Foto: Ngasiran dan BFI
Sebagian besar merupakan lulusan Sekolah Asoka Singkawang. Mereka akan menempuh pendidikan tinggi di empat kampus ternama di Tiongkok.
Sembilan anak muda dari Singkawang dan sekitarnya, Kalimantan Barat, bersiap meninggalkan rumah dan keluarga untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Tiongkok. September 2026 ini, mereka dijadwalkan berangkat melalui program Pintu Belajar Buddhist Fellowship Indonesia.
Kesembilan anak berprestasi tersebut berasal dari keluarga prasejahtera. Mereka juga belum pernah meninggalkan Kalimantan, apalagi bepergian ke luar negeri. Sebagian besar merupakan lulusan Sekolah Asoka Singkawang, sementara satu di antaranya berasal dari sekolah berbeda.
Mereka akan menempuh pendidikan di empat perguruan tinggi, yakni Hainan College of Foreign Studies, Yunnan Normal University di Kunming, Liming Vocational University di Quanzhou, serta Sichuan University of Science and Engineering di Yibin, Sichuan.
Saat ditemui BuddhaZine pada Senin, 24 Agustus 2026, di kantor Buddhist Fellowship Indonesia (BFI), Kelapa Gading, Jakarta, President Buddhist Fellowship Indonesia Lenie Choe mengatakan sebagian anak tersebut telah mendapatkan dukungan Pintu Belajar sejak masih bersekolah.
Bagi anak-anak tersebut, kesempatan kuliah di Tiongkok menjadi pengalaman besar.
“Mungkin ini adalah mimpi-mimpi mereka, doa-doa mereka yang dikabulkan. Mimpi-mimpi yang bisa terwujud pada tahun 2026 ini,” ujar Lenie Choe.
Terima kasih dan anumodana kepada Ibu-Ibu Buddhist Fellowship Indonesia serta para donatur yang telah mendukung program Pintu Belajar Buddhist Fellowship Indonesia.
Dari Singkawang
Sebagian besar anak yang akan berangkat merupakan lulusan Sekolah Asoka Singkawang, sekolah di bawah naungan Yayasan Bahusutta yang diketuai oleh Bhante Tithayanno dan pembinanya adalah Lilian Halim, yang juga merupakan founder Pintu Belajar Buddhist Fellowship Indonesia.
Salah satu bekal yang dimiliki lulusan Sekolah Asoka adalah kemampuan bahasa Mandarin.
Menurut Lenie Choe, kemampuan tersebut cukup kuat di kalangan siswa Asoka. Sejumlah siswa juga pernah mendapat pengalaman magang di perusahaan Tiongkok di kawasan Morowali Industrial Park, Sulawesi.
“Murid-muridnya sudah terkenal fasih berbahasa asing, terutama bahasa Mandarin. Bahasa Mandarinnya sangat kuat,” kata Lenie.
Pengalaman tersebut menjadi bekal sebelum mereka melanjutkan pendidikan di Tiongkok. Mereka datang dari latar belakang pendidikan yang berbeda dan kemudian mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi melalui Pintu Belajar.
Lenie mengatakan, keinginan untuk belajar di Tiongkok juga muncul karena anak-anak melihat perkembangan negara tersebut.
“Mereka ingin belajar di sana supaya nantinya bisa mengaplikasikan ilmunya di Indonesia,” ujarnya.

Stewin, Veni, dan Aprilia
Salah satu anak yang akan berangkat adalah Stewin Liupoliza. Ia tinggal di Asrama Asoka selama tiga tahun setelah mendapat saran dari kepala sekolahnya ketika masih SMP.
Stewin mengambil jurusan Usaha Layanan Pariwisata dan memiliki hobi shufa atau kaligrafi. Selama di sekolah, ia juga meningkatkan kemampuan bahasa Mandarin dasarnya.
“Motivasi saya belajar giat adalah agar nilai saya tidak jelek, HP tidak disita di asrama, dan saya bisa berhasil menjadi juara kelas,” kata Stewin.
Di Tiongkok, Stewin akan melanjutkan pendidikan di Yunnan Normal University. Ia akan mengikuti program bahasa selama satu tahun sebelum melanjutkan ke bidang Teknik Elektro.
Cerita berbeda datang dari Veni Adrianty. Ia bersekolah di Asoka sejak TK hingga SMK. Selama bersekolah, Veni aktif mengikuti lomba baca Paritta dan Dhammapada dan meraih sejumlah prestasi sejak SD hingga SMK.
Ayah Veni meninggal ketika ia berusia 10 tahun. Kondisi keluarga menjadi salah satu dorongan baginya untuk terus belajar, termasuk mengembangkan kemampuan bahasa Mandarin dan barongsai.
“Saya ingin melanjutkan pendidikan tinggi di Tiongkok jurusan Bisnis agar kelak dapat membantu keluarga serta membuat produk yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Veni.
Sementara itu, Aprilia masuk Sekolah Asoka sejak SMP. Di SMK, ia mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual dan mengembangkan ketertarikannya pada fotografi.
Setelah orang tuanya berpisah ketika ia masih SD, Aprilia dibesarkan oleh ibunya. Setelah lulus sekolah, ia sempat fokus merawat neneknya yang sakit.
Perjalanan ke Jakarta untuk mempersiapkan dokumen dan visa menjadi pengalaman baru bagi Aprilia. Ia untuk pertama kalinya naik pesawat sekaligus melihat langsung suasana ibu kota.
Di Tiongkok, Aprilia akan mengikuti program 1+4 di Yunnan Normal University: satu tahun belajar bahasa, kemudian empat tahun pendidikan di bidang Bisnis dan Manajemen.

Bersiap Hidup di Lingkungan Baru
Kuliah di Tiongkok juga berarti menghadapi lingkungan yang berbeda dari yang selama ini mereka kenal. Mereka akan bertemu dengan mahasiswa dari berbagai negara, dengan bahasa, budaya, kebiasaan, dan karakter yang beragam.
Karena itu, sebelum berangkat, anak-anak tersebut mendapatkan pembekalan selama berada di Jakarta. Mereka belajar mengelola uang saku, menjaga diri dalam pergaulan, mengelola stres, serta beradaptasi dengan lingkungan baru.
Lenie Choe mengatakan kemampuan beradaptasi akan menjadi bagian penting dari kehidupan mereka di Tiongkok.
“Bagaimana mereka bisa beradaptasi di lingkungan baru dan tentu saja bisa bergaul dengan teman-teman internasional, tapi juga mempunyai benteng buat diri sendiri,” katanya.
Menurut Lenie, mereka perlu terbuka terhadap pengalaman baru, tetapi tetap mampu memilah hal-hal yang ditemui di lingkungan pergaulan.
“Bagaimana mereka bisa bergaul dengan teman-teman internasional, tapi juga mempunyai benteng buat diri sendiri supaya mereka hanya belajar mengadopsi hal-hal positif saja,” ujar Lenie.

Enam Bulan Menyiapkan Keberangkatan
Di balik keberangkatan sembilan anak tersebut terdapat proses yang telah berlangsung sekitar enam bulan. Berbagai dokumen dan aplikasi harus disiapkan untuk memenuhi persyaratan universitas dan perjalanan ke Tiongkok.
Prosesnya tidak selalu berjalan lancar. Beberapa dokumen sempat ditolak sehingga harus diperbaiki dan dilengkapi kembali.
“Prosesnya memang tidak mudah. Banyak hal-hal yang perlu disiapkan. Kemudian pada awal-awal ada dokumen juga yang ditolak, kemudian diperbaiki lagi, diisi kembali,” ujar Lenie.
Setelah melalui proses aplikasi, kesembilan anak akhirnya diterima di universitas yang dituju. Kini mereka berada di Jakarta untuk mempersiapkan keberangkatan dan memasuki tahap pengurusan visa.
Mereka masih menunggu panggilan dari Visa Center Tiongkok. Jika seluruh proses berjalan lancar, September ini mereka akan berangkat.
Harapan Setelah Lulus
Pendidikan di Tiongkok diharapkan menjadi bekal bagi anak-anak tersebut untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri. Lenie mengatakan, setelah lulus nanti, sebagian dari mereka mungkin akan berkarya di luar negeri terlebih dahulu untuk mendapatkan pengalaman, sementara sebagian lainnya diharapkan kembali ke Indonesia.
“Mudah-mudahan anak-anak tersebut nanti setelah lulus, mungkin ada sebagian dari mereka berkarya di luar negeri dan membawa nama baik untuk Indonesia, mungkin juga sebagian kembali ke Indonesia, sehingga mereka bisa mengaplikasikan ilmu yang mereka dapatkan di Tiongkok,” kata Lenie.
Ilmu tersebut juga diharapkan dapat membantu mereka memperbaiki kehidupan keluarga. Anak-anak yang berasal dari keluarga prasejahtera itu diharapkan kelak mampu mandiri dan membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga mereka, terutama di Kalimantan Barat.
Dari Singkawang dan sekitarnya, sembilan anak ini kini bersiap melangkah lebih jauh. Mereka membawa cerita keluarga, pengalaman pendidikan, serta cita-cita masing-masing.
Bulan ini, mereka akan memulai kehidupan baru di Tiongkok. Bukan hanya untuk mendapatkan gelar, tetapi untuk membuka kesempatan baru bagi masa depan—dan suatu hari membawa ilmu yang diperoleh kembali untuk memberi manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan Indonesia.






















































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































