• Tuesday, 10 March 2026
  • Ngasiran
  • 0

Foto: Ngasiran

Vihara Buddha Sakyamuni didekorasi indah pada Minggu, 8 Maret 2026. Bunga-bunga ditata rapi, janur kuning serta bendera Buddhis menghiasi setiap sudut vihara. Hari itu, salah satu vihara terbesar di Pulau Dewata ini dipilih menjadi tempat pengecoran bagian tubuh Rupang Buddha Nusantara Setengah Abad Tahun Kencana Sangha Theravada Indonesia.

Vihara Buddha Sakyamuni menjadi vihara ketiga yang dipilih sebagai tempat pengecoran, mewakili Pulau Bali. Sebelumnya, pengecoran rupang Buddha monumental ini telah dilaksanakan di Vihara Mahasampatti, Medan, serta Vihara Muladharma, Samarinda, yang mewakili Pulau Kalimantan.

Sejak tengah hari, umat Buddha mulai berdatangan memenuhi area vihara. Menurut Ketua Panitia Pengecoran Rupang Buddha Nusantara Bali, Bhante Pabbajayo, sedikitnya 1.230 umat Buddha hadir dalam acara ini. Wajah-wajah bahagia tampak dari umat yang datang tidak hanya dari Bali, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia.

“Kehadiran para bhikkhu dalam jumlah besar hari ini—sebanyak 47 bhikkhu—merupakan sebuah keberkahan yang luar biasa bagi kami di Bali. Begitu pula dengan kehadiran umat dari berbagai daerah seperti Jakarta, Medan, Surabaya, hingga Lombok, yang turut menyemarakkan pengecoran ini,” tutur Bhante Pabbajayo.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan adhiṭṭhāna persembahan logam sebagai bahan pembuatan rupang. Dengan penuh khidmat, umat membacakan tekad sambil memegang logam yang akan dipersembahkan. Setelah pembacaan tekad selesai, logam tersebut diserahkan kepada bhikkhu saṅgha, kemudian umat menerima pemercikan tirta paritta sebagai tanda pemberkahan.

Kegiatan ini juga dirangkai dengan Puja Bakti Magha Puja, yang memperingati peristiwa berkumpulnya 1.250 bhikkhu arahat murid Sang Buddha secara spontan di hadapan Beliau di Veluvana, Rājagaha. Para bhikkhu tersebut datang tanpa undangan, semuanya telah mencapai tingkat kesucian arahat, dan ditahbiskan langsung oleh Sang Buddha. Pada kesempatan itu, Sang Buddha menyampaikan ringkasan ajaran para Buddha yang dikenal sebagai Ovāda Pātimokkha.

Puja bakti diawali dengan persembahan puja ke altar Buddha. Remaja dan pemuda Buddhis Bali mengenakan pakaian adat Bali. Dengan membawa dupa, lilin, bunga, buah, dan air, mereka berjalan perlahan diiringi alunan gamelan Bali, mempersembahkan puja dengan penuh rasa bakti.

Pada puja bakti tersebut, Bhante Jotidhammo Mahathera menyampaikan pesan Dhamma kepada umat. Dalam ceramahnya, Bhante menekankan ringkasan ajaran para Buddha.

“Inti ajaran para Buddha adalah tidak melakukan kejahatan, menambah kebajikan, dan menyucikan pikiran. Prinsip untuk tidak berbuat jahat berangkat dari empati: jangan melakukan kepada orang lain apa yang kita sendiri tidak ingin orang lain lakukan kepada kita,” ujar Bhante Jotidhammo.

Bhante juga menjelaskan bahwa kebajikan tidak hanya diwujudkan melalui ritual, tetapi juga melalui pelaksanaan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

“Kebajikan bukan hanya soal melakukan upacara atau ritual, tetapi bagaimana kita menjalankan peran dan tanggung jawab kita dengan sebaik-baiknya, baik di dalam keluarga maupun dalam masyarakat,” jelasnya.

Lebih lanjut, Bhante Jotidhammo menekankan pentingnya memahami Hukum Karma sebagai landasan dalam mempraktikkan ajaran Buddha.

“Kita adalah pemilik dari karma kita. Apa pun yang kita lakukan, baik atau buruk, itulah yang akan kita warisi. Karena itu, renungkanlah hal ini setiap hari agar pikiran, ucapan, dan perbuatan kita selalu berada di jalan yang benar,” pesan Bhante.

Selesai puja bakti, acara dilanjutkan dengan pengecoran Rupang Buddha Nusantara. Logam dana dari umat terlebih dahulu dilebur di dalam tungku sebagai bahan utama pembuatan rupang. Setelah logam mencair, bahan tersebut kemudian dituangkan ke dalam cetakan yang telah dipersiapkan.

Proses pengecoran dipimpin oleh Sugito Sutarmin, seniman asal Pati yang mendapat kepercayaan mengerjakan Rupang Buddha Nusantara ini. Selama pengecoran berlangsung, bhikkhu saṅgha membacakan paritta-paritta suci sebagai pemberkahan. Di bawah cahaya senja yang mulai meredup, suasana di area vihara terasa sakral dan khidmat.

Acara berlangsung hingga petang. Meski demikian, umat tetap bertahan menyaksikan setiap tahapan pengecoran hingga selesai dengan penuh perhatian dan rasa bakti.

Dalam laporannya, Bhante Pabbajayo juga menegaskan bahwa pengecoran Rupang Buddha Nusantara bukan sekadar proses membentuk arca Sang Buddha.

“Lebih dari sekadar membentuk rupa luar arca Sang Guru Agung, pengecoran ini adalah simbol dari upaya kita untuk mengukir sifat-sifat agung Buddha ke dalam relung batin yang terdalam. Semoga kelak dengan tegaknya rupang ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus menegakkan dan menghadirkan kedamaian serta keluhuran Dhamma di bumi Nusantara,” ujar Bhante Pabbajayo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *