Oleh: Ngasiran
Foto: Ngasiran dan Hong Djie
Semangat kebersamaan dan tekad melestarikan Buddhadhamma terasa kuat di Vihara Karuna Dipa, Palu, Sulawesi Tengah, saat umat Buddha dari berbagai daerah berkumpul dalam Upacara Pengecoran Keempat bagian Rupang Buddha Nusantara, Minggu (12/4/2026). Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam rangkaian peringatan Tahun Kencana Setengah Abad Saṅgha Theravāda Indonesia (STI).
Rupang Buddha Nusantara ini mengambil prototipe dari rupang Buddha yang ditemukan di Candi Sewu, dengan postur Bhumisparsa Mudra—sikap tangan yang menyentuh bumi sebagai saksi. Gestur ini menggambarkan momen ketika Sang Buddha menjadikan bumi sebagai saksi atas kebajikan yang telah Ia kumpulkan sepanjang perjalanan spiritual-Nya.
Sebagaimana dijelaskan Bhante Atthadiro, Ketua Nasional Pengecoran Rupang Buddha Nusantara, makna mudra ini mengandung pesan moral yang mendalam:
“Walaupun kita berbuat baik tidak ada yang mencatat, tidak ada yang melihat, tetapi bumi ini menjadi saksi. Setiap kebajikan yang kita lakukan sesungguhnya adalah keberkahan bagi diri kita sendiri. Karena itu, selama masih memiliki kesempatan hidup sebagai manusia, jangan sampai tidak menabung kebajikan, karena kalau tidak, yang tersisa hanyalah penyesalan.”
Acara ini dihadiri oleh para Bhikkhu Saṅgha, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI, serta tokoh-tokoh agama dan umat Buddha dari berbagai daerah. Umat hadir dari berbagai wilayah di Sulawesi—mulai dari Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, hingga Gorontalo. Selain itu, tampak pula perwakilan dari Jakarta, Surabaya, Medan, dan Samarinda yang turut memberikan dukungan.
Kehadiran lintas daerah ini menegaskan bahwa peristiwa ini bukan hanya milik satu wilayah, melainkan menjadi bagian dari semangat kebersamaan umat Buddha Indonesia.
Mengukir Kehidupan dan Menguatkan Kebersamaan

Bhante Dhammasubho Mahathera yang memimpin langsung upacara pengecoran di Palu membuka pesan Dhammanya dengan mengenang kedekatannya dengan tanah Sulawesi. Bhante mengungkapkan bahwa wilayah ini bukan tempat yang asing, melainkan bagian dari perjalanan panjang pembinaan umat sejak puluhan tahun lalu.
Bhante mengingat bagaimana pada era 1980-an pertama kali menginjakkan kaki di Sulawesi, ketika kondisi masih sangat terbatas—akses jalan belum memadai dan vihara belum berkembang seperti sekarang. Saat itu, Bhante keliling dari desa ke desa, bahkan hingga ke pedalaman, untuk menyapa umat sekaligus merintis pembinaan. Kini, melihat berdirinya Vihara Karuna Dipa yang megah dan menjadi lokasi pengecoran Rupang Buddha Nusantara, Bhante merasakan seolah kembali ke “rumah lama”, dengan ikatan batin yang kuat antara dirinya, umat, dan tanah Sulawesi.
Karena itu, Bhante Dhammasubho mengajak umat merenungkan makna mendalam dari proses pengecoran rupang Buddha. Ia mengibaratkan kehidupan sebagai proses mengukir—yang hasilnya ditentukan oleh kualitas niat dan usaha.
“Hidup itu seperti mengukir. Indah atau tidak, tergantung senimannya. Karya yang kita buat hari ini bisa bertahan jauh lebih lama dari waktu kita membuatnya.”
Pesan ini menjadi pengingat bahwa setiap kebajikan yang dilakukan dengan niat kuat (adhitthana) akan meninggalkan jejak yang panjang, bahkan melampaui usia manusia itu sendiri. Bhante juga menekankan pentingnya kesungguhan dalam berdoa dan berbuat baik.
“Kalau melakukan sesuatu setengah hati, hasilnya juga setengah. Karena itu, lakukan dengan penuh energi dan keyakinan.”

Bhante Candakaro Mahathera, tuan rumah sekaligus ketua panitia Pengeciran Rupang Buddha Nusantara di Palu menyampaikan rasa syukur atas kesempatan langka yang dipercayakan kepada Vihara Karuna Dipa. Dengan penuh semangat, ia mengisahkan bagaimana kesiapan vihara langsung disambut dengan tekad untuk menyukseskan acara ini.
“Bagaikan api menyambar bensin—begitu cepatnya respons kami. Ini momen bersejarah yang tidak boleh dilewatkan.”
Lebih dari sekadar proses teknis, ia menegaskan bahwa pengecoran ini adalah simbol kebulatan tekad umat dalam melestarikan Dhamma di bumi Nusantara.
Ketua Umum Saṅgha Theravāda Indonesia, Bhante Sri Subhapanyo Mahathera, mengapresiasi sinergi antara panitia pusat dan daerah. Menuru Bhante, keberhasilan acara ini menunjukkan kuatnya semangat kebersamaan umat.
“Kehadiran Bapak/Ibu semua adalah wujud nyata praktik Dhamma. Dari kebersamaan ini, kita menghadirkan manfaat dan menanam berkah.”
Ia juga menekankan bahwa praktik Dhamma tidak berhenti pada seremoni, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketahanan Umat dan Warisan Abadi Dhamma

Direktur Jenderal Bimas Buddha Kementerian Agama RI, Supriyadi, turut menyampaikan apresiasi atas ketekunan umat Buddha di Sulawesi. Ia menyoroti nilai kesabaran yang tampak sepanjang acara.
“Sabar itu hari ini menjadi sesuatu yang langka dan mahal. Tapi umat di sini mampu menunjukkan itu.”
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya ketahanan keluarga sebagai fondasi keberlangsungan ajaran Buddha.
“Jagalah keluarga. Dari keluarga yang kuat, Dhamma akan terus hidup.”
Puncak acara ditandai dengan prosesi penuangan logam cair ke dalam cetakan rupang, dipimpin langsung oleh para Bhikkhu Saṅgha dan diikuti oleh para undangan. Momen ini menjadi simbol bersatunya niat, keyakinan, dan kebersamaan umat.
Rupang Buddha Nusantara yang tengah diproses ini nantinya akan disatukan dan ditampilkan dalam puncak perayaan Tahun Kencana STI di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD pada Desember 2026 mendatang.
Lebih dari sekadar karya seni, rupang ini adalah warisan spiritual—jejak zaman yang mengandung doa, harapan, dan tekad umat Buddha Indonesia untuk terus menjaga cahaya Dhamma tetap bersinar lintas generasi.













































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































