• Thursday, 16 July 2026
  • Ngasiran
  • 0

Foto: Ngasiran

Kobaran api peleburan logam menyala di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya, Sunter, Jakarta Utara, Minggu (21/6/2026). Ribuan umat Buddha menyaksikan satu per satu logam persembahan dilebur menjadi bagian dari Rupang Buddha Nusantara. Pengecoran bagian kepala menjadi penanda berakhirnya seluruh proses pengecoran, sekaligus menjadi salah satu rangkaian penting dalam peringatan Tahun Kencana 50 Tahun Saṅgha Theravāda Indonesia.

Di balik proses teknis pengecoran tersebut, Kepala Saṅgha Theravāda Indonesia, Bhante Sri Paññāvaro Mahāthera, mengajak umat memahami makna spiritual sebuah rupang Buddha. Menurutnya, rupang Buddha bukan sekadar karya seni ataupun benda penghormatan, melainkan sarana untuk membangkitkan keyakinan dan mengingat kualitas luhur para Buddha.

“Rupang Buddha dibuat oleh umat Buddha untuk mengokohkan saddhā, keyakinan, melalui perenungan yang benar kepada Guru Agung kita, Buddha Gotama. Akan tetapi, kebuddhaan itu bersifat universal,” ujar Bhante Sri Paññāvaro.

Bhante menjelaskan bahwa ketika seorang umat mengucapkan Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa di hadapan rupang Buddha, yang dikenang bukan hanya Buddha Gotama, melainkan seluruh Sammāsambuddha. Kebuddhaan, menurutnya, bersifat universal, demikian pula Dhamma yang diajarkan oleh para Buddha.

“Setiap umat Buddha kalau bertemu dengan rupang Buddha tidak pernah bertanya, ‘Ini Buddha siapa?’ Buddha Gotama, Buddha Kassapa, atau Buddha yang lain. Tidak. Karena kebuddhaan itu universal. Dhamma yang diajarkan oleh para Sammāsambuddha juga universal,” jelasnya.

Untuk menggambarkan bagaimana sebuah rupang Buddha mampu menumbuhkan keyakinan, Bhante mengisahkan pengalaman seorang wisatawan asal Rusia yang sebelumnya sama sekali tidak mengenal agama Buddha. Saat berkunjung ke Sri Lanka, perempuan tersebut melihat sebuah rupang Buddha kuno dengan mata yang terbuat dari batu safir biru.

Tanpa mendengar ceramah Dhamma ataupun membaca kitab suci, muncul rasa ingin tahu dalam dirinya tentang sosok yang begitu dihormati masyarakat Sri Lanka. Rasa ingin tahu itu kemudian berkembang menjadi keyakinan dan mendorongnya mempelajari ajaran Buddha.

“Tidak perlu uraian Dhamma yang panjang, tidak perlu membaca literatur yang tebal. Hanya melihat rupang Buddha, timbullah keyakinan. Itulah manfaat rupang Buddha,” kata Bhante.

Bhante juga mengingatkan kisah Sudatta Anāthapiṇḍika, saudagar besar dari Sāvatthī, yang pertama kali tersentuh hanya karena mendengar satu kata: ‘Buddha’. Malam itu ia tidak dapat memejamkan mata karena dipenuhi rasa ingin tahu, lalu sebelum fajar berangkat menemui Sang Buddha di Veluvana.

“Hanya mendengar satu kata ‘Buddha’, timbullah keyakinan. Demikian juga hanya dengan melihat rupang Buddha, keyakinan bisa tumbuh,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, Bhante mengajak umat memandang persembahan logam bukan dari besar kecilnya nilai material, melainkan dari ketulusan hati. Menurutnya, siapa pun yang mempersembahkan sebutir logam telah menjadi bagian dari sejarah pembangunan Rupang Buddha Nusantara.

“Tidak harus memberikan logam yang besar. Cukup sebutir logam yang kecil, Anda sudah ikut membuat Rupang Buddha. Anda sudah ikut membuat sejarah.”

Bhante kemudian menceritakan seorang umat yang mempersembahkan cincin pernikahan milik almarhum suaminya agar dilebur menjadi bagian dari Rupang Buddha Nusantara. Baginya, tindakan tersebut merupakan latihan melepaskan keterikatan sekaligus mempersembahkan kebajikan yang akan terus memberikan manfaat bagi banyak orang.

Menurut Bhante, kebajikan para pendana tidak berhenti ketika logam itu selesai dilebur. Selama rupang Buddha tersebut masih menginspirasi orang untuk menumbuhkan keyakinan, kebajikan itu akan terus berbuah.

“Semoga rupang ini bertahan ribuan tahun. Kebajikan Anda akan terus bertambah ketika jutaan umat memberikan penghormatan dan timbul keyakinan karena Rupang Buddha Nusantara yang Anda ikut bangun.”

Lebih jauh, Bhante menjelaskan bahwa Rupang Buddha Nusantara menggunakan Bhūmisparśa Mudrā, yaitu sikap tangan kanan menyentuh bumi sebagai saksi. Di Thailand, mudra ini lebih dikenal sebagai Māravijaya, lambang kemenangan Sang Buddha atas Māra.

Kemenangan tersebut, jelas Bhante, bukanlah kemenangan di medan peperangan, melainkan kemenangan atas lima penghalang batin, yaitu Maccu Māra (kematian), Kilesa Māra (kekotoran batin), Abhisaṅkhāra Māra (bentukan karma), Khandha Māra (lima kelompok kehidupan), dan Devaputta Māra.

Menutup Dhammadesananya, Bhante mengajak umat menjadikan pembangunan Rupang Buddha Nusantara bukan sekadar membangun sebuah arca, tetapi juga membangun kualitas batin agar mampu memberi manfaat bagi sesama.

“Marilah kita meneladani Guru Agung kita. Bersihkan kekotoran batin dengan menapaki Jalan Mulia. Dengan batin yang semakin bersih, kita dapat memberikan pengabdian kepada keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Bukan menarik orang lain menjadi umat Buddha, tetapi memberikan teladan dalam kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian kepada siapa pun yang menderita.”

Pengecoran Rupang Buddha Nusantara menjadi lebih dari sekadar proses membentuk logam. Ribuan persembahan dari umat dilebur menjadi satu warisan Dhamma yang diharapkan mampu menumbuhkan keyakinan, menginspirasi praktik kebajikan, dan menjadi pengingat akan kebijaksanaan, kesucian, serta kasih sayang para Buddha bagi generasi-generasi yang akan datang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *