, proses pengecoran akan dilakukan di enam kota yang mewakili lima pulau besar Indonesia. Tahap pertama telah dilaksanakan di Medan (mewakili Sumatera) pada 18 Januari lalu. Samarinda mewakili Kalimantan, dan pengecoran akan berlanjut ke Bali, Palu (Sulawesi), serta Surabaya dan DKI Jakarta (Jawa).

Ketua Pelaksana Pengecoran Tahap Kedua, Thio Nofitarina Sulis, menyampaikan rasa syukur atas terpilihnya Vihara Muladharma sebagai tuan rumah acara bersejarah ini. Ia mengungkapkan antusiasme umat yang hadir tidak hanya dari Samarinda.

“Kepercayaan ini merupakan penghormatan sangat besar bagi kami, sekaligus menjadi ladang kebajikan dalam menyambut Tahun Kencana Setengah Abad Sangha Theravada Indonesia. Acara hari ini dihadiri oleh 30 bhikkhu Sangha, satu samanera, dan dua atthasilani, serta kurang lebih 700 umat Buddha dari berbagai daerah, tidak hanya dari Kalimantan Timur, tetapi juga perwakilan dari sejumlah provinsi di Pulau Kalimantan, Jakarta, Bali, dan Medan,” ungkap Nofitarina.

Dhamma dan Makna Rupang di Zaman Modern

Upacara diawali dengan persembahan logam oleh umat sebagai bahan baku pengecoran, dilanjutkan dengan puja bakti dan Dhammadesana oleh Bhikkhu Sri Subhapanno Mahathera. Dalam khotbahnya, Bhante menjelaskan perlunya Rupang Buddha di era saat ini.

“Pada masa 600 tahun setelah Guru Agung mangkat, ajaran Sang Buddha masih sangat dikenal dan masih konsisten di tengah masyarakat. Spiritual masyarakatnya masih tinggi sehingga tidak perlu rupang untuk membantu mengingat ajaran luhur,” jelas Bhikkhu Sri Subhapanno.

“Sementara manusia saat ini sangat jauh berbeda tingkat spiritualnya dengan orang-orang masa lalu. Maka dari itu, kita membutuhkan rupang Buddha sebagai gambaran, sebagai pengingat pada ajaran-ajaran luhur Sang Buddha Gautama sehingga kita bisa memahami Dhamma dengan benar, yang intinya adalah empat kebenaran mulia,” lanjut bhante.

Sebuah Warisan untuk Ibu Kota Nusantara

Bhikkhu Sri Subhapanno memaparkan bahwa rupang setinggi kurang lebih lima meter ini akan menjadi monumen sejarah, yang nantinya akan ditempatkan di vihara yang dibangun di Ibu Kota Nusantara (IKN).

“Ini akan menjadi sejarah bagi umat Buddha, terlebih yang ikut berpartisipasi dan mempersembahkan kepingan logam yang akan dilebur menjadi Buddha Rupang Nusantara ini,” tuturnya.

Beliau menekankan bahwa kesempatan berpartisipasi dalam peristiwa yang hanya terjadi 50 tahun sekali ini sangat berharga dan langka. Melalui rupang ini, Bhante berharap dapat membangkitkan semangat kebajikan.

“Dengan Rupang Buddha Nusantara ini, kami berharap dapat memunculkan semangat siapa pun yang melihatnya, khususnya umat Buddha, untuk selalu berbuat kebajikan. Dan kami dari Sangha selalu berusaha menggugah umat Buddha untuk senantiasa meningkatkan kualitas diri, berperilaku baik, dan memiliki kesadaran, sehingga sesulit apa pun kehidupan yang dihadapi, tidak mudah goyah,” pungkas bhante.

Sementara umat melaksanakan puja bakti, perajin Rupang Buddha Nusantara asal Pati, Jawa Tengah, Sugito Sutarmin (Mas Gito), melakukan peleburan logam persembahan umat. Seusai Dhammadesana, Bhikkhu Sri Subhapanno memberikan pemberkahan terhadap molding (cetakan) Rupang Buddha untuk memulai pengecoran.

Selanjutnya, Mas Gito memimpin pengecoran dengan menuangkan cairan logam ke dalam molding, diiringi lantunan paritta oleh para bhikkhu. Cuaca cerah menyertai upacara sakral ini hingga berakhir pada pukul 16.25 WITA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *