• Thursday, 5 November 2026
  • Surahman Ana
  • 0

Foto: Ana Surahman

Dalam rangka memperingati Tahun Kencana Setengah Abad Sangha Theravada Indonesia (STI), Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Syailendra sukses menyelenggarakan Seminar Pendidikan di Grand Artos Hotel Magelang pada Sabtu (31/10/2026). Kegiatan yang berlangsung dari pukul 12.00 hingga 17.00 WIB ini mengusung tema utama “Kebijaksanaan sebagai Dasar Pembangunan Moral Bangsa”. Kehadiran enam bhikkhu Sangha serta ratusan peserta yang terdiri atas akademisi, guru agama, penyuluh, romo dan ramani, hingga pengurus vihara se-Jawa Tengah dan Yogyakarta, menambah khidmat jalannya acara.

Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Syailendra, Namaskara, serta sajian seni berupa penampilan Tari Gambyong dan alunan merdu paduan suara Syailendra Dhammagosa. Seminar ini menghadirkan tokoh-tokoh penting di bidang pendidikan dan keagamaan, termasuk Sanghapamokkha Sangha Theravada Indonesia, Y.M. Bhante Sri Pannavaro Mahathera, sebagai keynote speaker. Selain itu, hadir pula dua narasumber ahli, yakni Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan & Psikologi UNNES, Prof. Dr. Purwo Susongko, S.Pd., M.Pd., dan Wakil Ketua Bidang Akademik STAB Syailendra, Dr. Suranto, S.Ag., M.A. Seluruh jalannya diskusi dipandu dengan apik oleh Totok Tejamano, S.Ag., M.Hum., selaku Penyuluh Agama Buddha Kota Yogyakarta.

Ketua STAB Syailendra, Kustiani, Ph.D., dalam sambutannya mengungkapkan bahwa seminar ini merupakan wujud nyata kerja sama antara Panitia Nasional Tahun Kencana Setengah Abad Sangha Theravada Indonesia dan STAB Syailendra. Melalui sinergi tersebut, ia berharap hubungan antara Sangha dan lembaga pendidikan Buddhis semakin kokoh dalam membangun karakter serta menumbuhkan generasi muda Buddhis yang berpengetahuan luas, bermoral, dan penuh kebijaksanaan.

“Pendidikan yang menumbuhkan kesadaran dan kebijaksanaan membutuhkan proses pendampingan yang penuh kepedulian serta keteladanan. Semoga setelah seminar ini ada satu pemahaman yang semakin jernih dan satu langkah nyata yang dapat kita mulai dalam menjalankan peran pendidikan kita,” terang Kustiani.

Ia menambahkan bahwa tema seminar kali ini mengajak para pendidik agama Buddha untuk merefleksikan bagaimana pengetahuan yang dimiliki peserta didik dapat bertransformasi menjadi kebijaksanaan yang menuntun pada tindakan nyata.

“Kita tentu mengharapkan peserta didik mampu memahami pelajaran dan mencapai prestasi, tetapi bersamaan dengan itu pula kita juga berharap mereka tumbuh menjadi pribadi yang jujur, peduli, mampu mengendalikan diri, serta bertanggung jawab terhadap sesama. Di sinilah pendidikan mempunyai tugas yang mendalam,” tandasnya.

Memasuki sesi inti, Sanghapamokkha Sangha Theravada Indonesia, Y.M. Bhante Sri Pannavaro Mahathera, melalui rekaman video menyampaikan pesan pendidikan yang mendalam mengenai perjalanan panjang Sangha dan esensi Buddha Dhamma. Beliau menuturkan bahwa sejak awal Guru Agung Buddha Gautama memberikan khotbah pertama kepada lima pertapa di Taman Kijang Isipatana dekat kota Benares, pendidikan telah menjadi fondasi utama. Dari landasan pendidikan dan latihan yang matang tersebut, kelima pertapa mampu mencapai tingkat kesucian tertinggi dalam waktu singkat. Sepanjang 45 tahun masa pembabaran Dhamma, Sang Buddha senantiasa menghargai pentingnya pendidikan, yang kemudian melahirkan persamuan para bhikkhu atau Sangha sebagai penjaga ajaran suci hingga lebih dari 2.600 tahun lamanya.

“Kalau seandainya tidak ada pendidikan, seandainya tidak ada lembaga yang lahir dari pendidikan, tidak mungkin Dhamma ajaran Guru Agung Buddha Gautama akan bertahan dan akan memberikan manfaat bagi kita dan bagi dunia,” tegas Bhante.

Lebih lanjut, Bhante menjelaskan bahwa pendidikan Buddhis bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan pembentukan manusia seutuhnya melalui Sikkha atau latihan. Tiga pilar utama Sikkha tersebut meliputi Sila Sikkha (melatih diri menjaga perilaku melalui Pancasila Buddhis agar terhindar dari melakukan kejahatan), Citta Sikkha (melatih mental dan pikiran melalui kesadaran dan ketekunan agar terbebas dari niat buruk), serta Panna Sikkha (membekali diri dengan pengetahuan yang luas agar mampu memahami kebenaran sejati dan hukum sebab akibat).

“Seseorang yang tidak peduli dengan pengetahuan yang luas, tidak peduli dengan latihan kebijaksanaan, atau panna sikkha, tidak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar, sulit melihat hubungan sebab akibat. Orang yang cupet pengetahuan akan mudah termakan hasutan, mudah termakan oleh hoaks, dan itu akan sangat berbahaya bagi dirinya dan juga bagi keluarga dan juga masyarakat,” ujar Bhante.

Ia juga mengingatkan bahwa kecerdasan intelektual dan keterampilan harus selalu diimbangi dengan moralitas, sebab tanpa sila dan etika, kecerdasan justru berisiko disalahgunakan untuk melakukan kejahatan.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Ketua Yayasan Pendidikan Dharma Syailendra, Bhikkhu Dr. Jotidhammo Mahathera, yang menyoroti pentingnya membumikan ajaran Buddha dalam konteks sosial masyarakat. Menurutnya, membangun moral individu melalui Pancasila tentu berbeda dengan merawat moral sosial yang melibatkan banyak orang.

“Beda antara moral individu dengan moral sosial. Kalau moral individu bisa kita pakai Pancasila Buddhis, tapi kalau moral masyarakat perlu kita dalami lebih lanjut. Karena orang banyak itu harus kompak, kalau tidak ya pecah. Padahal masyarakat itu yang diharapkan harmoni, apalagi masyarakat kita ini mulai sejak dulu sejak zaman sebelum kemerdekaan, masyarakat kita selalu menjunjung keharmonisan, maunya itu rukun. Di mana sampai ada istilah ‘rukun agawe santosa, crah agawe bubrah’. Nah, itu sudah ada, sebenarnya moral bangsa kita sudah tinggi sekali, hanya bagaimana ini bisa diaplikasikan dan dipertahankan dalam menghadapi perkembangan zaman yang serba canggih seperti sekarang,” jelas Bhante Jotidhammo. Ia juga mengajak umat Buddha untuk merefleksikan kembali budaya rukun di tengah gempuran teknologi dan gawai yang dapat memengaruhi kualitas interaksi sosial manusia.

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi dari para narasumber ahli. Prof. Dr. Purwo Susongko, S.Pd., M.Pd., memaparkan materi mengenai Teori Pendidikan Budi yang berfokus pada pentingnya peran kesadaran. Materi ini mengupas bagaimana menjembatani kesenjangan antara pengetahuan seseorang tentang perbuatan baik dan kemampuan mengeksekusinya dalam tindakan nyata, sebuah aspek krusial bagi para pendidik dan tokoh agama dalam membentuk karakter peserta didik. Sementara itu, Dr. Suranto, S.Ag., M.A., mengakhiri sesi materi dengan membawakan topik “Etnopedagogi Asah, Asih, Asuh Berbasis Buddha Dhamma”. Melalui pemaparan ini, ia mengajak para peserta untuk menggali kekayaan kearifan lokal Nusantara, menghadirkan keteladanan, serta memberikan pengasuhan penuh kasih yang mampu menumbuhkan nilai-nilai kebajikan secara berkelanjutan dalam keseharian peserta didik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *