• Thursday, 1 October 2026
  • Ngasiran
  • 0

Foto: Ngasiran

Yang paling sulit dilepas dalam Pabbajjā bukan rambut, jubah, atau status keduniawian. Yang paling sulit adalah “aku”.

Pesan itulah yang ditekankan Bhante Sri Subalaratano kepada 45 calon Pabbajjā-Upasampadā khusus pandita Magābudhi di Vihāra Vipassanā Giriratana, Gunung Sindur, Kamis (24/9/2026).

Bertindak sebagai Upajjhāya, Bhante mengingatkan bahwa memasuki kehidupan pabbajita bukan sekadar meninggalkan identitas dan atribut keduniawian. Lebih jauh, Pabbajjā adalah latihan untuk mengikis lobha, dosa, dan moha, terutama keakuan yang menjadi sumber kemelekatan dan penderitaan.

“Keakuan inilah yang menjadi sumber kemelekatan dan penderitaan manusia,” pesan Bhante.

Selama ini manusia mudah melekat pada tubuh, nama, status, penampilan, bahkan pendapatnya sendiri. Apa yang dianggap sebagai “milikku” dan “diriku” terus dipertahankan, meskipun semuanya berada dalam proses perubahan.

Karena itu, Bhante mengajak para calon merenungkan kesa, loma, nakha, danta, dan taco—rambut, bulu, kuku, gigi, dan kulit. Lima bagian tubuh yang kerap dianggap sebagai sumber keindahan itu, bila diamati dengan benar, ternyata tidak pernah berhenti berubah: tumbuh, menua, rusak, dan akhirnya ditinggalkan.

Namun memahami ketidakkekalan tubuh bukan berarti membencinya.

“Memang tubuh ini penting, tetapi jangan melekat.”

Di situlah makna pelepasan menjadi lebih dalam. Yang hendak dilepaskan bukan sekadar apa yang tampak dari luar, melainkan kemelekatan yang bersemayam di dalam diri.

Sebab selama “aku” masih menjadi pusat, kemelekatan akan terus tumbuh. Dari sanalah muncul keinginan untuk mempertahankan diri, membeda-bedakan, dan menganggap pandangan sendiri sebagai yang paling utama.

Maka Pabbajjā bukan hanya perjalanan meninggalkan kehidupan duniawi. Ia adalah perjalanan untuk melepaskan “aku”—sesuatu yang jauh lebih sulit daripada sekadar mencukur rambut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *