Teja Harsoyo, napi Lapas Kelas I Cipinang, saat ditemui Ketua Umum WANDANI Wenny Lo bersama sejumlah pengurus WANDANI dan Yulie dari Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya, Senin, 24 Agustus 2026. Sumber: Buddhazine/Ngasiran

Oleh Muhammad Mukhlisin

Siang itu Jakarta sedang terik-teriknya ketika saya berdiri di luar Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Cipinang. Bayangan saya tentang LP Cipinang ini seram, tembok tinggi, pintu besi, penjagaan ketat, dan wajah-wajah keras narapidana yang bergerombol di balik jeruji. Layaknya tahanan-tahanan di film Escape from Alcatraz (1979) atau Film Korea The Prison (2017).

Bayangan itu luntur.

“Jangan membayangkan seperti di film-film,” kata Teja Harsoyo, beberapa menit setelah saya berkenalan dengannya. Ia warga binaan yang telah menghabiskan sekitar sepuluh tahun hidupnya di Lapas Cipinang, setelah sebelumnya tiga sampai empat tahun menjalani masa pidana di Lapas Salemba. Teja bukan narapidana biasa. Ia pernah divonis pidana mati dalam kasus narkotika, belakangan berubah menjadi pidana seumur hidup. Tak lain, karena perilaku-perilaku baik yang dilakukannya semasa di penjara. 

Saya datang untuk menemuinya. Malam sebelum kunjungan, seorang teman baik, Ngasiran, mengirimkan video podcast tempat Teja diwawancarai tentang perjalanan hidupnya. Saya menontonnya serius, saya juga catat pakai notebookllm, sebuah platform AI dari google . Mulanya, saya kira podcast ini narapidana yang sedang menjalani hukuman panjang. Tetapi semakin lama saya mendengarkan, saya justru mendapatkan pelajaran kehidupan yang sangat berharga, bagaimana menghadapi kehilangan, berhadapan dengan sesuatu yang tidak pernah ia inginkan, dan belajar menerima kenyataan ketika kenyataan itu sama sekali tidak sesuai dengan rencana hidup.

Teja menyebutnya empat tahap: menolak, menerima, ikhlas, lalu melangkah maju. Empat kata yang terdengar sederhana. Namun bagi seseorang yang pernah berdiri di ambang kematian, kata-kata itu bukan teori. Ia adalah pengalaman hidup.

“Kenapa Harus Saya?”

Ketika masalah besar datang, kata Teja dalam podcast yang saya tonton malam itu, manusia biasanya masuk ke tahap pertama: penolakan. Kita bertanya mengapa ini terjadi, kenapa harus saya, kenapa bukan orang lain, mengapa hidup saya berubah seperti ini. Pada fase itu pikiran kita menolak kenyataan yang sudah terjadi, terus berharap kenyataan berubah menjadi sesuatu yang kita inginkan. Justru di sanalah, menurut Teja, penderitaan mental sering kali bermula.

Saya teringat kalimat-kalimat itu ketika akhirnya bertemu dengannya. Wajah Teja tidak seperti bayangan saya tentang seorang terpidana mati. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak, tidak ada kepahitan yang sengaja dipertontonkan. Yang saya lihat justru wajah yang tenang dan terbuka. Ia menjawab pertanyaan kami dengan santai, sesekali tersenyum, tidak tampak seperti seseorang yang sedang berusaha menyembunyikan masa lalunya—padahal hidup pernah menempatkannya di titik yang sangat gelap.

Momen paling berat, ceritanya, justru terjadi ketika polisi datang menjemputnya. Saat itu ia baru saja mengantar anaknya masuk sekolah dasar untuk pertama kalinya. Anaknya sedang berada pada salah satu fase paling membahagiakan dalam hidup seorang anak: mengenakan seragam baru, memasuki sekolah baru, mengenal teman-teman baru. Pada hari yang sama, dunia Teja runtuh.

Bukan semata karena dirinya akan ditangkap, melainkan karena dalam hitungan menit ia membayangkan harus berpisah dari anak yang baru saja memulai kehidupan sekolahnya, seorang ayah yang baru mengantar anaknya menuju gerbang sekolah, tiba-tiba harus bersiap menghadapi kemungkinan tidak lagi bisa mendampingi perjalanan hidup anak itu.

Ada kesedihan yang tidak mudah dijelaskan dalam adegan semacam itu. Sebab hukuman, pada akhirnya, tidak hanya dirasakan oleh orang yang berada di balik jeruji. Ia merembes ke rumah, ke meja makan, ke kamar tidur, ke anak-anak yang menunggu, ke orang tua yang menua, ke keluarga yang harus terus menghadapi kerasnya dunia tanpa sosok suami dan ayah.

Hati saya penuh sesak, tangan gemetar, mendengar cerita Teja siang itu. 

Menerima Tidak Selalu Berarti Ikhlas

Tahap kedua, kata Teja, adalah menerima. Tetapi menerima, menurutnya, belum tentu berarti ikhlas, perbedaan kecil yang terasa sangat dalam. Kita bisa menerima karena memang tidak punya pilihan lain: menerima bahwa pintu sudah tertutup, bahwa masa lalu tidak mungkin diulang, bahwa hukuman harus dijalani. Tetapi hati kita masih bisa menggerutu, masih bertanya, masih kecewa, masih menyimpan luka.

Karena itu, bagi Teja, menerima dan ikhlas adalah dua hal berbeda. Ikhlas adalah tahap yang lebih jauh: tidak lagi terus-menerus berperang dengan kenyataan. Bukan berarti melupakan kesalahan, bukan berarti mengatakan bahwa semua yang terjadi adalah benar, dan bukan pula berarti menyerah. Di sinilah Teja melontarkan satu kalimat yang saya rasa penting untuk dicatat: “Ikhlas tetapi tidak pasrah.”

Sering kali kita mengira ikhlas berarti berhenti berusaha. Padahal menurut Teja, seseorang bisa menerima keadaan yang tidak bisa diubah, sekaligus tetap melakukan sesuatu yang masih bisa dilakukan. Takdir atas hari kemarin tidak dapat diubah, tetapi sikap kita terhadap hari ini masih berada di tangan kita.

Teja Harsoyo, napi Lapas Kelas I Cipinang, saat ditemui Ketua Umum WANDANI Wenny Lo bersama sejumlah pengurus WANDANI dan Yulie dari Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya, Senin, 24 Agustus 2026. Sumber: Buddhazine/Ngasiran
Teja Harsoyo, warga binaan Lapas Kelas I Cipinang, saat ditemui Ketua Umum WANDANI Wenny Lo bersama sejumlah pengurus WANDANI dan Yulie dari Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya, Senin, 24 Agustus 2026. Sumber: Buddhazine/Ngasiran

Vihara di Balik Tembok

Siang itu saya tidak datang sendirian. Saya menemani Ngasiran yang mendapat tugas mewawancarai Teja untuk Buddhazine.com—saya sendiri lebih sering berada di belakang layar sebagai editor dan jarang mendapat kesempatan turun langsung meliput. Kunjungan ini terwujud berkat bantuan Ibu Wenny dari WANDANI, Wanita Theravada Indonesia, yang selama ini terlibat dalam pembinaan umat Buddha di lingkungan Lapas Cipinang.

Kami bertemu lebih dulu di kantin luar lapas. Di sana saya berkenalan dengan Ibu Wenny dan menjelaskan bahwa saya bekerja di Yayasan Cahaya Guru. Sebelum masuk, kami menunggu Yuli, nama yang bagi banyak orang di lingkungan Lapas Cipinang tampaknya bukan nama asing. Yuli adalah umat Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya yang rutin keluar-masuk lapas untuk memberikan pelayanan di vihara yang berada di dalam kompleks tersebut. Di antara para petugas, ia bahkan dikenal sebagai “Ibu Lapas”. Yuli kemudian membantu kami melewati proses masuk, menjemput hingga area pengamanan, dan membawa kami menuju kompleks vihara.

Begitu melewati pintu dan masuk lebih jauh, bayangan saya tentang lapas perlahan berubah. Suasananya relatif tenang, beberapa petugas berjaga, dan tidak ada adegan seperti yang selama ini memenuhi imajinasi saya lewat film. Di dalam vihara, udara terasa sejuk—pendingin ruangan membuat suasana jauh berbeda dari teriknya Jakarta di luar. Di sebuah ruangan, sekitar sepuluh warga binaan sedang bekerja, tangan-tangan mereka sibuk membuat kerajinan bunga. Bukan bunga sungguhan, melainkan bunga yang lahir dari kesabaran, ketelitian, dan tangan manusia.

Karya-karya warga binaan Buddhis di Lapas Cipinang ternyata tidak berhenti di balik tembok lapas. Sejumlah hasil karya mereka telah digunakan dalam kegiatan Buddhis di luar lapas. BuddhaZine sebelumnya mencatat pelita berbentuk teratai yang digunakan dalam prosesi di Borobudur. Karya tersebut merupakan hasil pembinaan Yayasan Cattari Ariya Saccani, yayasan Buddhis yang fokus pada pendampingan warga binaan Buddhis di Lapas Cipinang, di bawah bimbingan Bhikkhu Sri Subalaratano Mahāthera.

Dalam pembinaan tersebut, warga binaan tidak hanya mendapatkan pendampingan keagamaan, tetapi juga dilatih berbagai keterampilan kerajinan tangan. WANDANI turut mendampingi, khususnya dalam pelatihan membuat teratai dari kawat bulu, yang kemudian diajarkan kembali kepada warga binaan lainnya. Ada sesuatu yang terasa paradoks di tempat itu: di balik tembok yang membatasi kebebasan, ada tangan-tangan yang justru menciptakan bunga, teratai, dan cahaya—bekal keterampilan yang diharapkan dapat membantu mereka membangun kembali kepercayaan dan kehidupan ketika kelak kembali ke masyarakat.

“Kalau Kami Sampah Masyarakat…”

Percakapan kami dengan Teja berlangsung tanpa kesan menggurui. Ia tidak mencoba tampil sebagai orang suci, tidak sedang meminta kami melupakan masa lalunya, dan tidak sedang mencari pembenaran. Ia hanya bercerita—tentang dirinya, kesalahan, hukuman, keluarga, waktu yang berjalan sangat lambat di balik jeruji, dan tentang bagaimana manusia masih bisa memilih apa yang dilakukan dengan sisa hidupnya.

Ada satu kalimatnya yang terus terngiang sampai sekarang. “Kalau kami ini adalah sampah masyarakat,” katanya, “maka jadilah sampah yang berguna.” Ia lalu mengibaratkannya seperti sampah yang bisa menjadi kompos, atau sampah yang dapat didaur ulang.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi saya membawanya pulang. Sebab mungkin yang paling penting bukan bagaimana seseorang diberi label oleh masyarakat, melainkan apa yang ia lakukan setelah label itu melekat. Seseorang bisa pernah jatuh, pernah melakukan kesalahan, pernah berada pada titik yang membuat hidupnya berubah total. Tetapi apakah seluruh hidupnya harus didefinisikan oleh satu kesalahan? Pertanyaan itu terasa lebih rumit ketika kita berdiri berhadapan dengan seseorang yang telah menghabiskan bertahun-tahun di balik tembok penjara.

Anak yang Akhirnya Tahu

Ada satu bagian lain dari cerita Teja yang membuat saya terdiam. Anaknya, katanya, baru belakangan mengetahui keadaan ayahnya secara lebih utuh, setelah menonton podcast Teja beberapa waktu lalu. Barangkali selama bertahun-tahun seorang anak hanya mengetahui bahwa ayahnya tidak berada di rumah. Tetapi bagaimana rasanya melihat ayah sendiri bercerita di layar tentang kehidupan yang selama ini tidak sepenuhnya ia pahami—mendengar suaranya bercerita tentang penangkapan, penjara, vonis, masa lalu?

Mungkin ada banyak pertanyaan yang tidak langsung menemukan jawabannya, dan mungkin ada pula perasaan yang tidak mudah diberi nama: marah, sedih, rindu, bingung, atau mungkin semuanya sekaligus. Di balik setiap perkara pidana, selalu ada manusia-manusia lain yang ikut menjalani akibatnya. Itulah sebabnya kisah tentang penjara tidak pernah hanya tentang orang yang dipenjara. Ia juga tentang keluarga, anak, ibu, ayah, orang-orang yang menunggu, dan waktu yang terus berjalan meski seseorang sedang berhenti di sebuah ruang yang dibatasi tembok.

Tahap Terakhir: Melangkah

Setelah penolakan, penerimaan, dan keikhlasan, Teja menyebut tahap terakhir: move on, melangkah maju. Bukan melupakan masa lalu, bukan menghapus kesalahan, bukan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja—melainkan berhenti memberikan seluruh energi kepada sesuatu yang sudah tidak dapat diubah. Masa lalu tetap ada, hukuman tetap harus dijalani, kesalahan tetap menjadi bagian dari sejarah hidup. Namun hari ini masih tersedia, dan selama hari ini masih ada, seseorang masih bisa melakukan sesuatu: membuat bunga, membuat kerajinan, belajar, berdoa, membantu orang lain, mengubah diri, atau sekadar menjadi manusia yang sedikit lebih baik daripada kemarin.

Mungkin itulah makna terdalam dari “move on” yang dimaksud Teja. Bukan pergi dari masa lalu, tetapi tidak lagi hidup sepenuhnya di dalamnya.

Teja Harsoyo, napi Lapas Kelas I Cipinang, dengan teliti membuat hiasan bunga teratai bersama para narapidana lain, Senin, 24 Agustus 2026. Sumber: Buddhazine/Ngasiran
Teja Harsoyo, warga binaan Lapas Kelas I Cipinang, dengan teliti membuat hiasan bunga teratai bersama para narapidana lain, Senin, 24 Agustus 2026. Sumber: Buddhazine/Ngasiran

Teratai dari Balik Jeruji

Sebelum meninggalkan Lapas Cipinang, saya kembali melihat bunga-bunga yang dibuat para warga binaan. Saya teringat teratai. Dalam Buddhisme, teratai sering digunakan sebagai gambaran tentang kehidupan: tumbuh dari lumpur, menembus air, lalu mekar di permukaan. Bunga itu tidak lahir dari tempat yang bersih—ia justru tumbuh dari dasar yang keruh. Tetapi lumpur tidak menentukan keindahan bunganya.

Mungkin kehidupan manusia juga demikian. Kita tidak selalu bisa memilih dari mana kita berasal, tidak selalu bisa memilih kesalahan yang pernah terjadi, tidak selalu bisa mengubah masa lalu. Tetapi mungkin kita masih bisa memilih apa yang akan kita lakukan setelah semuanya terjadi.

Di Lapas Cipinang, saya datang dengan bayangan tentang narapidana. Saya pulang membawa pelajaran tentang manusia. Saya datang untuk menemani seorang teman melakukan wawancara. Saya justru merasa sedang diwawancarai oleh kehidupan.

Teja mengajarkan bahwa ketika hidup memberikan sesuatu yang tidak kita kehendaki, kita mungkin akan menolaknya terlebih dahulu, lalu perlahan belajar menerima, kemudian—jika cukup panjang menjalani prosesnya—belajar ikhlas, dan akhirnya belajar melangkah. Menolak, menerima, ikhlas, melangkah. Mungkin kita tidak perlu berada di balik jeruji untuk mengalami semuanya, sebab setiap manusia, pada satu titik dalam hidupnya, akan berhadapan dengan sesuatu yang tidak bisa ia ubah: kehilangan orang yang dicintai, kegagalan, penyakit, perpisahan, kesalahan, kematian, atau sebuah kenyataan yang datang terlalu cepat.

Dan ketika itu terjadi, barangkali pertanyaannya bukan lagi “mengapa ini terjadi kepada saya?”, melainkan “apa yang masih bisa saya lakukan dengan kehidupan yang tersisa?”

Saya teringat lagi kalimat Teja: “Kalau kami ini sampah masyarakat, maka jadilah sampah yang berguna.” Mungkin manusia memang tidak selalu bisa memilih bagaimana hidupnya dimulai. Tetapi ia masih memiliki kesempatan untuk memilih bagaimana sisa hidupnya dijalani—seperti bunga yang tumbuh dari lumpur, seperti teratai yang tetap memilih mekar, bahkan ketika ia tumbuh di tempat yang tidak pernah kita bayangkan akan melahirkan bunga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *