• Friday, 6 March 2026
  • Ngasiran
  • 0

Foto: Sutta Anuyoga

Dunia spiritualitas Tibet menyimpan kedalaman filosofi yang tak lekang oleh waktu. Dalam sebuah kesempatan istimewa, Geshe Jampa Phelgya, seorang Bikkhu senior dari Biara Ganden (Ganden Monastery) di India Selatan, berbagi kisah perjalanan hidupnya dan esensi ajaran Buddha Vajrayana yang ia dalami selama puluhan tahun.

Geshe Jampa Phelgya memulai kehidupannya sebagai Bikkhu pada usia 19 tahun. Meski awalnya termotivasi oleh tradisi keluarga, dedikasinya membawa ia menempuh pendidikan monastik yang sangat ketat selama 23 tahun. Ia berhasil meraih gelar Geshe Lharampa, sebuah gelar akademik tertinggi dalam tradisi Buddhis Tibet yang setara dengan gelar Ph.D. di dunia pendidikan modern.

“Setelah memasuki biara, hal pertama yang harus dilakukan adalah menghafal teks-teks suci, baru kemudian mempelajari logika dan filosofi,” ungkap Geshe melalui penerjemahnya. Kini, di usia 60 tahun, ia terus aktif menyebarkan Dharma ke berbagai penjuru dunia.

Biara Ganden tempat Geshe bernaung merupakan salah satu dari tiga biara besar utama di Tibet (bersama Sera dan Drepung). Biara ini didirikan oleh Je Tsongkhapa, pendiri tradisi Gelugpa. Di India Selatan, Biara Ganden menjadi pusat pendidikan bagi sekitar 2.600 Bikkhu yang datang dari berbagai latar belakang tanpa memandang usia maupun ras.

Di biara ini, para murid mendapatkan fasilitas pendidikan, tempat tinggal, dan makanan secara gratis agar dapat fokus sepenuhnya pada studi filosofi seperti logika, Madhyamaka, dan Abhidharma.

Dalam wawancara tersebut, Geshe menjelaskan perbedaan mendasar antara tradisi Sutrayana dan Vajrayana. Ia menekankan bahwa Vajrayana menawarkan jalan yang lebih cepat menuju pencerahan, bahkan memungkinkan seseorang mencapai kebuddhaan dalam satu masa kehidupan. Namun, fondasi yang kuat dalam Sutrayana seperti pemahaman tentang Bodhicitta dan Kekosongan sangat mutlak diperlukan agar praktik Vajrayana tidak menyimpang.

Terkait hubungan dengan Indonesia, Geshe menyoroti sosok Atisha, guru besar India yang memiliki kaitan sejarah erat dengan Kerajaan Sriwijaya.

“Atisha pernah berada di sini, di Indonesia, dan melakukan interaksi besar dengan masyarakat saat itu. Melalui aspirasi dan doa-doa beliau, masyarakat Indonesia hari ini masih menerima berkah spiritual tersebut,” jelas Geshe.

Menghadapi tantangan dunia modern yang penuh tekanan, Geshe merekomendasikan ajaran dari Shantideva, khususnya mengenai toleransi dan konsentrasi. Ia mendorong umat untuk tidak hanya menerima ajaran berdasarkan keyakinan buta (faith), tetapi melalui proses investigasi dan analisis yang mendalam.

Wawancara ditutup dengan pemberian tali berkah (blessing string) yang telah diberkati oleh Yang Mulia Dalai Lama ke-14 dan ribuan Bikkhu di Biara Ganden sebagai simbol perlindungan dan cinta kasih.

Artikel ini ditulis: Ervina Silany Dhammayanti dan Dwi Lestari, Mahasiswa Magang di BuddhaZine

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *