• Saturday, 31 January 2026
  • Surahman Ana
  • 0

Foto: Dok. Panitia

Sekitar 5.000 umat Buddha dari berbagai tradisi berkumpul dalam acara spiritual akbar bertajuk “Indonesia for Peace & Prosperity” di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), Pantai Indah Kapuk 2, pada Minggu, 25 Januari 2026. Acara yang bertujuan mendoakan pemulihan ekonomi serta perdamaian bangsa ini menjadi momen bersejarah dengan kehadiran tiga pemegang tahta Silsilah Sakya dunia.

Perhelatan ini digelar di tengah tantangan ekonomi global dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang melanda sepanjang 2025. Umat dari tradisi Theravada, Mahayana, dan Vajrayana bersatu dalam doa bersama yang dipimpin langsung oleh H.H. Kyabgon Gongma Sakya Trichen Rinpoche ke-41 (81 tahun), H.H. Sakya Trizin ke-42 Ratna Vajra Rinpoche, dan H.H. Sakya Trizin ke-43 Gyana Vajra Rinpoche.

Dalam sambutannya, H.H. Kyabgon Gongma Sakya Trichen Rinpoche ke-41 menekankan pentingnya peran spiritual Indonesia. “Indonesia adalah negara besar dan terutama secara spiritual, Indonesia adalah tempat yang sangat penting. Melalui acara ini, semoga seluruh dunia akan memperoleh kedamaian, harmoni, dan kebahagiaan,” ujarnya.

Pesan serupa disampaikan H.H. Sakya Trizin ke-42 Ratna Vajra Rinpoche yang mengajak praktik kasih sayang. “Hendaknya kita juga mempraktikkan cinta dan belas kasih, memiliki hati yang baik kepada orang lain. Dengan cara ini, kita akan mampu mewujudkan perdamaian, harmoni, dan kebahagiaan,” ungkapnya.

Sementara itu, H.H. Sakya Trizin ke-43 Gyana Vajra Rinpoche menyoroti kekuatan keragaman Indonesia. “‘Indonesia for Peace & Prosperity’ menggambarkan pemahaman bahwa harmoni tercipta ketika keragaman bertemu dengan kebijaksanaan. Keanekaragaman menjadi sumber kekuatan dan kesejahteraan bersama,” jelasnya.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI, Supriyadi, menyatakan bahwa momen doa bersama menjadi sarana refleksi di tengah zaman yang kompleks. Menurutnya, acara ini menumbuhkan kesadaran akan hukum ketidakkekalan dan sebab-akibat.

Ia juga menyebutkan bahwa Dirjen Bimas Buddha saat ini fokus pada kurikulum pendidikan yang penuh kepedulian serta menyuarakan gerakan ekogeologi sebagai wujud praktik spiritual. “Oleh karena itu, saya menitipkan pesan penting, yaitu aktualisasikan doa. Jangan hanya berhenti di sini, tetapi bawalah semangat ini ke dalam masyarakat. Teladanilah sifat welas asih, jangan membeda-bedakan, dan jagalah gaya hidup ramah lingkungan sebagai bentuk rasa syukur hidup di bumi Nusantara,” pesan Supriyadi.

Manajemen NICE mengungkapkan kebanggaannya dapat memfasilitasi kegiatan yang memperkuat harmoni antaragama dan budaya ini. Diharapkan, doa bersama ini dapat berkontribusi pada stabilitas nasional dan menanamkan benih perdamaian di hati masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *